Isyarat Dan Jalan Hidup Yang Tak Pernah Lempang

oleh -281 views
Isyarat Puisi Tatan Daniel

Oleh. Tatan Daniel

Ini puisi panjang yang saya bikin tahun 1979. Dua setengah halaman kwarto, spasi satu. Delapan puluh satu baris. Dimuat dalam antologi stensilan, “Tangkahan”, di antara puisi para penyair jenggotan dan ubanan. Menandai Temu Sastrawan Asahan 1979.

Ketika itu, saya masih anak kelas dua esema yang dekil, liar, suka bolos, ngegeng, saban malam kluyuran, begadang, bergitaran, kerap nongkrong di pakter tuak, sesekali ‘nyimeng’, menyimak ‘Orexas’, ‘Karmila’, ‘Ode dan Ode’, atawa ‘Nyanyian Fajar’… dan nyaris tiap Senin pagi ditangkap, disetrap, dan dipetuahi guru ‘BP’, tapi juga menjadi redaktur koran dinding sekolah, dan pengurus OSIS seksi kesenian.

Dan pernah pula dapat beasiswa setahun karena jawara melukis tingkat pelajar se-Sumatera Utara. Yang hadiahnya diserahkan pada upacara khusus hari Senin, setelah upacara bendera. Tapi saya malah lagi nongkrong, ngudut, di warung soto, jauh di luar sekolah. Tak ayal, seorang siswa pun diutus menjemput saya. Saya muncul begitu saja, disaksikan oleh ratusan pasang mata, yang sudah risau menunggu beberapa menit lamanya. Hehe..

Suatu hari, saya malah ditangkap polesong atas tuduhan subversif politis. Guru PMP yang sangat Orba melaporkan saya. Saya diproses verbal, satu harian oleh polisi berwajah burik, lalu kena wajib lapor seminggu sekali. Selama tiga bulan. Hanya karena, di atas kantong baju seragam sekolah saya melukis wajah kaligrafis ala majalah Aktuil, dengan kalimat: “Generasi Boeng Karno”.

Dua tahun malang melintang di sekolah negeri itu, saya dan beberapa anggota geng diminta pindah. Oleh Pak Direktur. Kami dianggap anasir berbahaya, yang bisa membuat kurva siswa bolos sekolah terus meningkat.

Saya pun pindah ke Taman Siswa. Sekolah kebangsaan yang memerdekakan pikiran siswanya. Sekolah tanpa seragam, boleh mengenakan sepatu apa saja (asal sepatu), boleh cepak atau gondrong. Saya senang dan merdeka. Saat itulah saya makin rajin membikin puisi dan sketsa, yang saban minggu dimuat di halaman sastra dan budaya surat-surat kabar Medan.

Saya pun, bersama kawan seiman kesenian, membentuk geng lain, yang kami namakan Sanggar Laras. Yang warganya terdiri dari anak esempe, esempa, esteem, penarik peca, penjual beras, tukang jahit, mantri kesehatan, pelukis reklame, pegawai kantor kelurahan, tukang kayu, pegawai kantor PU, pengurus pramuka, penyiar radio, dsb.

Dengan sanggar itu, kami membikin Lomba Cipta Puisi se-Sumatera Utara, membuat diskusi sastra, baca puisi di taman, di pinggir sungai, di hutan rambung, di emperan kota, membuat buletin sastra, dsb.

Setiap bulan Oktober, sanggar kami yang anggotanya puluhan orang itu, mendapat stan di Pameran Pembangunan Kabupaten, untuk memajang puluhan lukisan, dan mengisi panggung dengan grup musik yang kami namakan “Orariko”, Orkes Rakyat Rindu Kontrak, bergaya PSP. Kami mendangdutkan lagu-lagu Ebiet, puisi Chairil Anwar, Amir Hamzah, Sapardi, dsb.

Begitulah. Akhirnya, saya tamat juga dari Perguruan Taman Siswa yang bebas merdeka itu, dengan nilai yang memenuhi syarat untuk menjadi mahasiswa tugas belajar di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri, Medan.

Saya pun nyantrik di APDN itu, yang kemudian dipusatkan menjadi STPDN di Jatinangor, dan sekarang berubah lagi jadi IPDN. Sekolah yang malah mewajibkan berambut cepak, latihan militer baris berbaris, menjadi anggota resimen Mahatara, apel pagi, siang, dan malam, mewajibkan berseragam dengan atribut yang harus di-Brasso setiap malam, sepatu kulit yang kudu disemir pakai Kiwi setiap pagi.

Tamat dari situ, saya malah sempat jadi Ajudan Pak Sekda. Sempat pula mengundang Rendra dan mBak Ida Ken Zuraida (yang kemarin baru wafat), untuk membaca sajak di aula kantor walikota, di kota saya, Kisaran.

Dan seterusnya. Dan seterusnya. Sampai kemudian, saya melompat ke jalan Petamburan V, di Jakarta. Dengan cerita ganjil yang berbeda pula.

Hehehe.. Sungguh jalan hidup yang megal-megol, tak lempang, srimpungan, srempetan, dan kontradiktif di sana-sini. Tapi, dalam semua musim dan badai itu, anehnya, saya tetap setia membaca dan menulis puisi. Sampai hari ini. (***)
.