Galeri Nasional Indonesia Gelar Seni Keramik Kontemporer 7 Desember 2016

  • Whatsapp
Foto: Kramik Karya Geng Xue. (ist)

Melalui tema “Ways of Clay: Perspectives Toward the Future”, JCCB akan menafsirkan sejarah sebagai perspektif dalam memahami praktik seni keramik ke depan

JAKARTA – Galeri Nasional Indonesia (GNI) menggelar seni keramik kontemporer dua tahunan (biennale) atau disebut dengan Jakarta Contemporary Ceramics Biennale (JCCB-4). Sedikitnya 42 seniman yang berasal dari 23 negara akan berpartisipasi memajang karya di pameran terbesar di Asia Tenggara yang akan dilaksanakan pada 7 Desember 2016 – 22 Januari 2017.

Muat Lebih

The 4th Jakarta Contemporary Ceramics Biennale (JCCB-4) merupakan program kegiatan hasil kerjasama Galeri Nasional Indonesia dan Jakarta Contemporary Ceramics Biennale (JCCB) yang akan kembali digelar pada 7 Desember 2016 – 22 Januari 2017. Menampilkan karya-karya dari 41 seniman yang berasal dari 20 lebih negara, JCCB-4 merupakan perhelatan seni keramik kontemporer dua tahunan (biennale) yang terbesar di Asia Tenggara.

Melalui tema “Ways of Clay: Perspectives Toward the Future”, JCCB akan menafsirkan sejarah sebagai perspektif dalam memahami praktik seni keramik ke depan. Sejarah dalam konteks JCCB-4 bukan hanya sejarah seni keramik sebagai sebuah disiplin, melainkan dipahami juga sebagai sejarah penggunaan material lempung dan media keramik dalam praktik seni rupa. Dengan kata lain, lempung dan keramik dipisahkan terlebih dahulu dari beban kategoris dirinya.

Kenyataan historis menunjukkan penggunaan material lempung dan media keramik tidak bisa dibatasi oleh pengelompokan kategoris objek estetik yang dibentuk pada masa seni modern. Bahkan, hingga kini lempung dan keramik selalu menarik perhatian perupa dari berbagai latar belakang. Warisan sejarah inilah yang menjadi premis JCCB untuk selalu melibatkan peserta dari latar belakang bukan pekeramik.

“Ways of Clay: Perspectives Toward the Future” hendak memahami hubungan antara gagasan seniman dan cara ekspresi, di mana perspektif terhadap material dan media memengaruhi proses kreasi serta apresiasi sebuah praktik seni.

“Status” merupakan gambaran kondisi dan keadaan praktik seni keramik, namun serta merta mengandung pengertian politis ketika dihadapkan dalam lingkup sejarah, teori, dan wacana seni rupa. Menariknya, praktik seni keramik sejak awal mengandung aspek paradoks dalam berbagai level pemahaman sebagai material, media, dan objek.

Seperti ephemeral-permanen antara lempung-keramik; rural-kosmopolit antara kerajinan keramik dan desain keramik; atau ekslusifitas-massal antara karya kriya dan produk pabrik. Paradoks inilah yang menyebabkan praktik seni keramik selalu berada dalam kondisi yang tidak stabil, namun juga fleksibel dan mengandung mobilitas. Secara kontinum, perubahan dan paradoks tersebut telah menjadi bagian dari kesadaran seniman keramik hingga hari ini. Menariknya, justru sifat paradoks ini yang menyebabkan praktik seni keramik bertahan dan menjadi bagian dari zeitgeist seni itu sendiri. (rl/gr)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *