100 Tahun Otto Djaya, GNI Gelar Pamerkan 200 Karyanya

oleh -2,425 views
Foto: Penjual Jamu, Karya Otto Djaya . (Ist)

Otto Djaya hidup dan melukis selama enam dekade sejarah dan periode politik di Indonesia, semenjak masa kolonial Belanda, masa Perang Dunia ke-2, masa revolusi, masa pemerintahan Soekarno dan Soeharto, hingga masa demokrasi.

JAKARTA – Memperingati 100 tahun kelahiran Otto Djaya Galeri Nasional Indonesia (GNI) akan menggelar pameran karya Otto Djaya sebanyak 200 lukisan. Acara pembukaan dilaksanakan, Jumat (30/9/2016) dan berakhir September -9 Oktober 2016 mendatang.

Pameran ini merupakan inisiasi dari Inge-Marie Holst dan Hans Peter Holst. Keduanya telah melakukan penelitian tentang Otto Djaya. Inge-Marie Holst sekaligus sebagai kurator pameran bersama dengan Rizki A. Zaelani.

Otto Djaya merupakan salah satu master dalam sejarah seni rupa Indonesia. Dia hidup dan melukis selama enam dekade sejarah dan periode politik di Indonesia, semenjak masa kolonial Belanda, masa Perang Dunia ke-2, masa revolusi, masa pemerintahan Soekarno dan Soeharto, hingga masa demokrasi.

Kegiatan ini menjadi kesempatan langka yang bermanfaat bagi publik seni rupa di Indonesia, khususnya bagi generasi muda untuk mengetahui sejarah dan tradisi lokal selama enam dekade masa pemerintahan di Indonesia yang tergambarkan melalui lukisan-lukisan Otto Djaya.

Pada malam pembukaan pameran hari ini, Jumat (30/9/2016) akan disajikan pula buku berjudul The World of Otto Djaya (1916–2002). Buku ini menceritakan tentang seorang Otto Djaya sebagai salah satu pelukis Indonesia yang karyanya dikoleksi oleh Presiden Soekarno. Otto adalah seorang bohemian, seniman nonkonformis, yang mendefinisikan refleksi dan estetika pribadinya sendiri. Dia melukis dengan kecenderungan visual yang berbeda yang dapat dikenali untuk mengeksplorasi serta mengekspresikan jiwa rakyat Indonesia, khususnya orang Jawa. Dia sangat analitik terhadap kemanusiaan, termasuk dirinya sendiri, dan mampu mensintesis keindahan alam, mitos, cerita rakyat, dan sindiran umum.

Otto Djaya yang lahir pada tahun 1916 adalah salah satu master dalam sejarah seni rupa Indonesia. Ia pernah menjadi pejuang kemerdekaan di masa kolonial. Bersama saudaranya Agus Djaya, mereka pernah pergi untuk belajar dan bekerja sebagai seniman di negeri Belanda pada tahun 1947-1950 dan beberapa kali berpameran di Eropa.

Otto Djaya hidup dan melukis selama enam dekade sejarah dan periode politik di Indonesia, semenjak masa kolonial Belanda, masa Perang Dunia ke-2, masa revolusi, masa pemerintahan Soekarno dan Soeharto, hingga masa demokrasi.

Otto adalah seorang bohemian, seniman non-konformis, yang mendefinisikan refleksi dan estetika pribadinya sendiri. Ia melukis dengan kecenderungan visual yang berbeda yang dapat dikenali untuk mengeksplorasi serta mengekspresikan jiwa rakyat Indonesia, khususnya orang Jawa. Ia sangat analitik terhadap kemanusiaan, termasuk dirinya sendiri, dan mampu mensintesis keindahan alam, mitos, cerita rakyat, dan sindiran. (gni/gr)