Ronggeng Melayu Yang Tak Mau Menyerah!

oleh -88 views

Oleh. Tatan Daniel

Sampar, tak boleh membuat kreatifitas menjadi tembalang. Amsal sebutir telur, ia mestinya bisa menjadi telur mata sapi. Yang sedap dan bergizi. Atau menetas, menjadi sesuatu yang baru. Laiknya air, kreatifitas pun tak boleh pula tumpat. Ia harus terus mengalir.

Bagai jerebu, sampar yang meruyak ini memang membuat waswas. Sampai kapankah berakhir? Tak ada yang mampu menujum. Tampaknya, tak sekedar sepenanak nasi. Kita tak boleh mapas. Banyak uncang sudah terkuras. Tak ada yang berani membangun pentas, bikin festival ini-itu, seperti dulu

Membesarkan hati, di tengah risau galau ini, Komunitas Ronggeng Deli di Jakarta, serta Kumpulan Pak Pong Medan dan Kumpulan Lebah Begantong, di Medan, dan Ronggeng Paklang Pakpunglangkat di Stabat, Langkat, tampak terus menjemput semangat. Menggeliat, dengan gairah yang telah teruji berzaman-zaman, bahkan jauh sebelum wabah ini menyerbu. Meski nafsi-nafsi, tanpa pelindung, tanpa panggung. Bertandang, mendentungkan gendang ke kampung-kampung, ke Tebing, ke Percut, ke Bohorok, ke Hamparan Perak. Seperti mengabarkan maklumat. Menyatukan jurus pula, membuat bermacam tampilan yang keren, di jejaring maya. Subhanallah!

Di tengah tekanan yang mendera, ia sungguh terlihat sebagai kesenian rakyat yang liat. Yang tak ingin ditebas begitu saja. Tak goyah. Tak getas, dan tak rapuh. Tak ingin terjerembab remuk lebam.

Mereka melonggarkan simpai. Tak ingin hanya duduk mencangkung, bersandar pada nasib. Sambil bersungut sehari suntuk. Karena banyak hal mustahak menunggu dilakukan. Hatta, mereka kini justru mulai menghempakkan perlawanan, membuka katup-katup. Melumas jeriji yang berkarat, menggerakkan jentera. Memasang lukah. Memancang jejaring. Tidak di Selat Melaka, tapi di lautan virtual yang maha luas.

Ya, kreatifitas itu semacam rasa yang menggerenyam. Yang selalu minta digaruk. Makin digaruk, makin sedap. Lalu tak henti bergerak.

Bagaimana pun, tudung saji sudah hanyut terapung. Tudung periuk pun hampir sudah tak menari lagi. Maka, bila tak ada lagi nasi, apa pun bisa saja diratah. Yang basi dibikin jadi tempoyak. Cabai dan betik muda dibuat jadi halua. Daun maman dibikin jadi pekasam. Kemangi, kenikir, dan temu pauh menjadi ulam.

Pukau dan pitunang kesenian ronggeng Melayu, kesenian tradisi yang kaya petuah dan resam, yang selalu riang dan sarat gurau itu, layaklah dihidupkan dengan jampi-jampi yang baru, yang kontekstual.

Memang, dalam situasi ini, mau tak mau, semangat harus ditakik, ditoreh. Mungkin terasa agak perih. Karena urat darah harus berjalan lancar. Agar tidak menjadi nyanyuk sebelum waktunya. Supaya tak kian teruk digiling dan ditindas situasi. Bersama-sama menanam rumpun jeriangau, untuk penangkal jembalang dan anggau.

Mereka, para seniman tradisi Melayu itu tak ingin kreatifitas mereka dilumat. Tak sudi dibidas tekanan. Tak mau tergelincir ke pelimbahan fatalis.
Sebenarnya, jika mau direnungkan sikit, sampar ini juga mendedahkan momen yang baik. Momen rangsangan. Momen untuk meninggalkan cangkang, zona nyaman. Mencabut tungau dan kutu ‘konservatif’ yang selama ini bersarang dalam pikiran. Momen yang mencabar, supaya kesenian cerdas ini tak berlumur cendawan dan menjadi kesenian usang. Ia memaksa kita bersiasah. Tidak tengkar.
Karena itu, momen ini tak boleh dibiarkan lucut. Benar, di satu sisi terasa berat, tapi jangan pula dianggap sebagai tulah. Ada berkah dan hikmah yang bisa dicermati. Bak kata orang, ada ‘blessing in disguise-nya. Ia tanah gembur yang mengandung hara dan humus. Ia peluang subur untuk meretas batas geografi, demografi, dan tembok-tembok kultural. Tak macam panggung perhelatan perkawinan, yang bersifat penghiburan semata, sekedar bunyi-bunyi di keramaian tetamu, sesaat saja, di sebuah tempat. Habis tu, hilang tak tercatat.

Jadi, di tengah momen sampar ini, para seniman tradisi jangan mau hanya beroleh ampas. Ia harus canggih, shopisticated. Menemukan penawar yang mustajab. Agar beban langsai satu-satu, sepikul demi sepikul. Kepiawaian seniman Melayu yang bukan kepalang, harus bisa bersabung dengan kepiawaian dunia. Meracik rencah dan segala bumbu dengan cergas. Menjerangkan adonan, sampai mendidih. Dan siap disantap siapa saja, terlebih dengan kekayaan modal kultur ‘lingua franca’-nya, yang bisa lincah menerabas ke mana-mana. Dari Tamiang sampai Raja Ampat.
Tuah yang terlonggok, mestinya benar-benar signifikan menguatkan. Sebagai kayu bakar di tungku penciptaan. Itulah yang belakangan ini tampak dari gerakan para seniman Melayu itu. Mulai ligat membaca zaman. Tak ingin buah yang ranum, yang ditawarkan oleh peliknya situasi ini, malah habis dimakan keluang. Atau, letoy termangu dalam kebuntuan, tiba-tiba tewas, tanpa sadar. Mirip katak dalam panci suam-suam kuku. Berasa selesa, nyaman, atau tak berdaya. Tanpa sadar, telah mati direbus perlahan-lahan. Jika ini terjadi, maka bak kata orang kampung: “Kanjal kita!”

Tatan Daniel

Tabik saya untuk kawan-kawan di Jakarta, Medan, Stabat, Batangkuis, Kualanamu, Tanjung Balai, di mana saja. Yang terus bergiat, meski harus berputih tulang, mempertahankan marwah dan pilihan. Semoga, situasi sampar ini membuat Tuan dan Puan hidup, menjadi pokok ketapang besar, yang rimbun, teduh, dan kuat! Tak runtuh dibantai badai! (***)