Segenggam Cinta Dari Tanah Garapan

  • Whatsapp
Ilustrasi Cerpen Segenggam cinta dari tanah garapan. (ist)

Cerpen karya: Malubi

MALAM semakin pekat. Suara-suara binatang malam pun telah sirna. Hanya desir angin yang terdengar manis menerobos celah-celah dinding tepas. Sementara mataku belum juga bisa terpejam. Sekali-sekali kupaksa memejamkan kedua kelopak mataku,tapi tak juga aku bisa tidur. Padahal kurasa sudah berjam-jam aku membaringkan diri di atas rosbang yang hanya beralaskan tikar pandan yang sudah koyak-koyak pinggirnya itu.

Kucoba lepas pandang ke jam beker di atas meja, e, ternyata sudah lewat pukul dua. Pantas dingin makin merasuk. Kupejamkan mata yang tak juga mau kompromi itu.

“Jangan paksa aku, aku masih ingin berjaga,” kata mataku.
“Biarin, kau harus istirahat. Kalau kau tak dipaksa, kau tak mau tidur.

Besok, gara-gara kau yang tak mau terpejam, semua akan turut merasakan. Aku tak mau jadi sasaran, apalagi dibuat jadi sumber makian. Aku sudah lelah. Sudahlah, tidurlah.”

Kupejamkan terus mata itu, sampai akhirnya hampir terlayang, tapi ternyata aku harus juga mengalah. Aku tiba-tiba tersentak dengan suara langkah seseorang yang berlari di depan rumahku. Kutinggalkan kantuk, aku melompat ke arah pintu, kutarik klewang yang kuselipkan di balik pintu itu. seraya menarik kayu pengganjall pintu, dan seperti pendekar sakti, aku sudah siap bertempur dengan siapa saja. Kuawasi sekeliling rumah, tak ada siapa-siapa. Tapi kecurigaanku terus menghantui, pasti ada sesuatu yang tak kuinginkan. Apa yang terjadi???

Perlahan aku bergerak ke samping sambil terus mengawasi. Hati-hati sekali. Sesampainya di dinding sudut rumah, langkahku berhenti. Seperti ada sesuatu yang tengah terjadi. Ada suara lalang kering yang terbakar.

Tanpa menunggu, kuacungkan klewang sambil mengejar ke arah suara itu. Betul, api mulai membakar dinding tepas rumahku. Seketika aku teringat rumah nenekku yang dulu terbakar, mereka panik, akhirnya rumah itu ludes tanpa meninggalkan sisa. Setelah peristiwa itu, aku dapat pelajaran dari guruku, bila menghadapi kebakaran, rumus yang paling jitu hanyalah ketenangan. Dengan konsentrasi yang dibangun, kita akan mampu melemahkan kekuatan api.

Kucoba untuk tenang dan fokus pada pekerjaan yang harus aku lakukan. Sebuah keset goni yang terletak di depan pintu segera kuambil dan memukul padam api yang baru mulai menjalar itu. Aku hanya mampu menghapus dada. Kuhela nafas yang penuh kecamuk, sampai hati orang membakar rumahku. Rumah reot dan tak punya prabotan itu akan mereka musnahkan? Kebencian apa yang merasuki jiwa orang itu? Begitu bencinya ia padaku, padahal yang kutahu aku tak pernah punya musuh di sudut mana pun di dunia ini.

“Wooooooooiiiiiii….., kalau kau berani lawan aku! Manusia pengecut, kemarii kau…….., rumah ini tidak bersalah. Kemari kau……., kemari……., siapa pun kau akan aku hadapi. Kemari kau biadab, manusia kerdil, manusia pengecut, manusia tak punya hati.”

Aku tak tahu kalau aku seperti orang kerasukan setan. Aku menjerit sekuatku, tapi tak satu pun orang yang datang melihatku. Suaraku hilang begitu saja ditelan malam. Hening kembali. Sepi berselimut dingin. Kuawasi sekeliling yang sepi, tak juga ada siapapun.

“Hei, ada apa kau ini. Kenapa ribut?” tiba-tiba istriku sudah muncul di depan pintu. Tangannya memegang daun pintu yang setengah terbuka itu.

“Ada orang usil. Rumah kita ini mau dibakarnya,” kataku, seraya menghampiri istriku yang sedang sakit itu.

“Masuklah kau ke dalam. Di sini dingin. Tidak baik bagi kesehatanmu,” ajakku berusaha menuntun tangannya masuk ke dalam rumah.

“Biarlah aku di sini dulu. Di sini enak. Tidurku tadi sangat nyenyak. Pasti tak bisa lagi aku tidur sampai subuh. Siapa yang tak suka dengan kita ini, ya?”

“Ya, namanya juga hidup. Ada yang suka dan ada yang tak suka.”
“Tapi sampai hati kali orang itu. Tak punya hati nurani. Orang tak punya sepertii kita ini yang mau dia bunuh, begitu banyak orang-orang kaya yang punya banyak harta, kenapa justru warga miskin yang juga sakit-sakitan ini yang mau mereka rampok?”

“Ya, kelihatannya memang begitu. Mereka itu tidak peduli dengan siapa saja. Bagi mereka seolah semua yang bersisik itu adalah ikan.”

“Padahal nenas juga bersisik,” sambung istriku sambil melempar senyum di wajahnya yang membayang garis-garis keriput.

“Ya, lewat pepatah lama itu yang pernah aku ucapkan dulu di kelas membuat kau tersenyum, dan kau kerdipkan matamu, sepontan juga aku balas kerdipan mata itu. Saat itu betul-betul jantungku berdegup begitu cepat, dan kuberanikan keesokan harinya menulis surat padamu. Aneh, padahal kita satu kelas, kenapa tak kuucapkan saja aku sayang padamu, kenapa harus kutulis dalam kertas wangi bergambar bunga mawar itu?”

“Ya, jawabnya, karena kau tak punya keberanian mengatakan itu, lantas kau tulis surat itu, dan kau tak juga berani memberikan kepadaku. Kau hanya berpura-pura duduk di bangkuku, dan kau masukkan surat itu ke dalam tasku. Aku melihat itu, tapi aku pura-pura tidak tahu.”

“Indah sekali masa itu. Kenangan SMA yang tak pernah aku lupakan.”

“Kenangan manis itu takkan pernah pudar. Dia akan terus bersemi, karena janji kita telah kita pahat di lubuk hati yang sangat dalam. Hanya saja, sampai hari inii kita masih belum diberikan keturunan.”

“Wahai istriku, kau tetap cantik. Kau tetap menggairahkanku. Meskipun kita sudah diusia senja, tapi aku masih merasakan saat-saat kita masih di SMA dahulu. Kita telah sepakat untuk tidak mengenal yang namanya putus asa. Tuhan pasti sayang sama kita. Ayolah dinda, kita ke peraduan, malam semakin dingin, kesehatanmu masih belum pulih.” Kuraih tangannya yang satu lagi, kugenggam jemarinya, kutuntun masuk ke dalam bilik. Aku teringat saat di perkemahan dahulu menuntunnya masuk ke dalam tenda ketika terjadi musibah kecil terpeleset di pinggir sungai.

Kami memang tidak bisa tidur lagi. Seribu kantuk telah hilang. Aku dan Dinda istriku duduk di pinggir tempat tidur. Seperti biasa kalau terbangun tengah malam, kami bercerita tentang masa lalu, masa sekarang dan hari yang akan datang. Banyak yang kami ceritakan. Kisah-kisah lalu itu kembali mengalir, laksana air sungai yang jernih, airnya mengalir sampai jauh menebar aroma mawar.

