Ontologi Layar: Representasi dalam Praktik Seni dan Budaya Media di Tengah Pandemi

oleh -99 views
Ontologi Layar

JAKARTA – Program pameran daring pertama Galeri Nasional Indonesia di masa pandemi Covid-19, Pameran Daring Manifesto VII “PANDEMI” telah disajikan kepada publik sejak 8 Agustus 2020 melalui laman https://galnasonline.id/. Pameran ini menampilkan 217 karya video dari 204 peserta yang berasal dari Indonesia dan mancanegara, dengan berbagai latar belakang profesi, yang tinggal di Indonesia selama masa pandemi Covid-19.

Pameran Daring Manifesto VII “PANDEMI” dilengkapi dengan beberapa program publik. Sebelumnya, telah digelar acara Kurator Bicara Pameran Daring MANIFESTO VII “PANDEMI”, serta Bicara Rupa Gagasan Kuratorial Manifesto VII “PANDEMI”: Tentang Kemungkinan dan Ketidak-mungkinannya. Kini sebagai program publik yang ketiga dari pameran ini, akan digelar Bicara Rupa dengan tajuk Ontologi Layar: Representasi dalam Praktik Seni dan Budaya Media di Tengah Pandemi pada Jumat, 6 November 2020 pukul 14.00 via Zoom dan live Facebook Galeri Nasional Indonesia.

Dipandu Kurator Galeri Nasional Indonesia Bayu Genia Krishbie sebagai moderator, acara ini menghadirkan lima narasumber antara lain: Pustanto (Kepala Galeri Nasional Indonesia), Sudjud Dartanto (Kurator Pameran Daring Manifesto VII “PANDEMI”), Nawa Tunggal (Jurnalis Seni), Budi Irawanto (Peneliti Budaya Media, Dosen FISIPOL UGM serta Kajian Media dan Budaya Sekolah Pascasarjana UGM), serta Benny Wicaksono (Seniman Media). Kelima narasumber tersebut akan membahas mulai latar belakang pemilihan Pameran Manifesto VII sehingga dipresentasikan secara daring melalui layar, pola-pola apa saja yang berubah ketika sebuah pameran seni rupa dipresentasikan melalui layar, menggali akar kebaruan media baru, bagaimana layar berhadapan dengan media baru dan metamorfosis layar, hingga perspektif seniman media dalam melihat potensi-potensi teknologi yang ada di sekitarnya.

Menanggapi acara ini, Kepala Galeri Nasional Indonesia Pustanto mengatakan bahwa forum diskusi seperti ini diperlukan untuk pengembangan wacana sebuah pameran seni rupa. “Pameran seni rupa memang menyuguhkan sajian visual untuk dinikmati. Namun akan menjadi lebih hidup dan bermanfaat ketika sebuah pameran seni rupa direspons melalui diskusi-diskusi yang melibatkan para praktisi di berbagai bidang yang relevan,” ujarnya. Diskusi tersebut juga merupakan suatu upaya untuk mengembangkan pewacanaan sekaligus merumuskan kemungkinan-kemungkinan baru yang inovatif. “Semoga acara ini menjadi diskusi yang membangun, menginspirasi, dan memotivasi berbagai pihak untuk terus semangat berkontribusi dalam mengembangkan dan memajukan seni rupa Indonesia,” pungkas Pustanto.