Rindu Tersimpan di Lembah Harau (3)

  • Whatsapp
Foto ilustrasi: Lembah Harau Sarasah Bunta (jauharoh.wordpress.com)

 Sarasah Bunta pilihan paling nyaman menceburkan diri karena airnya paling jernih di antara air terjun lainnya

Oleh Kirana Kejora

Muat Lebih

Kawasan Sarasah Bunta

Tempat indah yang begitu mudah dikunjungi. Jarak yang saling berdekatan antara satu titik dengan titik lainnya, dataran rendah, berada di lembah, kasat  mata pun bisa melihatnya dengan mudah.  Resort Sarasah Bunta terletak disebelah timur Akar Berayun, memiliki empat air terjun, yaitu Sarasah Aie Luluih, Sarasah Bunta, Sarasah Murai dan Sarasah Aie Angek dengan telaga indah. Kawasan Sarasah Bunta menyajikan pemandangan yang lebih natural dengan air terjunnya yang berkelok gemulai, meyentuh batu-batu cadas di bawahnya.

Lahan parkir yang luas berada tak jauh dari Aie Luluih. Aliran air terjun yang halus lembut, curahannya kecil melewati celah-celah batu, lalu meluncur ke bawah, membuatnya juga disebut Air Terjun Lulus. Ada kepercayaan, mandi atau membasuh muka di Sarasah Aie Luluih dapat mengobati jerawat dan muka akan terlihat cantik dan awet muda, silakan coba.

Saya menatap ke atas, lalu meluruh ke bawah, menikmati kemolekan air terjun yang sebagian tepi kolamnya telah diberi pembatas beton. Juga ada beberapa tempat duduk bagi pengunjung yang ingin berlama-lama menikmati pesona batu cadas air terjun yang berwarna cokelat kemerah-merahan dan kekuning-kuningan. Di mata saya sih itu warna jingga, warna semangat tentang cinta yang penuh energi. Ah! Lagi-lagi saya hanyut, melankolis, jadi sok puitis.

“Coba saya foto di situ Mbak Key.”

Uda Irwan menunjuk sebuah batu karang dengan satu pohon kering yang tumbuh di depan sebelah kiri air terjun. Benar adanya, foto saya begitu elok dengan latar belakang kemegahan Air Terjun Lulus. Karena diburu waktu, yang sebenarnya waktu tak pernah memburu, hanya kita yang terlalu lamban menyikapi keadaan, maka terasa menjadi buruan waktu. Kalimat saya terlalu bersayap, mohon maklum, sebab saya sedang berada di sebuah tempat yang tepat untuk bisa berpuisi, mendayu-dayu tanpa mengingat waktu.

Foto: Air terjun Sarasah Bunta. (koleksi Kirana Kejora)
Foto: Air terjun Sarasah Bunta. (koleksi Kirana Kejora)

Dari Air Terjun Lulus, kami berjalan melalui pedestarian yang penuh tanaman pakis, paku, dan palem. Sekitar 5 menit kami telah sampai ke Sarasah Bunta. Air terjun tertinggi di antara 7 air terjun yang berada di Lembah Harau.

“Ini prasasti Bunta, sebagai saksi keberadaan cagar alam Sarasah Bunta telah ada pada zaman Belanda.” Uda Irwan menjelaskan sambil memotret prasasti yang masih jelas tulisannya.

Saya tercekat, terasa magis sekali saat membaca tulisan dalam bahasa Indonesia dengan ejaan lama yang terpatri di prasasti. “Serasah Boenta, Geopeno  14 Agustus 1928, Terlarang Memotong Kayoe Dan Boenga-Boenga Sekoeliling Serasah Boenta Ini Kawasan cagar alam ini diresmikan pada tanggal 14 Agustus 1928 oleh Assisten Residen Lima Puluh Kota, J.H.G Boissevain dengan E. Rinner bernama B.O.Werken, bersama Tuanku Lareh Sarilamak yang bernama Rasyad Dt. Kuniang nan Hitam dan Assisten Demang yang bernama Janaid Dt. Kodo Nan Hitam.

Assisten Residen dulu pertama kali saat terkesima menatap Lembah Harau, lalu berseru, “Hemel, hemel!” Dalam bahasa Belanda, artinya surga. Setelah kekaguman sang residen, maka dibuatlah prasasti dari batu marmer yang dipahatkan pada salah satu batu samping kanan Sarasah Bunta. Sejak itu, Sarasah Bunta terkenal di Belanda, dengan nama Hemel Arau (Sorga Arau), lalu disingkat dengan Harau. Disebut Sarasah Bunta karena air terjunnya yang beruntai indah ibarat bidadari cantik yang sedang mandi, putih molek nan elok saat terkena sinar matahari.

Menurut saya, Sarasah Bunta pilihan paling nyaman menceburkan diri karena airnya paling jernih di antara air terjun lainnya. Selain itu, akses ke tempat kamar ganti atau toilet juga sangat dekat. Sarasah Bunta memiliki debit air paling deras dari suara air yang jatuh dan percikan airnya membasahi area setempat, meski begitu airnya sangat dangkal. Terkadang terdengar suara nyanyian monyet ekor panjang yang saling bersahutan. Sarasah Bunta masihsangat alami, karena tepiannya langsung menyatu dengan tanah sekitar, seperti pantai, tidak diberi pembatas beton.

Tak lupa saya dan teman-teman mengambil gambar sebanyak mungkin dengan berbagai pose yang cukup membuat Uda Irwan tersenyum. Batinnya, orang Jakarta masuk hutan, mungkin begitu. Biarlah Uda, kami yang sering pusing dengan keramaian kota metropolis, akan menikmati “surga kecil” ini sepuas hati di sini, batin saya tersenyum lepas, Lalu saya membetulkan letak bebek-bebek karet, ban pelampung bewarna-warni yang berserakan di tepi kolam karena terganggu dengan ulah saya saat berfoto.

Sarana berenang buat anak-anak begitu banyak, nampaknya kolam Sarasah Bunta yang tak begitu dalam airnya, aman dan nyaman bagi anak-anak untuk turut bisa menikmati kesejukannya. Langit mulai meredup, pertanda sang bintang raksasa akan masuk ke peraduan, bergantian dengan bintang menerangi bumi. Segera kami beranjak dari sarasah dengan tinggi sekitar 200 meter itu untuk mengalihkan pijakan kaki ke Sarasah Murai.

Foto: Sarasah Bunta (Kirana Kejora)
Foto: Sarasah Bunta (Kirana Kejora)

Dinamakan Sarasah Murai, karena banyak burung murai berkicau, mandi, dan memadu kasih di sarasah ini pada siang hari. Sungguh sebuah pemandangan nan rancak bana sembari menikmati secangkir teh manis hangat di warung yang terletak persis di depan sarasah dengan tinggi sekitar 170 meter, dan dianggap paling elok di antara 6 sarasah lainya.

Konon apabila para jomblo mandi di bawah sarasah ini, dengan berdoa kepada Sang Pencipta, maka akan segera mendapat jodoh. Selamat mencoba, maka datangilah tempat penuh rasa suka ini. Karena sore mulai turun, beralih ke senja, maka perjalanan tak bisa berlanjut ke Sarasah Aie Angek yang berjarak sekitar 200 meter dari Sarasah Murai.

Sarasah ke tujuh ini airnya hangat, belum banyak dikunjungi wisatawan, berada di sebelah utara Sarasah Murai. Karena perjalanan akan berlanjut ke Padang, maka kami pun segera beranjak menuju gerbang Sarasah Bunta. Saya sengaja berjalan pelan untuk menikmati bagian lain yang belum sempat kami jelajahi. Melalui jalan setapak, saya berjalan di pinggir menemukan bumi perkemahan yang lumayan luas.

Setelah melalui beberapa warung makan, saya tertarik untuk membeli rujak buah Harau yang dari gambarnya begitu menggiurkan. Namun sayang, karena  sudah menjelang Maghrib, rujak yang saya inginkan telah habis.  Tetap memasuki jalan setapak menuju pintu keluar, nampak di sisi kanan saya, berbagai tanaman hias dijual. Ada berbagai jenis bunga anggrek dan tanaman paku-pakuan. Ada salah satu jenis tanaman paku yang unik berwarna cokelat, diberi nama paku atau pakis ekor monyet, karena batangnya berbulu seperti rambut monyet. Lucu sekali bentuknya, menjulur ke atas, ujungnya menyimpul membentuk lingkaran, andai pulang ke Jakarta tidak ribetnaik pesawat terbang, saya ingin sekali membelinya sebagai kenangan dari lembah penyimpan rindu ini.

Cuaca sejuk, dingin, sering membuat perut lapar. Di sini ada jajanan khas, kerupuk kari. Kerupuk singkong siram atau kerupuk kuah berbentuk bulat besar yang di atasnya disiram dengan kuah kari atau sambel sate Padang, dan diberi tambahan mie bihun. Lalu ada minuman khas kawa daun yang cukup unik dan legendaris. Unik karena mulai dari rasa, bahan, hingga sejarahnya sangat menarik.

Kawa artinya kopi. Kawa daun adalah minuman yang dibuat dari seduhan daun kopi. Rasanya seperti ramuan antara teh dan kopi. Disajikan dalam tempurung kelapa dengan gula aren terpisah. Namun sejarah minuman ini sangat dramatis. Pada zaman penjajahan Belanda, kopi pernah jadi komoditi mahal, bernilai tinggi di Eropa. Gubernur Jenderal Van den Bosch menerapkan system tanam paksa kopi di Ranah Minang pada tahun 1840. Para pekerja hanya diperbolehkan menanam saja, tak boleh mencicipi minuman kopi dari bijinya. Hal ini tentu menyakitkan, namun mereka tak kurang akal, guna mengobati rasa sedih dan kecewa, maka timbul ide membuat minuman dari daun kopi.

Semua derita memang selalu ada hikmahnya. Ternyata daun kopi memiliki kandungan antioksidan lebih tinggi dari pada teh hitam atau teh hijau. Kawa daun juga mengandung mangiferin sebagai anti-inflamasi yang bisa mengurangi risiko sakit diabetes, hipertensi, dan melindungi neuron di otak. Tetapi sayang

sekali, saya hanya sempat merasakan kerupuk kari saja, karena keburu malam, tak sempat memesan kawa daun yang khasiatnya istimewa ini. Sebenarnya masih ada Resort Rimbo Piobang, namun belum berkembang karena direncanakan sebagai Taman Safari. Hari penuh kenikmatan lukisan-Nya, harus kami akhiri kelana elok saat senja telah mengambil alih langit, sungguh penuh luapan rasa cinta, ungkapan rasa kasih benar-benar hanya tertuju kepada-Nya, Sang Pemilik.

Lembah Harau ada yang mengatakan Grand Canyon-nya Indonesia, namun ada juga yang bilang, Yosemite-nya Indonesia. Namun bagi saya, Lembah Harau tak bisa disamakan dengan air terjun mana pun, ia memiliki keunikan, kelebihan, keindahan, kemegahan, kemewahan, kesempurnaan, dan keesoktisan tersendiri. (bersambung/gr)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *