Menonton ‘Ketoprak Dor’ di TBSU Kemurnian Tubuh Tradisi

  • Whatsapp

KERINDUAN saya menonton Ketoprak Dor terpenuhi sudah. Setelah puluhan tahun saya tidak menyaksikan teater ala orang-orang Jawa Deli ini. Sebagai keturunan Jawa yang lahir di Medan saya tertarik untuk menonton.

Saya sudah dengar ada seorang lelaki sahabat saya bernama Yono. Orang Jawa asli yang kemudian tinggal di Medan sejak lulus dari etnomusikologi USU. Saya sering ngobrol dengan pria ini. Saya kagum pada kegigihannya merawat seni Ketoprak Dor yang nyaris punah.

Yono kerap memposting setiap kali mereka akan mentas. Sebagai seniman Yono tidak ingin berada di menara gading. Dia lebih memilih mentas di kampung kampung. Seni itu harus hidup di tengah-tengah masyarakatnya. Untuk apa seni besar dan hebat tetapi jauh dari pergumulan sosial masyarakat.

Tetapi bukan berarti Ketoprak Dor asuhan Yono ini alergi manggung di gedung semisal Taman Budaya Sumut. Terbukti, Sabtu, (26/10/2019) kesenian tradisi yang berumur hampir seratusan tahun ini, manggung juga di Gudung Utama TBSU di acara Jong Batak Art Festival 6.

Yang menarik, sehari sebelum pementasan saya berjumpa dengan Yono, dan langsung meminta saya untuk main. Katanya idris Pasaribu juga ikut main. Saya terkejut dengan tawaran itu. Saya sungguh tak punya ilmu tentang Ketoprak Dor. Bagaimana tehknik bermainnya. Berbagai pikiran langsung menyerang saya. Dialog saya apa? Apakah saya mampu membuat pertunjukan sakin bagus?

Untuk sementara saya iyakan permintaan Yono. Tetapi kemudian menjelang pementasan saya batalkan. Saya tidak dapat ide untuk bermain spontan. Saya takut kehadiran saya tidak berarti apa-apa dalam peetunjukan itu. Lebih baik saya jadi penonton saja. Bahkan ketika saya bertemu Idris Pasaribu, saya katakan saya tak punya keberanian untuk nimbrung di pementasan yang luar biasa itu.

Saya benar-benar takut merusak kemurnian berteater ala aktor-aktor yang lahir dari masyarakat yang murni ingin merawat tradisi sebuah kekayaan budaya milik Sumatera Utara itu. Saya benar-benar takut. Bagaimana aktor-aktor yang tak mengenal pelajaran berakting seperti dari Konstantin Stanislavski, Berthold Brecht atau metode-metode latihan teater itu bermain dengan kemurniannya sebagai masyarakat.

Yono mengajarkan tentang daya hidup dalam berkesenian. Daya hidup yang kuat yang penuh energi. Saya teringat juga kata-kata seorang teman beratnya menggotong kesenian itu seperti beratnya menggotong kerenda mayat. Namun seberat apa pun, kerenda itu harus tetap digotong beramai-ramai. Sebab jika tidak digotong, maka mayat akan jadi bangkai yang menjijikkan.

Tidak ada anak muda dalam pementasan Ketoprak Dor ini. Kita melihat tubuh-tubuh tua. Tidak ada artis cantik. Aktor-aktor itu bertubuh apa adanya dengan kulit kebanyakan hitam. Sedikit bedak yang membuat wajah mereka jadi terlihat asing. Tidak ada karakter yang kuat. Yang ada hanya dialog-dialog yang terkadang menggunakan Bahasa Jawa dan sesekali Bahasa Indonesia.

Bermain dengan serba sederhana inilah kemurnian dalam berteater. Kita melihat kejujuran yang tulus ihklas dari mereka. Ada kegagapan, ada ketegangan, ada kekakuan, semua itu bertukuslumus dalam sebuah peristiwa teater Ketoprak Dor. Unik namun indah. Bahkan sangat indah dengan segala kesederhanaanya.

Seperti Ketoprak Dor pada umumnya, ini juga mengandalkan layar untuk keluar masuk pemain. Tetapi untuk menyiasati kisi-kisi sepertinya artistik menggunakan banber bekas. Dengan peralatan sederhana dan apa adanya itu, Ketoprak Dor mengalir dengan musik dan lagu-lagu yang sudah asing di telinga saya. Tetapu mengingatkan saya pada masa remaja saya yang suka menonton Ketoprak Dor terutama pelawaknya. Bravo buat Ketoprak Dor, nungkin suatu saat saya berani ikut main. (aba)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *