Tsi Taura Luncurkan Antologi Puisi ‘Marissa, Perempuan di Tepian Sungai Waeapo’

  • Whatsapp
Foto: Tsi Taura saat baca puisi karyanya. (ist)

MEDAN – Komunitas Sastra Masyarakat Binjai (Kosambi) kembali meluncurkan antologi, ‘Marissa, Perempuan di Tepian Sungai Waeapo’, di Kota Binjai, Sumatera Utara, Sabtu (4/5/2019).

Peluncuran antologi puisi kali ini berbeda dengan peluncuran buku sebelumnya, yakni ‘100 Penyair Indonesia Dalam Antologi Puisi Binjai’ di halaman Kantor Kejaksaan Negeri Binjai, Minggu (28/4/2019) lalu.

Antologi puisi merupakan perjalanan Kehidupan 60 Tahun Tsi Taura, di hari ulang tahunnya itu, maka dilucurkan “Marissa, Perempuan di Tepian Sungai Waeapo”. Dalam acara yang digelar seharian di Rambung, Binjai Selatan itu sempat menjadi perhatian penyair di Sumatera Utara.

Mulai dari penyair bangkotan, seperti Damiri Mahmud sampai penyair muda tumplek menjadi satu dalam pelucuran yang terbilang meriah itu. Disepanjang hari itu, digelar baca puisi secara spontan oleh para udangan yang nyaris semuanya seniman. Melebur!

Sahabat semasa kecil Tsi Taura, Khairuddin Ibrahim Harahap menyebut dalam halaman facebook-nya, ia cukup kagum dengan sosok penyir yang berkumis tebal ini.

Seniman Sumut berikan selamat kepada Tsi Taura. (ist)

“Alhamdulillah, aku bertemu dengan sahabatku T.Suhaimi SH M.Hum dikenal akrab dengan panggilan Tsi Taura, dirangkaian acara peluncuran dan bedah buku antologi puisinya, ‘Marissa Perempuan di Tepian Sungai Waeapo’. Pada awalnya sebagai catatan hariannya di mulai tahun 1970 hingga tahun 2019, kemudian ia jadikan sebanyak 100 puisi dengan judul yang sama,” katanya.

Khairuddin Ibrahim Harahap mengatakan, Tsi Taura sahabatnya, sejak SMP sudah menggemari karya karya sastra, tak mengenal henti, karya karyanya banyak menghiasi diberbagai media masa terbitan Medan.

“Terus menjadi darah yang bergelora dalam kehidupannya, dan tak puas berpuisi, di era 1980 Tsi Taura, beranjak menjadi penulis cerpen. Kini usianya tepat 60 tahun, pada tanggal 5 Mei 2019,” katanya.

Ini salah satu puisi karya, Tsi Taura;

“KETIKA ANGKA 60 MELURUH”

lewat tengah malam kumelompat dari katil besi
ke bilik dapur berlantai nibung tua
mencedok air di tempayan
membasuh raga menyikat rambut masai
kukuak tingkap menatap bulan buram

kutatap jam dinding detik baru saja beringsut
angka meluruh 60
bergidik kudukku seperti laut lepas diterjang badai
begitu cepat waktu berlereng
kubuka buku kehidupan beriring simponi sukma

begitu rimbun daundaun yang belum kusibak
ya Rabb jika waktuku masih tersisa dalam catatan langit
sedekah jua yang kuindukkan
tiada yang kuharapkan kecuali kasihmu jua
dan jalankan aku seperti firmanMu

malam sunyi ini semua ragaku berkata
lalu apa yang hendak kudustakan
jadikan aku dan keluargaku bersyukur segala takdir yang kau berikan
kutahu kami diciptakan dengan penuh keluh kesah
cukup bagiku meyakinimu seperti pergantian siang dan malam

ya Rabb jadikan sisa langkah yang kau berikan
langkah-langkah tanah haram
jadikanlah aku penyair melantun asma-asmamu
katupkan mataku dalam kalammu
anak-anakku simpanlah cendramatamu kecuali sesayat doa

kepada sahabat-sahabatku
inilah aku dalam remuk redam tak terbayang di telaga

gemetar jiwa ragaku bila sunyi menjemputku
berpeluh seperti sang nabi
angka 60 pun meluruh menjaga langkah-langkah sesat

(Binjai, Kosambi, mei 2019, tsi taura). (***/gr)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *