Pementasan ‘Edminus Anderskor; Harus Jadi Presiden’

  • Whatsapp
Foto: Agus Susilo dalam lakon 'Edminus Anderskor; Harus Jadi Presiden. (ist)

Rumah Mata Medan, Parade Teater Nusantara, Aula UIM Pamekasan, 2 mei 2019

oleh: mahendra

Kursi selalu menyimpan imajinasi tersendiri. ibarat sumber mata air yang tak habis-habisnya diminum. ia selalu melahirkan kegairahan untuk terus ditimba. bahkan diperebutkan.

Begitulah teater mengajarkan agus susilo -rumah mata medan- aktor monolog malam itu, membangun kesadaran teaternya untuk terus bergerak. menyongsong hidup dengan seluruh kepastian takdir yang digariskan kepadanya. malam itu, ia menjelma ‘homo teatrikus’ yg seluruh hidupnya adalah teater itu sendiri.

Pertunjukan monolog edminus anderskor, di buka oleh suara parau berat memanggil-manggil; edminus! ehm… edminus… ehm. Seorang lelaki gondrong, setengah tua yang cacat, kedua kakinya lumpuh. suaranya yang berat mengisyaratkan beban derita yang dalam. Terlalu asin garan kehidupan yang diguriskan garis-garis didahinya yang gelap. Namun dari kedua matanya yang tajam, dan suaranya yang mantab memanggil-manggil, kita tau ia menyimpan sebuah keyakinan. Ia terus beringsut ditengah penonton, dengan keranjang sampah dipunggungnya. Keyakinan bahwa “setiap manusia harus menentukan takdirnya sendiri”. Seperti albert kamus berkata; “jika hidup adalah perjalanan takdir, maka perjalanan hidupku menolak takdir”.

Begitulah Edminus menjadi presiden menggoncang kesadaran kita bahwa kekuasaan itu gombal. ia membuai kita dengan janji-janji kebahagian yang semu. tumpukan kursi yang berebut dengan sampah plastik, kaleng bekas dan sampah lainnya. Seperti menunjukkan kepada kita, kekuasaan adalah sebuah naluri yang bisa tumbuh dimana saja. Ia bisa lahir bahkan dari tempat pembuangan sampah. dan jika tidak tepat mempergunakannya kekuasaan juga akan melahirkan dan menjadi sampah.

Begitulah edminus terus menyibak penonton. menjelaskan keberadaan dirinya ditengah orang-orang. Seolah mengatakan tidak ada yang pasti dalam kehidupan kecuali melawan. melawan segala keterbatasan dirinya dan keadaan yang tidak berpihak.


Edminus terus merayap merayakan penderitaannya, menaiki kursi demi kursi, hingga puncak ketinggian tumpukan kursi.
“Edminus… ehm…
Harus jadi presiden!”

Foto: Agus Susilo saat berakting. (ist)

PALU ‘KEHENDAK BERKUASA’

Edminus terus naik. menegaskan bahwa setiap manusia harus berusaha naik level hidupnya. susah payah, mengerang dan sesekali menarik nafas berat. nyata dikepala kita, level kemanusiaan menjadi tantangan tak ada habisnya, menguras airmata dan derita.

Dengan sangat cerdas agus susilo aktor monolog itu, membagi setiap level itu dengan dihantar teks dialog yang terus naik tensi emosinya.

Level demi level sudah dilewati, sampailah ia dilevel yang ke tiga edminus mulai mengambil palu. palu yang dalam praktek psikoanalisa. Menggambarkan sebuah semangat ego manusia untuk meraih hasratnya.

Hasrat kehendak berkuasa sebuah mesin psikologis yang menggerakkan seluruh kehendak kekuasaan manusia.

Tiba-tiba nietszche hadir dalam diri edminus, menjelma zharatusra dibukit golgota. Ia berbicara kebenaran, politik dan kekuasaan yg mengebiri kebebasan.
Edminus harus jadi presiden.

Edminus yang bisu, yang tidak genap berbicara, dan ketika disuruh pidato hanya wa…wa…wa… dan dia disuruh pindah. edminus yg hanya anak seorang pemulung lumpuh.

Tapi edminus menyimpan palu. palu kekuasaan yg sejati dr kebebasan hasrat hidupnya.
“Edminus, kau harus menjadi presiden!”

Terus merayap ke kursi yang paling tinggi.

TUBUH YANG TUBUH

Bagaimana teater edminus menghadirkan dirinya (pertunjukan)?
Tubuh dalam teater selalu menjadi medan perhatian yang menarik. sebab dari tubuh kita seperti membaca kenyataan diri kita masing-masing. Berdialog tentang luka kehidupan. Dari tubuh juga akhirnya kita mendapatkan sebuah pencerahan, menghadirkan ulang kemanusiaan, dan mengafirmasi kembali kehadiran.

Agus Sisilo berakting (ist)

Agus Susilo dengan sangat tepat (kalau tidak mau menyebut mengeksploitasi dirinya) menghadirkan sosok lelaki bapak edminus yang lumpuh. Apakah itu sesuatu hal yang wajar? tentu saja wajar. Sebab teater sejatinya adalah menemukan kembali diri aktornya. Dan malam itu, saya seperti menemukan agus susilo sebenarnya. dia seperti sebenarnya agus dengan seluruh keterbatasan dirinya. sedangkan edminus adalah seluruh anak gagasan yang terus bergejolak dikepalanya.

Jika selama ini teater selalu menghadirkan monolog dengan keterampilan skill keaktoran, bagaimana ia berubah dari satu tokoh ke tokoh lain, juga ketangkasan memainkan property. Agus Susilo justru hadir dengan gerak-gerak nanggung dengan power dan batin yang kuat. Tubuhnya terus bergetar. memainkan emosi penonton sepanjang pertunjukan. Sehingga didalam permainan batin itu, penonton diobrakabrik kesadaran tubuhnya, emosi diambangkan kedalam kemanusiaan.

Kita seperti melihat dua (agus susilo) dalam satu bapak edminus. apakah ia sedang main atau sebenarnya hidup dalam permainan aktor? kita dibiarkan bertanya-tanya sendiri. Walaupun saya percaya, teater tidak cukup hanya mengajak orang larut dalam kebaperannya.

TEATER TRAGIS

Bagaimana seharusnya teater dihadirkan? sebuah pertanyaan mendasar tapi tetap relevan. Teater Edminus Anderskor saya kira berbeda dengan teater klasik (yunanian) dalam menghadirkan tragedi. T

Tragedi melulu sebagai sebuah kenyataan diluar (realitas pertama), sementara teater tetap berada pada kenyataan yang seolah-olah akting panggung semata.

Teater edminus menghadirkan teater yang sebenarnya tragis. tragis dalam terminologi mengalami yang sesungguhnya. Sungguh kita seperti dibawa kedalam situasi rasa kaget dan cemas disanalah justru tragedi hadir sebagai realitas yang sebenarnya.

Ketika keterbatasan dilewati sebagai sebuah loncatan momentum kehadiran. Peristiwa bergerak menjadi emosional.

Disini saya pikir, kita seperti dihadapkan pada satu kenyataan abnormalitas (irrasionalitas). Emosi kemanusiaan kita dibawa pada peristiwa ambang kehidupan; mungkin dan tidak mungkin, nyata dan tidak nyata, benar dan tidak benar.

Ketika pikiran terganggu dan menolak kenyataan yang terlihat. Begitulah edminus masuk kedalam penonton, dan runtuhlah seluruh harapan-harapan dramaturgis. Dimana sebuah pertunjukan teater mesti diukur dengan rumus-rumus teori yang pakem.

Saya hanya merasa dibawa ulang alik antara pertunjukan dan kehidupan sang aktor, agus susilo.
Kedepan saya pikir masih banyak kemungkinan mengembangkan pertunjukan Edminus Anderskor dengan melakukan pendekatan-pendekatan yang lebih spesifik, lokal, dan jelas penciptaannya. agar setelah panggung Edminus memasuki kehidupan yang sebenarnya. Agar teater tidak hanya mengulang praktek-praktek kursi kekuasaan yang pseudotik semata.

Language Theatre
Sumenep 3 Mei 2019

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *