Puisi Bernuansa Politik Karya Porman Wilson

  • Whatsapp
Foto: Porman Wilson (ist)

Sajak : Porman Wilson Manalu

Surat untuk Presiden

bapak presiden
semoga bapak suka surat ini
karna kutulis sembunyi-sembunyi
agar teman-teman tak bikin ribut

bapak, walau aku masih duduk di sekolah dasar
izinkan aku ikut relawan
anak-anak disana pastilah kesepian anak-anak butuh teman bermain
anak-anak butuh teman cakap

bapak presiden, aku ikhlas menolong
aku pernah main dokter-dokteran
aku juga bisa menjaga adik bayi aku juga bisa masak dan mencuci
sebelum mereka tidur aku juga bisa baca puisi

pak, apa betul kendaraan kesana sulit
kata ibuguru jadwal penerbangan tak tentu
kalaupun ada pesawat delaynya lama
kata emak, tak boleh karna tak ada duit
kata nenek, tak boleh karna ngga ngerti

aku coba minta izin ke pak kades
jawabnya ngga bisa, masih anak-anak
minta izin ke pak camat
ngga boleh belum pengalaman
tulis surat ke pak bupati, tak dibalas-balas
tulis surat ke pak gubernur, apalagi…

bapak presiden aku rindu mereka
kirimlah aku ke pengungsian
kalau tak ada pesawat
via massenger atau WA, aku juga mau

(medan, 2017)

Presidenku

gondang menggema tortor menghentak
di tanah batak presidenku diberi tungkot
tunggal panaluan diukir di hutan
kami saksikan bersama angin

dengan tungkot itu
aku tahu semangatmu
tidak seperti para datu
komat-kamit tak menentu

genggam erat tungkotmu
abaikan keluh si aji donda hatahutan
abaikan rengek si boru tapi nauasan
biarkan datu-datu gelantungan

presidenku… taganing telah ditalu
angkat yang tinggi tungkotmu
maju dan kepalkan tangan
alam akan nyanyi bersama

dari samosir kau memandang
berdiri tegak seperti gunung
suatu saat kau bermimpi, terkenang
datu baragas tunggal, nan sindak panaluan

(medan, 2018)

Semakin Malam

bunyi lonceng jam rumah tua itu
mencubit telingaku, merinding malam tadi
seekor kucing belang melintas, sunyi
semakin sunyi membius nafsu

dentangnya kian keras
lagu kodok bersahutan di nyanyian malam
diiringi tarian sekelompok nyamuk
aku ambil satu kaleng bekas lalu kulempar
ke tiang telepon, simfoni ambruk

dering telepon berulang memanggil
bermula dari rumahku
lalu seluruh rumah ikut bunyi
tak ada yang menyahut
orang-orang lagi mencari angin
anjing dan kucing jaga rumah

semakin malam
gonggongan anjing terdengar panjang
kucing belang di atap rumah menatap bulan
kodokkodok mulai ngantuk
lagu angin berkumandang

orangorang membawa angin
pulang ke rumah duduk di teras samping komat-kamit menyanyikan sebait syair
basuh kaki, basuh muka basuh kepala
mengantar kepergian bulan

fajar menyingsing
orangorang pangling
kabel putus digigit maling
aku tak dengar lagi telepon berdering

(mabar, 2017/2018)

Sandiwara Matawarna

teringat mata merahmu
menatap tajam mata biruku
kita bersama main mata
sepakat tidak berkata-kata

di depan meja berketok palu
banyak mata memandang
kuning putih hijau tertawa riang
ada juga menitikkan airmata

sandiwara matawarna berlangsung
penonton bingung cari tempat
sutradara belum terlihat
layar tertutup
lakon ditunda minggu depan

entah sudah berapa lama
mata kita beradu pandang
dalam satu gedung membosankan
dalam satu naskah menjijikkan

meja diketuk layar dibuka
pelakon busung dada kayak aktor
teringat mata kita, aku menangis
menangisi permainan ini
yang belum tentu selesai

(medan, 2017)

Kaulah Raja

semua kata kau kunyah sendiri
tiada sisa, orangorang pun bisu
giliran angin, pepohonan bicara
pada air bebatuan di sungai
pada tanah tak butuh kata

segala asa kau sita, tak ada luka
orangorang diam terpana
giliran burung berkicau
pada kucing mengeong
pada harimau tak butuh asa

semua khayal kau paku
tiada pilu, orangorang tersipu malu
giliran kursi berjalan sendiri menghampiri meja lemari
yang tak butuh mimpi
kaulah raja
kaulah semuanya

(medan, 2017)

Surat dari Putri

bapak, hidup putri begitu enak
ke sekolah pakai mobil mewah
uang jajan lebih banyak
tapi pak, putri tak sekolah lagi
malu diejek anak koruptor

teman-teman sekolah
yang selalu putri traktir
nonton maupun shoping
ikut tak sekolah juga
malu dibilang teman anak koruptor

bapak ibu guru saban bulan
aktif terima upeti
plus bonus akhir tahun
tak mengajar lagi
malu dicap guru anak koruptor

melalui surat ini ananda sampaikan
penjaga sekolah tak terlihat
kabarnya mereka takut
karna terima uang pelicin
bapak,
saat ini sekolah melompong
papan nama tumbang
malu menyandang
sekolah anak koruptor

putri tak bisa berbuat lagi
ke luar rumah seperti dikebiri
di dalam rumah malu sendiri

pak, maafkan putri

(medan, 260217)

Biografi Porman Wilson Manalu

Lahir dan menetap di Medan. Beberapa puisinya telah diterbitkan dalam antologi bersama, “BUMI” dan “TENGOK” (Arsas Medan, tahun 2003).

Serta “Airmata Rohingya” yang diterbitkan Aliansi Penulis Waspada (2017), “Nyanyian Puisi Untuk Ane Matahari” diterbitkan Imaji Indonesia (2017), PUISI MENOLAK KORUPSI : Membedah Korupsi Kepala Daerah! 200 Penyair Indonesia (Elmatera Yogyakarta, 2017), Antologi Puisi Kemanusiaan dan Anti Kekerasan Jejak Air Mata: Dari Sittwe ke Kuala Langsa (Daulat Press Jakarta, 2017), Antologi puisi MENGUNYAH GERAM (Seratus Puisi Melawan Korupsi) oleh Seratus Penyair Indonesia diterbitkan oleh Yayasan Manikaya Kauci bekerjasama dengan Jatijagat Kampung Puisi dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kumpulan puisi tunggalnya AMANIATA (2017) diterbitkan Elmatera Yogyakarta.

Dan di tahun ini juga ia menghadiri dan membaca puisi pada acara Mengenang Usman Awang (Sastrawan Negara Malaysia) di Sungai Besar Selangor Malaysia. Membaca puisi pada acara Gelanggang Budaya Negeri Sembilan Malaysia sekaligus peluncuran Antologi Puisi Langit Kita sebagai penyair tamu diterbitkan Gerakbudaya Enterprise Petaling Jaya Malaysia.

Bersama beberapa penyair Sumut mendirikan Komunitas Katakata yang menggagas kegiatan Baca Puisi Bulanan. Di tahun 2018 beberapa puisinya terbit dalam Kumpulan Puisi Wartawan Indonesia ‘Pesona Ranah Bundo’ yang diterbitkan Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat.

Senyuman Lembah Ijen (Antologi Puisi Nusantara) diterbitkan TareSI Publisher, Pemkab Banyuwangi dan Dewan Kesenian Banyuwangi. Antologi Puisi 101 Penyair Nusantara Marhaban ya Ramadhan diterbitkan Perkumpulan Rumah Seni Asnur, Depok. Antologi Puisi ASEAN Doa Seribu Bulan diterbitkan Perkumpulan Rumah Seni Asnur, Depok. Wangian Kembang, antologi puisi Konvensi Penyair Dunia (Konpen) 2018 diterbitkan oleh Persatuan Penyair Malaysia. (**/gr)

Porman Wilson (ist)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *