Pujisari Kabupaten Malang Miliki Topeng Berumur 100 Tahun

  • Whatsapp
Foto: Topeng Malangan berusia 100 tahun (al)

MALANG – Pujisari Kabupaten Malang (Pusat Kerajinan dan Seni Singosari) bertempat di lingkungan UPTD Prindag Kawedanan Singosari, memiliki produk dihasilkan dari karya karya pengrajin yang siap diorbitkan sebagai nilai kebudayaan dan kesenian murni berasal dari bumi Malang “Selain pusat dagang kerajinan seni, juga sebagai pusat study kerjainan dan seni kebudayaan, hasilnya juga bisa dipasarkan dan dipamerkan” jelas Yuni, Kamis (19/1/2017).

Adapun PUJISARI (pusat kerajinan seni Singosari) sebagai puasat perdagangan karya tangan tangan masyarakat Malang Raya, dimana sudah berjalan lama dipasarkan, namun tak kalah menarik bahwa dilingkungan UPTD tersebut ada pusat study kerajinan sebagai wahana edukasi bagi generasi muda.

Muat Lebih

Pegiat seni dan kebudayaan, Joko Rendy mengatalan, pusat study kerajinan, sebagai pusat edukasi kesenian dan kerajinan budaya asli Malang, mampu menjaga dan menciptakan lingkungan generasi muda untuk melesatrikan nilai budaya asli Malang. Supaya tidak hilang digerus globalisasi yang semakin instan.

Joko Rendy selaku pegiat seni dan kebudayaan yang memiliki central sebagai markas berjualan hasil karya-karya keseniannya.

“Pujisari ini selain tempat perdagangan pengrajin dan seni, namun juga pusat study kesenian yang mampu menjaga generasi muda dari budaya instan,” tegas Joko yang juga sebagai pengurus dewan kesenian Malang, kepada wartawan.

Sebagai penggiat seni, Joko Rendy banyak melahirkan karya-karya Topeng Malang yang dipamerkan dalam etalase, sehingga nampak jelas beragam karya seni yang dihasilkan jika dilihat dari luar ruangan disaat pengunjung datang.

Hal itu sengaja dibuat oleh UPTD Prindag Singosari untuk memfasilitasi setiap pegiat seni dan kerajinan. “Topeng dan karya seni ini saya buat, selain diperdagankan juga untuk dipamerkan dan ditampilkan setip ada gelaran seni dimalang,” ucapnya sembari memamerkan karya-karyanya.

Topeng dan karya seni Joko Rendi (al)

Karya Joko Rendi nampak jelas karakter pada ‘Topeng Malangan’ yang begitu tegas di wajah idealisnya. Itulahn salah satu sikapnya dalam menjaga dan melestarikan budaya asli Malang.

“Topeng malang sebagai budaya seni asli Malag harus dijaga dan dilestarikan sebagai nilai eksistensi bumi ini,” tegasnya.

Joko Rendy pun memiliki koleksi ‘Topeng Malang’ yang berumur berkisar 100 tahun. “Topeng ini umur nya sudah 100 tahun” ucapnya sembari menyampaikan beberapa karya seni lain yang dimilikinya.

Karya lain yang dihasilkan tidak hanya Topeng Malangan, namun ada sovenir bernilai seni dan kebudayaan khas Malang, seperti halnya vas bunga, tempat perhiasan, asbak, tempat parfum mobil semuanya berkarakte dan terbalur dari cerminan Topeng Malangan.

Selain itu, Joko Rendi juga mampu membuat piala penghargaan dengan bentuk ornamen khas Topeng Malangan dari beragam material, seperti logam, besi, perak dan fiber.

Tak kalah berkesan Joko Rendi juga memproduksi topeng yang tebuat dari coklat. “Topeng ini terbuat dari coklat, dengan beragam karakter, seperti coklat patung kendedes, coklat candi singosari, coklat berbentuk Topeng Malangan,” bebernya.

Joko Rendi berharap, agar generasi muda terutama pemuda-pemudi Malang, agar mampu melesatarikan dan menjaga cagar budaya ‘Topeng Malangan’, sebagai nilai seni yang melekat dalam diri masyarakat Malang ytang lahir dari bumi Singasari. (al/gr)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *