Covid-19: Gejala Klinis, Diagnosis, dan Tata Laksana Pasien di Swedia

oleh -134 views
Covid-19 Gejala Klinis, Diagnosis, dan Tata Laksana Pasien di Swedia

STOCKHOLM – Pada akhir pekan ini, KBRI Stockholm telah mengadakan Bincang Virtual bersama WNI yang dilakukan secara online. Bertindak selaku narasumber adalah Ihdina Sukma Dewi, MD, PhD, dokter dan peneliti di Lund University Hospital, Swedia. Ihdina mengangkat tema “Covid-19: Gejala Klinis, Diagnosis, dan Tata Laksana Pasien di Swedia”.

Pada sambutan pembukaannya, Dubes Bagas menyatakan bahwa Bincang Virtual yang telah dilakukan beberapa kali ini baik untuk terus menjalin silaturahmi dan dapat dipergunakan WNI sebagai media untuk menanyakan langsung khususnya hal-hal yang berhubungan dengan kebijakan di masa pandemi ini.

“Pemerintah Swedia menyebutkan bahwa setiap warga harus tetap berhati-hati dan aturan social distancing juga tetap akan terus berlaku sebagaimana telah diputuskan sebelumnya. Hal ini penting kita ingat, karena di Stockholm sendiri telah terdapat lebih dari 10.000 orang terinfeksi Covid-19” ujar Bagas.

“Sama halnya dengan di Latvia, walau sekarang aturannya lebih dilonggarkan, tapi warga diminta tetap berhati-hati dan penggunaan masker atau penutup wajah dalam transportasi publik sudah wajib. Mohon agar aturan-aturan ini selalu dipatuhi kita semua” tambah Bagas.

Dalam paparannya, Ihdina menyatakan bahwa virus Covid-19  memiliki masa inkubasi 2-14 hari dengan gejala klinis utama adalah demam, dan diikuti dengan gejala saluran pernapasan seperti batuk, hidung tersumbat, sesak napas, dan mungkin juga muncul gejala non-saluran pernapasan seperti sakit kepala, nyeri otot dan sendi, sakit tenggorokan, mual, muntah, dan diare.

“Yang harus dipahami bahwa virus Covid-19, SARS-CoV-2 memasuki tubuh melalui saluran pernapasan dan berikatan dengan Angiotensin Converting Ezyme 2 (ACE 2) Receptors di tubuh. ACE 2 ini ada di berbagai organ tidak hanya paru-paru, tapi juga hati, ginjal, usus, bahkan otak. Oleh karena itu, Covid-19 bisa mengakibatkan multiple organ failure” ujar Ihdina.

Dalam tata laksana pasien di Swedia, Ihdina menyatakan bahwa pasien yang tiba di rumah sakit dengan gejala klinis tersebut akan mendapatkan perawatan sesuai dengan medical assesment pasien tersebut. 

Tidak semua pasien serta merta akan dimasukkan ke unit perawatan intensif, karena sebagai negara dengan rasio unit perawatan intensif per 100 ribu penduduk yang termasuk rendah dibandingkan negara Uni Eropa lainnya, membuat Swedia harus memperhitungkan dengan baik kapasitas unit perawatan intensif yang digunakan.

Hal ini dilakukan agar tidak terjadi lonjakan yang dapat melumpuhkan fasilitas kesehatan seperti yang terjadi di beberapa negara Eropa lainnya, seperti Italia. Keputusan seorang pasien masuk ke perawatan intensif dilakukan oleh tim dokter emergency rumah sakit.

Per 16 Mei 2020, terdapat 29.207 kasus Covid-19 di Swedia dan 997 kasus Covid-19 di Latvia, dengan angka kematian sebanyak 3.646 jiwa di Swedia dan 19 jiwa di Latvia.

Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah WNI yang tinggal di Swedia, Latvia, negara-negara Eropa lainnya, bahkan yang tinggal di Indonesia. Kegiatan semacam ini dipandang baik untuk terus dilakukan guna menjalin silaturahmi dan komunikasi dengan WNI di Swedia dan Latvia dalam masa pandemi Covid-19. (red)