Hidup kami memang seakan tak pernah lekang dari cobaan. Waktu di SMA, aku harus adu jotos dengan si Ramli Ketua Kelas kami, hanya karena memperebutkan Dinda. Aku tahu Dinda lebih sayang kepadaku, tapi Ketua Kelas itu terus mengganggu Dinda sampai-sampai Dinda menangis. Karena itulah aku membuat perhitungan dengan Ramli yang pemain karate itu. Aku tak peduli dengan bela dirinya, akhirnya ia minta maaf juga setelah perkelahian kedua. Yang pertama di lapangan, dan yang kedua di kelas saat jam istirahat.

Waktu akan melamar Dinda, Ibunya tak setuju hanya karena aku dari keluarga miskin, kata ibunya Dinda akan dinikahkan dengan seorang dokter. Tapi Dinda mengatakan kepadaku bahwa ia tidak suka dengan dokter itu. Ia lebih mencintaiku, meski aku hanya seorang penyiar radio.

Karena jalan buntu yang kami hadapi, akhirnya kami sepakat untuk kawin lari. Aku memang tak punya persiapan, apalagi uang yang aku punya hanya pas-pasan saja. Aku punya teman baik seorang supir bus ALS. Dia yang menyelamatkan kami dari Medan sampai ke Jakarta.

Sampai di Jakarta timbul permasalahan baru. Kami tidak tahu kemana tujuan. Lagi-lagi supir ALS itu jugalah yang mencarikan rumah kontrakan pada kami. Ngontrak satu kamar di rumah Bu Rosni di Klender. Orangnya baik dan banyak memberikan pertolongan dan pandangan-pandangan hidup pada kami.

Lima tahun bertahan hidup di Jakarta tanpa pekerjaan yang jelas. Apa saja telah aku lakukan sepanjang pekerjaan itu halal. Ngamen berdua dengan Dinda, juall asongan di Pulo Gadung, ngajar ngaji di rumah Pak Halim, ikut metro mini. Entah apa saja telah kami lakukan, hingga kami disuruh pulang kembali ke Medan karena ayah Dinda sakit keras.

Kami diterima di lingkungan keluarga Dinda kembali. Peristiwa lalu telah kami kubur. Dan aku mulai dengan hal yang baru, berdagang ikan asin di pasar Aksara, hanya berjalan setahun usahaku sudah bangkrut, lalu buka usaha baru jual pakaian jadi di pasar Sukaramai. Alhamdulillah usaha kami maju pesat, kami punya empat pintu kios, selain aku dan Dinda, kami ada anggota empat orang lagi. Tapi mujur tak dapat di raih, malang tak dapat ditolak, kios kami dilalap si jago merah. Habis, tak ada yang terselamatkan barang-barangnya.

Sejak itu pula, Dinda mulai sakit-sakitan. Dalam sebulan terkadang dua atau tiga kali opname ke rumah sakit. Rumah satu-satunya yang kami miliki di Jalan Medan Area Selatan pun harus terjual untuk biaya perobatan istriku Dinda. Dua buah mobil juga lenyap.

Dinda sebenarnya sudah pasrah. Katanya tak usah berobat-berobat lagi. “Biarlah kutunggu datangnya kematian itu,” kata Dinda padaku pasrah. Dan ia menganjurkan agar aku menikah lagi. Ia ikhlas dengan kondisi ini. Tapi, apa yang dikatakan Dinda itu kutepis. “Biar seluruh hartaku habis, dan bahkan jiwaku melayang, aku tetap menjagamu. Aku tetap mengobatkanmu sampai kau sembuh. Dan apapun yang terjadi, aku tidak akan mencari penggantimu. Bersabarlah, Dinda,” bisikku memberikan semangat baru kepadanya.

Bola matanya berkaca-kaca, jemari tangannya meremas jemariku, sepertinya kematian itu telah dekat sekali akan datang menjemputnya. Tatapannya menembus relung jiwaku. Aku terus memberikan semangat agar ia kuat, agar ia tegar.

“Cinta kita takkan pernah padam, Dek. Kita lebih tegar dari karang di tengah samudra, akan kita terjang segala rintangan yang datang membelenggu. Cinta adalah permata berharga diantara segala yang berharga,” bisikku lagi. Kucium keningnya, kubelai bibirnya yang tetap manis mungil.

Seperti biasa, hal-hal demikian membuat ia cepat tegar. Semangatnya mengalahkan segala penyakit yang menyelimuti. Dinda memang perempuan yang kokoh. Dalam kehidupan ini kami saling mengisi. Tak pernah kami saling membiarkan, apalagi mengecewakan yang lain.

Perjalanan hidup yang terus melanda, jatuh dan terjerembab, akhirnya kamii tercampak ke tanah garapan di Batangkuis, yang kami beli dengan harga murah darii seseorang. Tapi, permasalahan pun terus datang menjemput kami. Sudah dua kali lelaki-lelaki berbadan tegap datang kepadaku menawar rumahku, kubilang kalau rumah itu aku jual, lalu dimana lagi aku tinggal? Aku menolaknya. Dan istriku juga tidak mengizinkan kalau rumah gubuk ini kami jual.

Setelah itulah, setelah berjalan beberapa hari, rumah kami pun dibakar, entah siapa dia, entah apa maunya, aku tak tahu. Tapi siapapun dia yang mencoba mengusik cintaku yang masih tersisa di tanah garapan ini, aku tetap akan mengadakan perlawanan. Biar aku dan Dinda terkubur di si sini, itu jauh lebih baik daripada aku terusir dari tanah negeriku sendiri.

Dingin terasa kian membeku. Dari kejauhan terdengar suara azan sayup-sayup sampai.

“Dinda, subuh sudah masuk.”
“Cepat sekali waktu ini bergulir.”

“Ya, tanpa terasa kita sudah jadi kakek dan nenek. Dan ingatkah kau usia pernikahan kita hari ini telah memasuki 50 tahun. Selamat, ya Dinda.”
“O, ya? Sungguh luar biasa. Aku tak ingat kalau tak kau ingatkan. Betapa panjang sudah perjalanan kita.
“Trimakasih wahai suamiku yang mencintaiku lahir dan batin. Semoga Allah memberi barokah kehidupan ini bagi kita, meski aku tak mampu memberikan keturunan untukmu.”

“Dinda, istriku, pujaan hatiku. Betapa aku bahagia, bila melihat dirimu bahagia. Sepanjang jalan telah aku tumpahkan segala kekuatan, tapi malang selalu menjemputku. Aku tak mampu memberikan materi untuk memenuhi kebahagiaanmu. Kemiskinan dan penderitaan selalu menjerat langkah kakiku, tapi kau bahkan semakin menaburiku dengan wewangian mawar. Itu yang membuat aku kokoh melangkah meski tulangku sudah semakin rapuh.”

“Meski kita tak punya apa-apa, tapi aku merasakan kekayaan hidup di sisimu. Telah kutoreh darah cintaku untuk menjadi bidadarimu selamanya di bumi dan dalam surga yang penuh kedamaian itu.”

Dinda lalu menciumku, memelukku, kurasakan kehangatan tubuhnya yang begitu kuat menepis dingin. Wajahnya ia sandarkan ke dadaku memasrahkan hidup. Setetes airmatanya kurasakan jatuh membasahi dadaku yang telanjang.

“Ada apa, Dinda, kenapa kau menangis?” bisikku lembut ke ujung telinganya.

Ia tak menjawab. Dinda diam seribu bahasa. Lalu kuulang pertanyaan yang sama, Dinda tetap diam tak bersuara. Sesaat tubuh itu berubah jadi dingin, dan semakin dingin. Dengus nafasnya yang harum bagaii kesturi tak lagi kurasakan, dan tubuh itu pun perlahan kaku. Denyut nadinya telah diam, diam…, semua diam. Subuh telah membeku. (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *