Hidup Yang Bahagia (2), Novel by Ayub Hamzah

Lalu Yacob mencoba WA, Yanto atasannya. Pemred di media mereka. Media dari Jakarta.

“Yanto, kenapa CMS tak bisa ku gunakan? ” tanya Yacob. “Apa ente rubah passwordnya? “.

” Iya aku rubah Cob. Kau ngak usah jadi editor lagi. Kau wartawan saja. Suka-suka ku lihat kerja mu! ” kata Yanto membalas WA.

Duuuaarrr! Perkataan itu seperti sebuah bom meledak dalam jantung Yacob. Tetapi Ayah dua anak itu, mencoba tetap tenang.

“Loh kenapa gitu. Aku ngisi berita yang berbeda. Aku ngisi, ramalan cuaca, jadwal salat, serba-serbi Ramadhan. Kalau berita wartawan ya yang bagus-bagus ajalah. Aku yang pening merombak berita rilis pemerintah, mereka yang dapat duitnya, ” kataku.

Wartawan daerah memang begitu. Membuat berita pun belum press clear. Nah, Yacob dan Bambang lah yang mengedit agar berita yang centang prenang itu jadi runut dan mudah dimengerti pembaca.

“Oh itu bukan urusan mu, ” kata Yanto.

“Tentu saja urusanku lah. Kita sudah tak bergaji lagi, ” sela Yacob cepat.

“Pokoknya begitulah, jangan didebat lagilah, ” ketus Yanto.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *