Perupa Lenny Ratnasari Weichert Pamerkan 9 Perempuan Dalam Mitologi

  • Whatsapp
Foto: Karya perupa Lenny Ratnasari. (ist)

Sosok perempuan penyebar agama Islam dengan figur Fatimah Binti Maimun di Jawa yang diandaikan sebagai hulu para Wali

JAKARTA – Dengan tema ‘Pilgrimage’ perupa Lenny Ratnasari Weichert akan menggelar pameran tunggal bertema ‘Pilgrimage’ di Galeri Nasional (GNI), Jakarta, pada 21 September – 1 Oktober 2016 untuk umum. Sedang pembukaan pameran akan dibuka pada Selasa, (20/9/2016) pukul 19.00 WIB.

Muat Lebih

Kurator Bambang Asrini Widjanarko mengatakan, Pilgrimage istilah bahasa Inggris yang diterjemahkan bebas ke bahasa Indonesia bermakna konsep ziarah bukan sekadar kunjungan ke situs bersejarah. Namun menyambangi beberapa episode dalam hidup yang mengeksplorasi jalan ke tubuh dan jiwa Lenny sendiri.

Penggambaran itu, menurut Bambang terlihat pada karya Lenny yang sangat privat, To Be or Not To Be, sebuah instalasi patung, tentang tubuh dan jiwa Lenny sendiri. Karya tersebut bertutur tentang kegundahan sebagai perempuan dan upaya mati-matian mengidentifikasi dirinya.

“Sebuah perjalanan mencari jati diri, yang berlabur berbagai emosi kepedihan, kebimbangan bahkan putus asa,” ujarnya.

Berjudul Dinners Club, sembilan perempuan dalam mitologi & sejarah, seperti Malahayati, Colliq Pujie, Mother Theresa, Siti Khadijah, Helena Blavatsky, Aung San Suu Kyi, Dewi Sri, Venus serta Dewi Kwan Im disimbolkan dengan simbol piring unik di meja makan.

“Selain itu juga muncul sosok perempuan penyebar agama Islam dengan figur Fatimah Binti Maimun di Jawa yang diandaikan sebagai hulu para Wali, yakni Wali Songo. Fatimah tiba-tiba menjadi sembilan sosok tubuh di sana,” ujarnya.

Perupa kelahiran 1970, yang telah malang–melintang di berbagai aktivitas seni rupa internasional seperti di Jerman, Singapura, Inggris, Belanda, dan Hungaria ini menyatakan “Pilgrimage sesungguhnya pengalamanku melihat ke dalam diri sendiri”. Lenny menegaskan bahwa Pilgrimage telah meluas artinya sebagai semacam bentuk empati pada nasib perempuan lain. “Saya berharap pameran solo saya juga memicu perbincangan sejarah kelam yang dialami para perempuan di Indonesia pada masa lalu,” ujarnya.

Lenny memilih satu Kurator, Bambang Asrini Widjanarko dan satu Ko-kurator, Agung Frigidanto untuk membedah tiga karya utama, yang kemudian menjadi tiga zona penting pameran ini, yakni: satu, To Be or Not To Be, kristalisasi pengalaman-pengalaman dan identifikasi memori masa lalu yang beragam, seperti kegundahan sebagai seorang perupa perempuan dan perannya sebagai manusia yang menjaga reproduksi generasi. (gni/gr)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *