Pameran Lukisan: Internasional Art Exhibition ‘Reborn’ 14-24 April 2016 di GNI

Foto: Poster Pameran Lukisan Reborn. (ist)

Perkembangan dan pergeseran tatanan budaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan dunia, menjadi suatu bahan perenungan bagi seniman/perupa untuk berapresiasi berdasarkan hati nurani, perasaan kalbu, dan pemikiran yang mendalam dengan diwujudkan melalui kemurnian penciptaan karya rupa sesuai dengan budaya, upaya visualisasi dan pengejawantahannya.

Foto: Poster Pameran Lukisan Reborn. (ist)
Foto: Poster Pameran Lukisan Reborn. (ist)

Acara Internasional Art Exhibition ‘Reborn’1 ini akan digelar pada 4–24 April 2016 di Galeri Nasional Indonesia,  Jakarta.

Bacaan Lainnya

Gagasan awal pameran ini berangkat dari titik nol yang sama bertajuk International Art Exhibition ‘REBORN’. Ide gagas yang dibatasi ruang dan waktu telah terjalin diskusi dan perdebatan positif yang menemukan kesadaran akan sensasi idealis murni, dan kompleksitas pendapat menjadi motivasi dan aspirasi dalam wujud karya. Seperti sebuah benang kami kemudian berusaha menata dan merajut agar menjadi sesuatu yang berharga.

Sejatinya pameran ini terjadi diawali dari bincang-bincang kecil para seniman/perupa yang tinggal di Bandung, kemudian mendapat respon dari seniman/perupa Jakarta, Yogyakarta, Malaysia, Amerika Serikat, kemudian Switzerland dan Belanda. Kami berembuk dan sepakat untuk dapat turut serta mewarnai perkembangan seni dunia, dengan kepekaan jiwanya terhadap isu-isu global yang terjadi terhadap manusia dan lingkungan alam sekitar.

Hal ini sebagai suatu upaya menangkap fenomena kehidupan yang kemudian berusaha untuk dimengerti, ‘dierami’, difahami dan dibuktikan dalam serangkaian proses berkarya seni dengan trial-error sehingga membentuk suatu ungkapan yang khas dalam getaran emosi, perasaan serta pemikiran dalam yang dapat menggugah solusi-solusi pada permasalahan hidup.

Konsep pergerakan seni rupa ini kami menyebut ‘Titik Nol yang sama’ dimaksudkan bahwa kami sama-sama pernah belajar dan terdidik dalam suatu wadah ‘kawah candradimuka’ yaitu padepokan yang bernama Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI/SMSR) Yogyakarta yang konon menjadi ikonik kami dalam menjembatani terjadinya pergerakan munculnya para tokoh seni rupa Indonesia seperti Dede Eri Supria, Harris Purnomo, Hanafi, Lucia Hartini, Dunadi, Yusof ‘Gajah’ (Malaysia), Jo Cowtree (USA), Ito Joyoatmojo (Switzerland), Dodog Soeseno (Belanda), dan seniman muda kondang saat ini yaitu Nasirun. (Maaf jika tidak dapat kami sebut satu persatu kawan seperjuangan dari titik nol yang sama). (gni/gr)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *