Pameran Tunggal RB Ali “Tembang Sunyi”

oleh -804 views
Foto ilustrasi: Pameran Tunggal RB Ali “Tembang Sunyi” (gni)

INI bukan kampanye politik praktis meskipun ada sejumlah tokoh yang sangat diperhitungkan di dalam kalkulasi politik. Dua di antara mereka adalah Ibu Risma pemimpin daerah Surabaya dan Ahok (Basuki Tjahaja Purnama), Gubernur DKI Jakarta. Kedua tokoh populer tersebut tampil di dalam lukisan potret. Rasa hormat dan kekaguman sang perupa, RB Ali, membuatnya bersemangat melukis mereka di dalam dua kanvas besar untuk pameran tunggalnya yang bertajuk “Tembang Sunyi” ini di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 3-20 Juni 2016.

Foto ilustrasi: Pameran Tunggal RB Ali “Tembang Sunyi” (gni)
Foto ilustrasi: Pameran Tunggal RB Ali
“Tembang Sunyi” (gni)

Ia menyuguhkan pula lima tokoh lain yang masih menyita perhatian masyarakat. Empat di antaranya adalah tokoh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yaitu Abraham Samad, Bambang Widjajanto, Antasari Azhar, dan Novel Baswedan. Seorang lagi adalah Munir, tokoh pejuang HAM yang tewas diracun di dalam perjalanan udara ke Negeri Belanda, tempat ia akan melanjutkan pendidikannya.

Menghadirkan ke-7 tokoh ini merupakan pemenuhan obsesi sang perupa. Kanvasnya sekaligus berperan sebagai media dokumentasi sosial, mencatat peristiwa penting di dalam sejarah kontemporer Indonesia. RB Ali mengaku melukis Risma dan Ahok bukanlah untuk merayakan politik praktis. Ia mewujudkan respon kebudayaan atas berbagai gejala perubahan di dalam masyarakat yang tersimpul pada kiprah para pemimpin wilayah ini. Keduanya membawa perubahan yang cukup besar dan mendasar, selain perubahan fisik juga perbaikan yang tidak kasat mata berupa lebih bagusnya pelayanan atas kebutuhan warga masyarakat.

Bagi RB Ali ini saat yang tepat untuk menampilkan karya-karya potret tokoh publik tersebut ke tengah masyarakat di dalam pameran tunggalnya. Ia percaya akan adanya semacam pola waktu atau siklus “muncul-tenar-redup” yang menimpa semua orang. Karena itu di samping soal “seni” ia juga merasakan kebutuhan untuk merekam dan mencatat gejala sosial budaya yang menarik ini. Membaca nama-nama tersebut akan memantik ingatan atas berbagai peristiwa yang terkait dengan mereka, dan semuanya adalah tentang “kebenaran”.

Lukisan potret di dalam perjalanan kesenian RB Ali boleh dilihat sebagai semacam “penyimpangan” dari apa yang selama ini (kita duga) merupakan arus utama penciptaannya.  Puluhan karya-karya RB Ali sebelumnya banyak bergelut dengan aspek-aspek formal perupaan. Penampilan bersama dari kedua jenis karya tersebut menunjukkan bahwa gaya, kecenderungan, teknik, dan lain-lainnya hanyalah alat, yang dipakai sesuai kebutuhan. Semua itu tidak mengungkungnya.

Untuk pameran ini ia menyiapkan 12 karya yang masuk di dalam “arus utama penciptaannya” itu. Semua berisi figur perempuan yang terkesan sensual, yang digarap sebagai bagian integral dari penggarapan bidang warna dan garis-garis yang cenderung geometrik, dan dekoratif serta di sana sini kubistik. Selain itu dihadirkan sebuah lukisan ekstra besar di dalam empat panel yang total berukuran 275 x 580 cm berjudul “Bisu”. Lukisan itu dirancang oleh RB Ali dan eksekusinya dilakukan bersama teman-temannya kelompok Palang Pintu. Isinya karikatur kehidupan masyarakat saat ini yang saling tidak mendengar.

Hal itu tentu terkait dengan tajuk pameran “Tembang Sunyi”. Perhatikan paradoks yang terkandung di dalam paduan dua kata tersebut. Tembang selalu berasosiasi dengan bunyi, sedangkan sunyi mengandaikan nir-suara. Bagaimana kalau sebuah tembang tanpa suara? Mungkinkah sebuah tembang menjadi tembang kalau tidak (boleh) ada suara yang terdengar? Akan lebih banyak lagi pertanyaan dan renungan yang bisa diperoleh lewat menonton pameran ini.

RB Ali adalah perupa kelahiran Lampung 25 Agustus 1975 yang pameran tunggal pertamanya “Memelihara Hasrat” berlangsung di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki Jakarta tahun 2012. “Tembang Sunyi” merupakan pameran tunggalnya yang keenam. (gni/gr)