Rindu Tersimpan di Lembah Harau (1)

oleh -645 views
Foto: Lembah Harau. (Kirana Kejora)

Oleh Kirana Kejora

Sebulir Embun Pagi di Bukit Tinggi

“Aku memiliki renjana atasmu yang bukan saujana, namun murni aku datangi dengan seluruh hati.”

Sedikit puitis, tak apa, sebab manusia ada kalanya memang hidupnya berpuisi. Begitu pun dengan saya. Kalimat itu memiliki arti, saya memiliki cinta kasih, rasa, dan rindu yang bukan hanya sejauh mata memandang, namun jelas nyata saya datangi dengan sepenuh hati. Kalimat spontan itu lahir dari kedalaman nurani saya saat berada di tempat yang bukan hanya elok, namun sangat eksotis bernama Lembah Harau.

Foto: Lembah Harau. (Kirana Kejora)
Foto: Lembah Harau. (Kirana Kejora)

“Onde mande rancak bana…”

Kini bumi kata-kata itu telah saya pijaki dengan sekian amunisi huruf, yang akan terbentuk menjadi kalimat, sebagai wujud cinta pada sebuah lembah yang konon dulunya adalah laut.

Hati kecil saya sangat terusik, mengingat saya penulis yang juga lulusan dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, sangat lekat dengan semua yang berbau laut. Namun di sini saya tak serius bicara tentang Lembah Harau dari sisi ilmiah lautnya. Mungkin nanti ada saatnya saya bisa datang kembali dengan teman-teman geolog maupun kelautan.

Ah! Banyak sekali materi alam bisa saya ungkap di lembah yang berada di Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat ini.

Kelana Hati ke Lembah Harau

Pagi itu, setelah sarapan, saya keluar dari sebuah hotel di pusat kota Bukit Tinggi, lalu berjalan beberapa meter untuk menyapa “Bung Hatta” di taman asri yang melingkupi patung besarnya.

Tak jauh dari situ, saya berkunjung, untuk belajar menata waktu dengan berfoto diri di salah satu ikon Bukit Tinggi, yaitu Jam Gadang. Berlanjut ke Cagar Budaya Bung Hatta untuk semakin menguatkan passion menulis dan semangat terus belajar ‘kehidupan’.

Foto: Pagar Tebing Lembah Harau. (Kirana Kejora)
Foto: Pagar Tebing Lembah Harau. (Kirana Kejora)

Setelah ‘sinau’ di Museum Bung Hatta, saya bersama tim dari Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat menuju kelana utama, yaitu ke Lembah Harau.

Perjalanan terasa singkat karena banyaknya pemandangan alam yang memikat. Lembah, bukit, sungai-sungai kecil dengan rerimbunan pepohonan di kanan kiri jalan, di antara pemukiman dan keramaian kota Payakumbuh kami lewati.

Dari kota Bukittinggi perjalanan arah ke timur menuju Payakumbuh yang berjarak sekitar 33 km, dan melanjutkan perjalanan sepanjang 13 km, sekitar 20 menit sampailah di pintu gerbang dengan gapura beratap rumah gadang bertuliskan “Selamat Datang di Harau Resort.”

Lembah Harau, suatu lembah nan subur yang terletak di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota. Topografi Taman Wisata Alam Lembah Harau yang luasnya 27,5 hektar berada di dalam kawasan Cagar Alam Lembah Harau dengan luas total 270,5 hektar adalah berbukit-bukit dan bergelombang.

Tinggi dari permukaan laut 500 sampai 850 meter, bukit tersebut antara lain adalah Bukit Air Putih, Bukit Jambu, Bukit Singkarak dan Bukit Tarantang.

Hati terasa adem saat semakin jelas bukit dengan hamparan sawah di sisi kanan kiri jalan. Dipercantik dengan beberapa villa, homestay yang bertebaran di tengah luasnya karpet hijau alam yang mulai memukau.

Menatap lekat dan sangat dekat Lembah Harau, membuat saya terharu karena merasa benar-benar bisa mengunjunginya secara nyata.  Harau berasal dari kata “orau”.

Bermula saat sering terjadi banjir di Bukit Jambu yang juga sering runtuh hingga menimbulkan kegaduhan dan kepanikan penduduk setempat. Mereka pun sering berteriak histeris saat bencana itu datang. Hal ini menimbulkan suara “parau” bagi penduduk yang sering berteriak histeris. Dengan ciri-ciri suara penduduk yang banyak “parau” didengar oleh masyarakat sekitarnya, maka daerah tersebut dinamakan “orau” dan kemudian berubah nama menjadi “arau” sampai akhirnya menjadi “harau”.

Foto: Lembah Harau depan titik ech. (-koleksi Kirana Kejora)
Foto: Lembah Harau depan titik ech. (-koleksi Kirana Kejora)

Lembah Harau terbentuk akibat adanya patahan turun atau block turun membentuk lembah yang cukup luas dan datar. Salah satu tanda-tanda di mana lokasi patahannya, adalah dengan munculnya banyak air terjun. Artinya, dulu ada sungai yang terpotong karena patahan turun, sehingga membentuk air terjun. Secara geologi, batuan Lembah Harau berumur sangat tua, antara 30-40 juta tahun. Batuan seumuran ini begitu halus, berupa serpih yang
merupakan batuan yang banyak mengandung organic carbon.

Tim geologist dari Jerman, pada tahun 1980, meneliti jenis bebatuan yang terdapat pada Lembah Harau adalah jenis batuan breksi dan konglomerat, jenis bebatuan yang umumnya terdapat di dasar laut. Hal ini menguatkan cerita legenda Lembah Harau yang dulunya adalah laut. Banyak yang bisa diteliti, digali di sini, akan menghasilkan banyak tulisan dari berbagai sudut pandang. (Bersambungkey/gr)