Tarian Kabasaran Minahasa Menembus Pentas Dunia

Foto: arian Kabasaran Minahasa (gr)

INDONESIA memang kaya akan budaya seni dan tari. Namun di tengah hiruk pikuknya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, budaya seni dan tari di Indonesia lambat laun juga semakin terjepit bahkan terancam punah. Melihat kondisi yang kurang menguntungkan itulah, Sanggar Bapontar Jakarta mencoba untuk melestarikan Tarian Kabasaran Minahasa, Sulut.

Foto: arian Kabasaran Minahasa (gr)
Foto: arian Kabasaran Minahasa (gr)

Sanggar Baponta yang berdiri pada tahun 2002 pimpinan Beiby Sumanti menginginkan Tarian Kabasaran yang sudah ratusan tahun dikenal oleh  masyarakat Minahasa itu tetap eksis meski terpaan budaya asing masuk ke Indonesia tak mungkin dibendung lagi.

Bacaan Lainnya

Tarian Kabasaran itu sendiri sejarahnya bermula dari salah satu upaya masyarakat di Minahasa melawan penjajah Portugis. Dengan menggunakan alat  berupa pedang seperti layaknya orang mau berperang, tarian Kabasaran sudah menjadi ikon bukan saja bagi masyarakat Minahasa juga Sulawesi Utara  (Sulut). Maka tak mengherankan tarian ini sudah masuk dalam salah satu aset budaya Sulut dan bahkan Indonesia yang tetap dilestarikan.

Mack Julian Lesar, salah satu pelaku dan pembina tarian Kabasaran mengaku di hampir semua kecamatan di Minahasa memiliki kelompok tari Kabasaran  ini. Mack pun sadar, dengan sering diberi kesempatan untuk tampil dalam setiap acara baik yang sifatnya keagamaan maupun kenegaraan, tarian  Kabarasan masih bisa dijaga kelestariannya.

Foto: Personil Tarian Kabasaran Minahasa. (gr)
Foto: Personil Tarian Kabasaran Minahasa. (gr)

Menurut Mack, tarian Kabasaran ini sudah tak terhitung lagi diundang pada berbagai kegiatan. Bahkan pada peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-70 pada  17 Agustus 2015 tampil di Istana Negara. ”Kami bangga tarian Kabasaran diberi kepercayaan mengisi cara seni dan taria di Istana Negara, apalagi pada  perayaan HUT Kemerdekaan RI,”kata ayah tiga orang anak dari hasil perkainannya dengan Tineke Manayang ini.

Uniknya, lanjut Mack, tarian Kabasaran ini tak hanya dilakoni oleh warga Kawanua (sebutan bagi orang Sulut) juga bagi dari suku lain seperti Jawa, Sunda,  Batak, Padang, Ambon dan Kalimanan. Karena prinsipnya seni budaya tari itu harus lintas suku dan bahkan agama. Sesuai dengan semboyan hidup orang  Kawanua, ”Torang Samua Basudara (Kita Semua Bersaudara).

Untuk lebih mengembangkan tarian Kabasaran ini supaya lebih mendunia, melalui Sanggar Baponta, tarian ini bergandengan tangan dengan musik  kolintang yang sudah lebih dulu mendunia. Dalam waktu dekat ini, tarian Kabasaran akan merambah sejumlah negara di Eropa. Seperti diketahui musik  kolintang sujdah pernah masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan membuat kolintang inspirasi Indonesia 25 pada tahun 2013. (Olii/gr)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *