Kirab Budaya Memukau Warga Berau

  • Whatsapp
Foto: Budaya adat Berau (ist)

Warga Berau pun terpesona menyaksikan Kirab Budaya yang digelar kali pertama disana

TANJUNG REDEB – Sejak pagi hari, Sabtu (10/9/2016), ratusan peserta pawai kirab budaya telah memadati halaman Kantor Bupati . Warna warni pakaian dan bermacam-macam hiasan mobil turut memadati.

Muat Lebih

Bukan hanya masyarakat perkotaan, namun beberapa pemerintah kampung ikut hadir dalam meramaikan kirab budaya dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Berau ke-63 dan Kota Tanjung Redeb ke-206.

Dari ratusan peserta yang hadir dalam kirab budaya yang dilaksanakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau itu, kehadiran parade kostum menjadi yang paling menarik mata para pengujung dan peserta lainya.

Bahkan parade kostum yang baru kali pertama digelar tak hanya diikuti dari Berau saja, sejumlah peserta dari Provinsi Kalimantan Utara, Kutai Kartanegara hingga 2 orang perwakilan dari Solo Jawa Tengah turut meramaikan kirab budaya.

“Persiapanya sekitar satu minggu saja ini. Kita sebelumnya memang sering ikut parade kostum begini di Solo. Konsep yang saya bawa ini kostum Candi Prambanan,” ungkap Sintia peserta asal Solo kepada gapuranews.com, Sabtu (10/9/2016).

Kehadiran para peserta parade kostum dalam kirab budaya ini pun menjadi serbuan masyarakat Berau yang telah menunggu sejak pagi hari, tak jarang meskipun para peserta masih melakukan pertunjukan di hadapan tamu undangan, banyak warga yang sudah menyerbu untuk berfoto bersama.

“Ini momen langka mas, dan baru pertama kali ada di Berau. Jadi kita mau foto bareng, buat kenang-kenangan. Peserta parade kostumnya ini banyak, saya mau foto sama semuanya,” ungkap Serli salah satu penonton.

Pawai budaya yang di buka Bupati Berau, Muharram dan disaksikan pejabat pemerintah Berau tersebut, selain diikuti parade kostum, juga menghadirkan sejumlah kebudayaan lain yang ada di Berau.

Dalam sabutan singkatnya, Muharram meminta momen kirab budaya ini diharapkan mampu menjadi sarana untuk saling kenal dan melestarikan budaya lokal sebagai jati diri bangsa.

“Saya harap pelestarian budaya lokal, baik asli Berau maupun suku yang lain akan tetap ada. Jangan sampai budaya kita luntur dan semakin hilang,” tutupnya singkat. (biro kaltim/gr)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *