UKM TEATER MAHIB’e Pentaskan Orkes Madun I Atawa Madekur dan Tarkeni

  • Whatsapp
Foto: orkes madun poster teater Mahib'e Kaltim. (ist)

Produksi:
ke 2 Teater Mahib’e
Naskah:
Orkes Madun I Atawa Madekur dan Tarkeni
Karya:
Arifin C Noer
Sutradara:
Wawan Soerawan
Tempat:
Gedung Rinzani Asnawi Taman Budaya Samarinda
Tanggal:
2 April 2016
Waktu:
19.30 WITA
HTM:
Umum 25k
Mahasiswa 15k

UKM TEATER MAHIB’e (MahasiswaIlmuBudaya) adalah salah satu unit kegiatan kemahasiswaan di Fakultas Ilmu Budaya yang bergerak di bidang teater. UKM (Unit KegiatanMahasiswa) ini terbentuk pada 30 Oktober 2013 dengan nama awal UKM Teater Mahastra (Mahasiswa Sastra).

Muat Lebih

Foto: orkes madun poster teater  Mahib'e Kaltim. (ist)
Foto: orkes madun poster teater Mahib’e Kaltim. (ist)

Perubahan nama UKM (Unit KegiatanMahasiswa) ini berkaitan dengan bertambahnya prodi di Fakultas Ilmu Budaya yaitu “Etnomusikologi”, dengan harapan semua mahasiswa dapat terlibat tanpa harus menjadikan nama UKM sebagai alasan untuk tidak bergabung. Setiap anggota dalam UKM (Unit KegiatanMahasiswa) ini adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya. MAHIB’e adalah akronim dari Mahasiswa Ilmu Budaya.

SINOPSIS

“Karena pada dasarnya, semua orang adalah pelacur dan pencopet”. Setiap harapan dan angan-angan kedua orang tua di kampung halaman, selalu terbentur pada realitas perantauan. Kejamnya perkotaan dengan segala kesulitan, memaksa impian-impian orang tua itu lenyap. Kedua orang tua ini tak tahu apa pekerjaan anaknya di kota, yang mereka ketahui adalah anaknya selalu mengirim uang untuk menanggung biaya hidup orang tuanya di kampung.

Orang tua mereka beranggapan bahwa anak mereka telah sukses. Lamaran demi lamaran pekerjaan Madekur dan Tarkeni selalu ditolak. Mereka putus asa sehingga Madekur menjadi pecopet, dan Tarkeni menjadi pelacur. Keduanya saling jatuh cinta sejak di kampung halaman, sampai pada akhirnya merantau ke kota. Begitu tulusnya cinta mereka, sehingga tidak memandang pekerjaan masing-masing. Meski secara umum, pekerjaan itu selalu dipandang sebelah mata oleh masyarakat.

Cinta mereka ditentang oleh masing-masing abah mereka yang turun temurun bermusuhan. Sementara sang ibu, hanya mampu menuruti keinginan suaminya meskipun sebenarnya ia lebih senang melihat anaknya bahagia. Perilaku kedua abah ini sama halnya dengan pencopet yang mengambil hak anaknya dan sang ibu. Sementara para ibu suka tidak suka harus menuruti keinginan si abah, perilaku ini sama seperti pelacur. Bagaimana harapan-harapan ini berakhir? Saksikan pertunjukannya. (biro kaltim/gr)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *