‘Pengantin Bambu #1’ Akan Digelar di Borobudur

  • Whatsapp
Foto ilustrasi: Kerajinan Borobudur dari bambu. (ist)

MAGELANG – Program Kementerian BUMN di wilayah Borobudur mulai menggeliat, salah satunya Balkondes Kebonsari yang bakal menggelar Festival Bambu Kebonsari, Minggu 8 Oktober 2017 dengan tema festival “Pengantin Bambu #1”.

Kebonsari adalah salah satu desa penyangga pariwisata yang ada di wilayah Borobudur. Lokasinya berada di sebelah Barat, sekitar 4,5 km dari Candi Borobudur sebagai sentra kerajinan bambu. Kebonsari saat ini terus berbenah untuk menjadi satu desa wisata di Borobudur yang makin menarik dan tak ingin potensi bambu di daerahnya semakin hilang.

Muat Lebih

“Tema Pengantin Bambu diangkat dengan tujuan sebagai sarana pengembangbiakan pohon bambu. Dan dalam rangka ikut mengkoservasi hutan bambu yang sudah mulai punah di sekitar Desa Kebonsari yang selama ini banyak ditebang sebagai bahan dasar kerajinan bambu dan sebagai bahan bangunan atau lain sebagainya,” ujar Beni, panitia pelaksana Festival Bambu Kebonsari, Borobudur, Magelang.

Festival Bambu ini sendiri sebenarnya sudah dilaksanakan yang ke-3 kali. Akan tetapi pelaksaan yang sebelumnya baru sebatas gelar budaya, seperti pementasan kesenian lokal dan dirasa belum sepenuhnya melibatkan seluruh masyarakat sekitar dan belum seluruhnya mengangkat potensi lokal yang ada.

Untuk itu pelaksanaan kali ini diharap ada keterlibatan seluruh elemen masyarakat lokal dan bisa mengangkat potensi yang ada. Misalnya menghadirkan potensi dari masing-masing dusun baik itu dari kerajinan bambu seperti pulpen, gelang, gantungan kunci, tas, baki, mangkuk dan anyaman seperti eblek dan lain sebagainya. Atau dari pertaniannya seperti cabai, kripik singkong, kripik talas dan kuliner yang lain.

“Atau dari perkebunan yaitu gula Jawa dimana sebagian masyarakat sekitar adalah sebagai penderes atau penyadap dari tuak yaitu bahan dasar untuk gula Jawa. Atau produk lokal lainnya yang merupakan hasil produksi masyarakat sekitar yang diharapkan bisa menjadi produk unggulan masyarakat Desa Kebonsari,” ujar Beni yang aktif di Pokdarwis Kebonsari ini.

Festival ini akan di laksanakan satu hari pada 8 Oktober 2017 dari pukul 07-00-16-00 WIB. Layaknya sebuah pernikahan, prosesi diimulai dengan siraman. Pengantin bambu laki-laki ada di Balai Desa dan prosesi siraman Pengantin perempuan ada di Sendang Sentul. Untuk acara siraman tersebut air diambilkan dari tujuh sumber mata air yang ada di sekitar desa Kebonsari.

Kemudian dilanjutkan prosesi arak-arakan kirab pengantin dan potensi desa. Potensi desa berupa potensi hasil kreativitas masyarakat dari masing–masing dusun yang ada di Kebonsari, kesenian lokal dan anak-anak sekolah dasar dengan rampak kentongannya.

Kirab arak-arakan tersebut akan diikuti oleh sekitar 200 peserta masyarakat lokal dan akan dihadiri oleh masyarakat dari desa–desa sekitar Desa Kebonsari. “Arak-arakan dimulai dari Balai Desa Kebonsari. Pengantin bambu laki-laki di Balai Desa dipertemukan dengan pengantin bambu perempuan yang ada di Sendang Sentul dan diarak hingga sampai di Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Kebonsari di mana acara resepsi digelar,” ujar Beni.

Layaknya pengantin, acara ini juga dilanjutkan acara “Ngomah-omahke Manten.” Yaitu berupa prosesi penanaman penganten bambu yang berupa bibit bambu. Penanaman bambu secara simbolis dilakukan oleh para pejabat dinas yang hadir.

Dalam rangkaian acara resepsi tersebut akan diramaikan oleh pentas Wayang Godong dari Dr. Agus Purwantoro M Sn. dan pentas kesenian lokal seperti Topeng Ireng putri Srikandi Gupito, Warok Bocah Putra Satria dari dusun Gupit, Kubro siswo New Sarisiswo dari dusun Kebonwage dan Topeng Ireng-Topeng Seto dari Dusun Cakran yang merupakan kebudayaan lokal dari dusun sekitar Desa Kebonsari hingga selesai acara.

Beni menegaskan melalui event festival bambu ini pihaknya merasa perlu untuk ikut mengembangbiakkan dan mengkonservasi hutan bambu kembali. Selain agar ketersediaan bahan baku bambu kembali melimpah juga sebagai destinasi wisata alternatif yang ada di sekitar Borobudur.
Melalui event Festival Bambu “Pengantin Bambu # 1 “ ini diharapkan masyarakat sekitar bisa miningkatkan kreativitasnya baik sebagai petani atau sebagai pengrajin bambu dan ikut mengkonsevasi hutan bambu sebagai destinasi wisata alternatif.

“Ujung dari semua ini, masyarakat ikut memajukan desa khususnya Kebonsari sebagai desa wisata di sekitar Borobudur dan ke depannya bisa meningkatkan taraf hidup keluarganya sehingga otomatis perekonomian masyarakat bisa ikut terdongkrak,” ujar Beni.

Menpar Arief Yahya mengingatkan kepada semua pengembang kawasan pariwisata, termasuk homestay, agar menggunakan arsitektur nusantara. Nuansa daerah, bentuk dan desain budaya lokal itu penting, untuk menunjukkan keberagaman destinasi di tanah air.
“Gunakan bahan yang mudah didapat dan murah, seperti bambu dan kayu yang mudah didapat dan diproses. Ecopod yang di Danau Toba dan pernah dipamerkan di Rakornas II Kemenpar lalu juga berbahan baku dari bambu,” katanya. (***/gardo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *