Tafakur Sunyi: Ziarah Panjang Penyair Foeza

  • Whatsapp

Oleh. Tatan Daniel

“Masih adakah puisi hari ini?” Ini sepotong dialog pada pentas Teater Satu, “Jalan yang Tak Ditempuh”, di sebuah malam yang hangat pada hajatan Jakarta International Literary Festival beberapa hari lalu. Percakapan mengenai jalan sunyi kepenyairan yang seakan tanpa ujung, suram, dan tak terpahami, yang terasa mengiris.

Kami baru saja keluar dari Kedai Gado-gado Boplo, ketika kemudian menyelinap ke dalam kegelapan ruang Teater Kecil TIM, bersesak menyaksikan dengan khidmat tiga aktor di panggung, di bawah cahaya lampu yang suram, saling mempertanyakan jalan pikiran mereka. Sesekali terdengar suara mesin ketik mengisi sunyi yang berat.

Oh, ternyata masih ada puisi hari ini, saya berkata dalam hati, tatkala di Kedai Gado-gado sore itu, saya mendapatkan buku puisi Foeza Hutabarat, “Tafakkur Sunyi”. Buku lima puluh lima halaman, yang memuat 50 puisi yang terbagi atas dua bagian, Tafakur dengan 21 puisi, yang sarat dengan tema kontemplasi, dan Shaum dengan 29 puisi, yang berzikir tentang penyucian jiwa. Diciptakan sepanjang kurun waktu 2013 sampai 2019.

Saya mengenal Foeza sejak tahun 1978, di Medan, sebagai seorang muda yang produktif, dengan sajak-sajak, cerpen, cerbung, artikel, serta sketsa dan vignet-vignetnya mengisi ruang sastra dan budaya di berbagai suratkabar Medan dan Jakarta, di antaranya majalah Hai, Zaman, dan Horison.

Antologi ‘Tafakur Sunyi’ karya Foeza Hutabarat

Tahun 1981, sastrawan yang salah satu cerpennya, “Lidah”, diterjemahkan oleh Sue Piper dan termaktub dalam buku Menagerie 5, terbitan Lontar Foundation (2003), hijrah ke Jakarta. Ia pun sempat bergiat di Gelanggang Remaja Bulungan, lalu malang melintang sebagai redaksi dan editor di beberapa penerbitan.

Membaca sajak-sajak yang termaktub dalam buku Tafakur Sunyi, melayangkan ingatan saya pada sosok Foeza muda yang tenang, berambut kribo bagai Gito Rollies, yang pada usia belasan sudah menjadi redaksi halaman sebuah mingguan di Medan. Juga mengelola tabloid Selokan, yang diterbitkan oleh Semud (Seniman Muda) Medan, diakhir 70-an sampai awal 80-an. Sebuah antologi puisi sempat pula ia terbitkan pada tahun 1980, bertajuk Langkah-langkah Pendek; upaya pendokumentasian karya yang langka dilakukan oleh penyair muda masa itu.

Belakangan, Foeza yang pernah juga menulis buku cerita untuk anak, salah satunya diterbitkan oleh Balai Pustaka, asyik menulis ‘haiku’, puisi pendek khas Jepang, yang disajikan dalam tiga larik (triplet). Salah satu haiku-nya dimuat dalam Anthologies of Universe (2016).

Rentang kepenyairan Foeza yang terhitung lebih empat puluh tahun, menulis dan menulis, bagi saya luar biasa. Perjalanan panjang seorang penyair yang patut dicatat. Khususnya, bila ditilik dari kiprah kawan seangkatannya semasa di Medan dulu, yang hari ini nyaris tak ada lagi yang bersetia dengan puisi. “aku hanya penempuh di almanak waktu/didera angin, panas dan hujan/di bawah langit Kau bentang/makin tinggi tanpa batas/tak teretas..” Demikian ia menulis di sajak pembuka, Tafakur 1. Pernyataan pengakuan dan penyerahan atas perjalanan waktu yang telah ia tempuh. Melintasi tahun-tahun usia, menuju “diam bersemayam sunyi/menunggu neraca menghitung sendiri..”

Kehadiran Tafakur Sunyi, dengan sejumlah renungan puitik sepanjang hari dalam sebuah bulan penyucian, Ramadhan, lantas terasa bukan semata sebagai penanda perjalanan seorang penyair. Atau kegelisahan yang mendera, di antara pencarian dan pertanyaan “lewat pintu yang mana/sunyi lari dan pecah di udara?” (Tafakur 6). Ia justru menghadirkan kematangan renungan, sebagaimana ia sebutkan: “aku tersungkur di sajadah wangi kesturi/semerbak aroma para guru yang kukenali/kuulangulang mengaji diri/kusisirsisiri jejak pencarian para sufi..” Tafakur demi tafakur ia lakoni. Shiam demi shiam, pengosongan hasrat untuk menggapai kemurnian jiwa. Menghantarkannya pada lamat-lamat gemericik mata air, semacam zikir tentang Sang Semesta, tanah tak berjejak. Melantunkan Cinta yang ingin dikenali, enigma yang sukar dibaca pintunya, dan penyair Foeza terus-menerus mensujudkan ikhtiar, melafazkan rindu.

Demikianlah laku penyair, seperti dikatakan oleh Orhan Pamuk: “mengubah tatapan batin ke dalam kata-kata, mempelajari dunia yang darinya dia mengundurkan diri saat dia memandang ke dalam dirinya sendiri, melakukannya dengan kesabaran, dan kegembiraan..”

Foeza mendudukkan puisi-puisinya kini sebagai doa. Merekam bentang pengalaman batin di atas jalan panjang pengembaraan di dunia luar tubuh, yang bermuara pada kesadaran ikhwal ketiadaan yang mengintai: “di lorong panjang dan jauh/tak kutahu namanya/keranda melayang bak layangan/mengusung diam dan sunyi/sebelum lesap terhisap cahaya”.

Pada bagian lain ia, mengolah sentuhan dan tanggapan batin, rasa keindahan, pengalaman hidup, keperihan hati dan keharuan, menjadi larik-larik yang sejuk, rimbun, dan menenteramkan, yang disemat dalam lukisan metafora yang indah: “lafas rindu berupa pohonpohon/di bibir danau, bergetar diterpa angin/jadi ikanikan berenang riang/mengikuti irama laju perahu” (Shaum 12).

Menelusuri limapuluh puisi Foeza, makin jauh saya menemukan kesunyian. Sunyi yang khusuk, dengan percikan-percikan bunyi, suara-suara yang bersipongang di dasar hati. “Diamku/sujud yang bergetar”, ujarnya penutup puisi Tafakur 12.

Terima kasih, sahabat saya Foeza. Telah berbagi lorong perenungan, di tengah keriuhan pagi, terik sepanjang hari, dan malam-malam yang melintas, yang kerap kali terasa bagai penyamun. Tafakur Sunyi menjadi momen perziarahan pada kenangan persahabatan dan gemuruh semangat berpuisi puluhan tahun yang lalu, sekaligus percakapan transenden diantara sisa waktu yang tak terbaca rumus dan perhentiannya. Tahniah, dan tabik, sahabat saya, dan teruslah menulis. (**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *