Zam Nuldyn, ‘Maestro Komik Dari Tanah Deli’

  • Whatsapp
Ilustrasi: Komik Zam Nuldyn. (ist)

Oleh. Tatan Daniel

SUATU hari, beberapa tahun lalu, ketika Pak Dr. Sakhyan Asmara berkunjung ke Anjungan Sumut Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Di tengah perbincangan kami yang hangat sambil tergelak-gelak, saya membuka dengan sangat hati-hati, dan menyodorkan ke hadapan beliau, sebuah kejutan! Bundelan guntingan koran tua, bergambar komik!

Sudah lama saya penasaran, ikhwal nama-nama yang tertera rapi di songkok si Joran alias Alang Bubu, (kanan atas, pada tajuk komik), tokoh penting dalam komik bersambung tersebut, diantaranya tertulis: Sachjan Asmara.

Sebaik melihat komik dengan gambar dan nama-nama di situ, beliau tercenung lama. Dada saya berdegub. Raut wajah beliau tampak menyiratkan kenangan yang dalam. Perlahan, mata lelaki yang saat itu menjabat sebagai Deputi Menpora itu, tampak berkaca.

“Itu nama saya..”, ujarnya perlahan, dengan suara agak bergetar. “Dan Zam Nuldyn adalah ayah saya. Tahu persis saya, bagaimana ia membuat lembaran-lembaran komik ini. Dan komik-komik seperti inilah yang telah membiayai sekolah saya sampai di Universitas Gajah Mada dulu…”

Saya pun tak dapat menahan haru. Saya seperti menemukan alamat yang saya cari bertahun-tahun. “Terima kasih, Pak Tatan, sudah menyimpannya selama ini. Saya minta agar dijaga baik-baik”, pesan beliau.

Ya. Ini komik buatan tahun 1968. Karya maestro komik Indonesia, Zam Nuldyn. Dimuat bersambung di koran Mimbar Umum. Koran tertua di Medan, pada masa itu.

Marcel Bonneff, seorang peneliti Perancis, menyebut Zam, dan rekannya Taguan Hardjo, sebagai komikus yang mewarnai “zaman keemasan komik Indonesia”, dengan karya mereka yang “dilandasi pengetahuan dokumenter, cermat, dinamis, dan piawai menggunakan bermacam variasi angle”.

Nah, silahkan Tuan periksa dan cermati gambar karya Zam ini. Ini lembar nomor 1 (pembuka) dari seratusan halaman kisah “Mas Merah”, yang merupakan kelanjutan dari kisah “Alang Bubu”.

Perhatikan! Dari goresan Zam ini, Tuan bisa merasakan suasana kampung Melayu di Deli pada masa dulu: Kampung Paya Nibung dengan langgar, kedai kopi dan sebagainya. Dengan profil wajah khas orang-orang Melayu, nada bicaranya, gesturnya, busananya, dan seterusnya. Sungguh, saya pikir, ini komik adalah dokumen antropologis yang penting.

Zam adalah pencerita yang piawai. Dan ia membuatnya dengan imajinasi, pemikiran, pengetahuan, pengamatan, teknik yang indah, dan amat cermat! Sungguh dakhsyat! Jangan abaikan pula tipografinya, teks yang ia torehkan dengan rapi, indah, dan konsisten.

Saya tak menemukan detil-detil sekelas sutradara Teguh Karya, atau mungkin sehebat Ang Lee seperti yang tertuang pada adegan ini, pada komikus lain yang pernah saya baca karyanya. Tidak juga pada R.A. Kosasih. Apalagi Yan Mintaraga, atau Ganes Th.

Selain materi cerita yang kuat, yang banyak mengangkat khazanah sastra lisan rakyat Melayu di Deli dan Serdang. Kecermatan yang luar biasa dalam melukiskan orang-orang dan suasana lokal inilah yang mengagumkan dari Zam Nuldyn, yang membedakan kualitasnya dengan banyak komikus Indonesia yang lain.

Kehebatannya itu tak pelak mempesona mata bocah saya. Dulu sekali, ketika saya baru kelas satu Sekolah Dasar, komik bersambung itu saya gunting sambil belajar membaca, lebih seratus lembar banyaknya, dan masih saya simpan berpuluh tahun kemudian, sampai hari ini. Sebagai titipan dari kedakhsyatan seorang maestro pada masa lalu.

Dan kita beruntung, seorang peneliti dan penulis yang ‘degil’, tekun, cermat, dan memiliki ‘passion’ yang dakhsyat.

Ikhwal komik Medan, sohib Koko Hendri Lubis, saat ini tengah menyusun buku riwayat dan kehebatan Zam Nuldyn itu. Buku yang akan menjadi tonggak penanda bahwa di Medan, selain Taguan Hardjo, Bahzar, M. Ali’s, Djas, Arry Darma, dkk, pernah lahir seorang komikus yang mewarnai kenangan banyak orang.

Mungkin, disaat peluncuran buku itu nanti, bisa ditabalkan pula sebuah jalan di Medan (yang konon katanya kota bersejarah, berbudaya, dan bermartabat itu), dengan nama beliau: Jalan Zam Nuldyn. (**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *