Penyair Yoevita Soekotjo Menangi Women of Words Poetry Slam 2019

  • Whatsapp
Yoevita Soekotjo. (ist)

UBUD – Penyair Yoevita Soekotjo menjadi pemenang pada kompetisi Women of Words Poetry Slam 2019 yang diselenggarakan di BeteNut Café di Ubud, Bali (23/10/2019) dalam rangka Ubud Writers and Readers Festival 2019.

Kompetisi ini diselenggarakan khusus untuk para perempuan penyair bergaya slammer, dan tahun ini diikuti oleh 18 peserta dari berbagai negara. Salah satu juri adalah Melanie Mununggurr-Williams, juara Australian Poetry Slam 2018. Semua juri memberikan nilai di atas 90 untuk Yoevita dan menempatkan Yoevita sebagai pemenang kompetisi ini.

Yoevita yang baru saja meluncurkan buku puisinya “Pengantin Puisi” pada bulan Juli 2019 yang lalu mengatakan aura kompetisi ini sungguh berbeda. Di samping membacakan pusi dalam Bahasa Inggris, di mana dia sendiri belum terbiasa, poetry slam menekankan kepada slamming pada pembacaannya, bukan deklamasi atau teaterikal.

“Saya butuh penyesuaian diri untuk poetry slam, karena latar belakang saya adalah teater,” demikian Yoevita menjelaskan.

“Yoevita memahami Bahasa Inggris dengan baik, di samping lafal pengucapan Bahasa Inggrisnya pun baik. Jadi dia paham makna kata yang dia bacakan. Ini yang membuat dia bisa bersaing dengan para slammer yang merupakan penutur asli Bahasa Inggris. Penekanan-penakanan saat slamming juga pas, karena dia paham apa yang dia baca”, demikian aktivis Dapur Sastra Jakarta, Riri Satria, Minggu (27/10/2019)

Yoevita mengatakan, sebelum tampil pada kompetisi ini, ia mengaku dilatih cepat paginya di penginapan di Ubud oleh dua senior di Dapur Sastra Jakarta, yaitu Romo Robert William Maarthen dan Conie Sema.

“Sementara itu penyair senior Remmy Novaris DM serta sahabat saya, penyair Nunung Noor El Niel juga banyak memberikan berbagai masukan tentang pembacaan dan penampilan. Untuk urusan puisi dalam Bahasa Inggris, saya banyak berdiskusi dengan sahabat saya Riri Satria. Kehadiran para sahabat dari Dapur Sastra Jakarta juga menambah semangat saya.” katanya.

“Pada tahun 2018 yang lalu, saya juga mengunjungi Ubud Writers and Readers Festival, tetapi tidak ikut dalam kompetisi Women of Words Poetry Slam. Saya justru menonton kompetisi ini tahun 2018 yang lalu untuk mempelajari apa itu poetry slam. Lalu saya pelajari lebih lanjut melalui berbagai video poetry slam di YouTube, termasuk Melanie Mununggurr-Williams, yang jadi juara Australian Poetry Slam 2018,” lanjut Yoevita.

“Yoevita sudah punya modal kuat untuk tampil di ajang poetry slam internasional”, kata Nunung Noor El Niel, penyair asal Bali. “Di samping sudah terbiasa membaca puisi di panggung dan juga memiliki latar belakang teater, kemampuan Bahasa Inggrisnya pun baik, termasuk pengucapannya”, demikian Nunung, yang juga sahabat Yoevita, melanjutkan.

“Saya punya impian untuk menjajal kompetisi poetry slam di luar negeri, misalnya di Australia. Semoga kesempatan itu ada.” tegas Yoevita.

WOMEN OF WORD POETRY SLAM

Women of Words Poetry Slam ini digagas oleh Olin Monteiro, seorang penulis, produser film, serta aktivis perempuan. Tujuannya memang mengangkat isu-isu terkait perempuan ke panggung puisi, dibacakan oleh perempuan, dengan gaya slamming yang menyentak. Pada tahun 2019 ini, topiknya dibuat sejalan dengan topik Ubud Writers and Readers Festival 2019, yaitu Karma, tentunya dari perspektif perempuan. Pada tahun 2018 yang lalu, pemenangnya berasal dari India, dan pada tahun 2017 berasal dari Australia.

Ubud Writers and Readers Festival adalah sebuah festival literasi internasional yang diselenggarakan sejak tahun 2003 di Ubud Bali, diselenggarakan oleh Yayasan Mudra Swari Saraswati. Pada tahun 2019 ini, hadir 180 penulis, pemikir, serta seniman, dari 30 negara. Sementara itu pengunjung biasa yang meminati dunia literasi diperkirakan jumlahnya lebih dari 500 orang dan sebagian besar berasal dari luar Indonesia.

Ini adalah festival literasi terbesar di Asia Tenggara dan termasuk ke dalam lima besar dunia. Terdapat 170 program pada festival ini yang terdiri dari forum diskusi, pemutaran dan diskusi film, penampilan dan kompetisi seperti poetry slam, serta pameran. Bahasa Inggris dipergunakan sebagai bahasa pengantar utama karena ini adalah festival literasi internasional. (red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar