Tentang Mencintai Sebuah Tempat

oleh -51 views
Pojok Tim Sebelum dibongkar. (ist)

Oleh. Tatan Daniel

TAK jelas siapa yang menulisnya. Mungkin seorang penjaga malam yang mabuk. Mungkin seseorang yang kebetulan singgah, lalu pergi begitu saja, tanpa menoleh ke belakang. Mungkin seorang sopir truk proyek yang menyukai puisi. Atau seorang penyair muda, dengan kacamata, rambut kusut, imajinasi yang sedang berbunga, dan kaos bergambar Lorca. Atau jangan-jangan, Chairil Anwar yang datang dari Karet, ketika sunyi meraja, duduk di sebuah sudut di bekas rumah Huriah Adam, dan menulis dengan mata kuyu. Tak jelas siapa sebenarnya yang menulisnya. Selembar kertas itu bagai ditulis oleh seorang penderita tremor. Angin mempermainkannya. Tergeletak di pelataran Planetarium, lalu tersangkut di rimbun pohon, di halaman PDS H.B. Jassin, pada sebuah malam, ketika di langit bulan berbentuk potongan semangka:

“Mencintai sebuah tempat, seperti Taman Ismail Marzuki, sesungguhnya adalah mencintai setangkai mawar yang membuka kelopaknya ketika pagi baru mulai. Dan kau membuka jendela dengan sisa mimpi yang mesra. Adalah requiem, ketika senja memenuhi cakrawala. Matahari terbit dan tenggelam. Kereta datang dan pergi. Pohon-pohon tumbuh dan rubuh. Musim berganti. Yang menjadi pertanyaan: adakah kau di sana? Diantara semua yang bergerak. Hidup dan bernafas. Membuat tanda. Dengan kesiapan untuk terluka. Membuat hal-hal yang berbeda. Kau tak boleh berbaring. Telentang. Menunggu.

Kau tak bisa menunggu. Waktu tidak berhutang padamu. Tapi jiwa bisa tergadai kapan saja. Jangan pula menyerah. Karena jika menyerah dan hidupmu berakhir, kau tak akan kembali lagi. Selama denyut jantung masih memompa darah, kau belum mati. Maka pastikan setiap tarikan nafas, kau memperhitungkan sesuatu. Sebaris kalimat. Musik pembuka sebuah lagu. Atau silhuet sebuah tarian. Teruslah katakan, apa yang semestinya kau katakan. Kau tak bisa belajar musik dari buku. Belajar menari dari sebongkah batu.

Mencintai sebuah tempat, seperti Taman Ismail Marzuki, sesungguhnya seperti mengenang sebuah hari di masa remaja ketika pertama kali kau mencium seulas bibir di bawah remang cahaya bulan. Matahari tenggelam, cahaya mencair digelap malam. Yang menakutkan bukanlah kegelapan. Karena kau bisa menyalakan lilin. Seribu lilin di dalam pikiran. Di tengah hujan badai pun selalu cahaya. Nyala petir yang bersabung. Tapi ancaman datang dari pikiran yang nyaman, seperti ruang tanpa meja. Tanpa foto keluarga di dinding. Tanpa ada yang bisa diingat. Kecuali seulas bibir, yang kering dan pucat.

Setiap daun yang bertumbuh, adalah penderitaan. Setiap pohon adalah amsal keberanian. Suatu hari ia akan menua. Tapi ia punya akar yang ditinggalkan. Dan sejarah. Bahwa ia pernah tumbuh, teduh, dan menjadi penanda bagi pengembara yang tak punya rumah. Seperti batang pohon itu, kau pun masih memiliki hari. Memiliki momen yang berharga untuk duduk bercakap-cakap, disebuah tempat, seperti Taman Ismail Marzuki, misalnya. Dan segelas Cognac untuk merayakan hidup. Mungkin tidak berarti bagi yang lain. Tapi ini bukanlah tentang orang lain. Ini juga bukan tentang kekuatiran soal apa yang akan terjadi besok. Bukan juga tentang kemarin, yang tak akan kembali mencarimu, memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pelik yang membingungkanmu. Tapi soal perjalanan. Dan catatan-catatan kaki. Alasan dan kesaksian. Jangan biarkan orang lain yang menulis ceritamu. Kaulah seharusnya yang menuliskannya.

Seberapa jauhkah kau pernah pergi? Di ujung sepatumu, selalu ada jalan mendaki ada jalan menurun. Ikan-ikan pulang ke hulu, berjuang melawan arus, menyambung riwayat. Kembali ke rumah. Seperti penyu yang mengembara ribuan mil jauhnya, mereka pun pulang ke pasir yang sama, rahim bagi anak-anaknya. Melahirkan nyawa baru bagi spesiesnya. Burung-burung bermigrasi ke benua jauh, dan kembali ke pohon leluhurnya. Ke sarang, tempat impian bertemu. Memastikan bahwa hidup itu ada. Nyata. Dan harus diperjuangkan. Mencintai sebuah tempat, seperti Taman Ismail Marzuki, misalnya, seharusnya seperti ikan, penyu, dan burung-burung itu.

Kau tak kan pernah benar-benar bisa merasakan kehilangan. Kecuali kau mencintai yang mungkin hilang itu, lebih dari cintamu pada diri sendiri. Kau menjaganya, seperti menjaga urat lehermu sendiri. Seperti mengingat-ingat dongeng indah untuk diceritakan kepada anakmu. Ketidakpedulian adalah perampok di pengkolan jalan. Lebih dari virus apapun, ia adalah penyakit yang paling mengerikan. Tapi bisakah kau membayangkan Taman Ismail Marzuki ini sebenarnya sedang sakit, tubuhnya panas tinggi dipenuhi cacar api, dan menggigil kedinginan?”

Tak jelas siapa yang menuliskan kalimat dengan kata-kata yang aneh itu. Ditulis di atas kertas yang sobek di bagian bawahnya. Mungkin ada namanya di situ. Tapi tak penting benar. Begitulah. Seorang penyapu halaman, pada sebuah pagi, menemukannya tergeletak bersama dedaunan, dan mengirimnya ke tong sampah. Kertas dengan tulisan tangan yang buruk itu, bersatu dengan tisu penampung dahak dan ludah, puntung-puntung rokok, sobekan koran, dan bon faktur pembelian nasi padang. (**)