Monolog ‘Balada Sumara’, Eva Pukau Penonton

  • Whatsapp

MEDAN – Monolog Balada Sumara karya Tentrem Lestari yang dipentaskan,  Jumat (30/8/2019) prakarsa Bengkel Monolog di Sanggar Tari Taman Budaya Sumut sangat memukau penonton.

Pertunjukan yang dimainkan aktris Eva Susanti itu,  mampu menyihir penonton selama kurang lebih 45 menit. Eva bermain dengan sangat bagus. Dia mampu memerankan berbagai tokoh dalam naskah yang bercerita tentang TKI yang membunuh majikannya lantaran diperkosa.

Yan Amarni Lubis, tokoh teater Sumut berkomentar, permainan Eva Susanti sudah setara dengan pemain monolog tingkat nasional. Dia mampu membaca naskah Balada Sumarah dan menghidupkannya di atas pentas serta menjadi tontonan yang sangat menginspirasi.

“Eva bermain sangat bagus. Ini tak lepas dari peran Bengkel Monolog yang dirawat dengan baik oleh Porman Wilson Manalu. Artinya, Bengkel Monolog sudah berhasil menelurkan dua aktor terbaik yakni Eva dan Dea, ” ujar Yan Marni.

Sementara itu Porman Wilson Manalu mengatakan, dua pertunjukan yang telah dihasilkan Bengkel Monolog yakni, “Sepatu Aira” dan “Balada Sumarah” ini akan diplotkan untuk acara “Festival Monolog Nasional” yang akan digagas Bengkel Monolog tahun depan.

Eva Susanti aktris Teater Blok pimpinan Aprion membuka monolognya dengan diam duduk di kursi yang merupakan satu satunya benda yang ada di pentas. Ada sekitar 3 menit Eva begitu plus suara musik yang mirip dengan suara detak jantung.

Nyaris menjenuhkan seandainya tidak memecah kesunyian gedung yang dipadati sekitar seratusan penonton itu dengan memulai dialognya. Kemudian dialog demi dialog meluncur dengan sangat terjaga tempo dan diksinya.

Hanya bermain dengan sebuah kursi kayu, jika tidak dibarengi dengan kekuatan akting dan pencarian pencarian lewat proses yang panjang, mungkin Eva tak mampu bermain sebagus itu.

Eva mengeksplorasi kursi menjadi bervagai simbol simbol teateristik yang mampu nengantar berbagai imaginasi penonton. Kursi kayu itu terkadang menjadi kursi pesakitan di pengadilan, terkadang menjadi bangku sekolah dan tiba-tiba menjadi majikan yang amoral, lalu dia juga menjadi properti rumah majikan yang dielap elap dan menggambarkan saat Sumarah menjadi TKW di Arab Saudi.

Lihat juga saat kursi itu tiba tiba menjadi majikan yang rakus memperkosa dan menikmati setiap jengkal tubuhnya. Kursi itu seperti hidup. Dan dalam tafsiran yang lain bisa nemperkosa rakyat kecil. Kursi kursi menjadi jahanam yang berbeda.

Lihat pula bagaimana Eva memainkan kursi menjadi musik dengan mengetuk ngetukkan kaki kursi ke papan pentas. Ini mengingatkan kepada “Dialig Kursi” Teater Que di tahun 90-an.

Meski masih banyak peluang yang bisa dilakukan Eva untuk lebih mengelola tubuhnya dan kursi, namun Eva patut dihargai sebagai pemula yang mampu membawa warna lain dari monolog di Sumatra Utara saat ini. Vravo Eva, salut. (aba)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *