Pementasan ‘Bunga Penutup Abad’ Dari Triloginya Pramoedya Ananta Toer

  • Whatsapp
Foto; Pementasan Bunga Penutup Abad (ist)

Judul:
Bunga Penutup Abad
Produksi:
Titimangsa Foundation
Yayasan Titian Penerus Bangsa
Bakti Budaya Djarum Foundation
Naskah:
Pramoedya Ananta Toer
Sutradara:
Wawan Sofwan
Pemain:
Reza Rahadian
Happy Salma
Chelsea Islan
Lukman Sardi
Tempat:
Gedung Kesenian Jakarta
Tanggal:
25, 26 dan 27 Agustus 2016
Waktu:
20.00 WIB
Harga Tiket:
VVIP Rp.650.000
VIPRp.550.000
Kelas-1 Rp.400.000
Kelas-2 Rp.250.000
Pesan Tiket:
0856. 9379 7986
0813 1444 2942
0818 0604 7151

TITIMANGSA Foundation bekerja sama dengan Yayasan Titian Penerus Bangsa dan Bakti Budaya Djarum Foundation mempersembahkan pementasan ‘Bunga Penutup Abad’, sebuah pementasan teater yang diadaptasi dari novel ‘Bumi Manusia’ dan ‘Anak Semua Bangsa’ yang termasuk dalam seri novel Tetralogi ‘Pulau Buru’ karya Pramoedya Ananta Toer.

Muat Lebih

Foto; Pementasan Bunga Penutup Abad (ist)
Foto; Pementasan Bunga Penutup Abad (ist)

Pementasan teater Bunga Penutup Abad ini memperlihatkan bukti komitmen, kerja keras dan kecintaan seluruh tim pendukung untuk memberi ruh pada karya novel dari sastrawan kebanggaan Indonesia yang digelar selama tiga hari, tanggal 25, 26 dan 27 Agustus 2016 di Gedung Kesenian Jakarta.

Pementasan yang merupakan persembahan dalam mengenang 10 tahun meninggalnya Pramoedya ini menampilkan aktor terbaik Indonesia yaitu Happy Salma sebagai Nyai Ontosoroh, Reza Rahadian sebagai Minke, Lukman Sardi sebagai Jean Marais dan Chelsea Islan sebagai Annelies.

Pementasan ini disutradari Wawan Sofwan yang sebelumnya telah menyutradari berbagai pementasan teater seperti ‘Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh’, ‘Monolog Inggit’, ‘Musikal Sangkuriang’ dan ‘Rumah Boneka dan Subversif’.

Minke dan Nyai Ontosoroh melewati masa kepedihan kala ditinggalkan Annelies ke Belanda dengan berbagi kisah lewat surat-surat yang mereka baca bergiliran. Keduanya tak bisa melakukan apa-apa malah menjadi tahanan rumah oleh polisi Hindia-Belanda selama dua minggu. Perjalanan Annelies ke negeri Belanda dikisahkan Panji Darman lewat surat-surat yang ia kirim. Lewat surat, ingatan berterbangan ke masa-masa awal: pertemuan, perkenalan, kebahagiaan menjalani hidup baru bertiga antara Nyai Ontosoroh, Minke, dan Annelies.

Foto: Pementasan Bunga Penutup Abad. (ist)
Foto: Pementasan Bunga Penutup Abad. (ist)

Hal tersebut merupakan rangkuman kisah cinta Minke-Annelies yang terdapat pada novel pertama dan kedua tetralogi Buru, Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Teater ini dipentaskan sebagai persembahan mengenang 10 tahun meninggalnya Pramoedya Ananta Toer. “Ini pengalaman baru di atas panggung. Biasanya hanya main film, sudah lama tak main seperti ini excited banget,” ujar Reza Rahadian yang berperan sebagai Minke saat ditemui usai pementasan pertama ‘Bunga penutup Abad’ di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (24/8/2016) malam.

Jika dalam novel Anak Semua Bangsa mulai ditonjolkan sisi perjuangan seorang Minke, maka di pementasan ini Happy Salma dan Wawan memberi ruang untuk menghadirkan kisah cinta Minke-Annelies yang dihadirkan lewat memori saat Annelies sudah tak ada lagi. pementasan ini memakan waktu persiapan sekitar tiga bulan lamanya. Namun Happy dan Wawan sudah menggodok naskah sejak tahun lalu.

Menurut Happy, dirinya dan Wawan mencoba berbagai formula untuk bisa menghasilkan naskah yang bisa disajikan dan menghadirkan nuansa baru, tak hanya dari kisah dalam Bumi Manusia saja. Maka kisah dari novel Anak Semua Bangsa pun turut dilirik. Mereka mengambil cerita surat-surat Panji Darmin yang mengisahkan kondisi Annelies selama perjalanan ke Belanda hingga ia tiada. “Kami memang fokus mengambil kisah cinta lewat surat. Banyak kejadian dalam novel dan tentu harus kami pilih untuk bisa dikisahkan,” tutur Happy Salma. Naskah pun sempat dilepas untuk dibaca oleh kawan yang sudah pernah dan belum membaca Tetralogi Buru. (gr)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *