Mengusung Feminisme, Penyair Nunung Noor El Niel Meluncurkan ‘Betinanya Perempuan’

  • Whatsapp

BALI – “Penulis perempuan era reformasi awal memiliki daya ungkap yang khas dan cenderung membuka sisi tersembunyi dalam ruang domestik. Diksi ‘tubuh’ menjadi media simbolis untuk mengungkapkan belenggu yang selama ini menekan posisi sosialnya. Momentum reformasi menjadi peluang bagi penulis perempuan membangun ruang kebebasan untuk mempraktekkan segala hal vulgar, termasuk masalah seksualitas dan adab yang selama ini dianggap tabu. Hal itu bisa kita lihat kecenderungan di karya sastra ‘wangi’ seperti, Ayu Utami, Dinar Rahayu, Djenar Maesa Ayu, dan lain-lain, yang sempat dituding sebagai penetrasi kapitalisme ke dalam sastra.”, demikian tokoh teater serta pengamat sastra dari Lampung, Conie Sema, membahas buku puisi ‘Betinanya Perempuan’ karya Nunung Noor El Niel di Jatijagat Kampung Puisi, Denpasar (27/10/2019).

Conie melanjutkan, “Kebebasan yang ditawarkan pasca reformasi membuka kesempatan para penulis perempuan mengeksplorasi diksi tubuh dalam pergulatan ide, tema, dan pesan dalam puisi-puisi mereka. Mereka memiliki banyak ruang untuk mengekpresikan karyanya. Virginia Woolf pernah berkata, perempuan hanya butuh uang dan ruang pribadi untuk menulis seindah Shakespeare dengan karya-karya besarnya.”

Namun pembahas lainnya, Puji Retno Hardiningtyas, dari Balai Bahasa Bali mengatakan bahwa buku puisi “Betinanya Perempuan” ini masih kurang greget untuk mengusung tema feminisme. Seharusnya penyair Nunung bisa lebih kuat lagi menyajikan tema ini dalam puisi-puisinya. “Konstruksi puisi-puisi Nunung masih kurang berani dan tidak tuntas. Kalau mau mengajak perempuan yangg lain mendobrak, dobrak saja sekalian!”

Pengamat sastra Dr. Robert William Maathien yang biasa dipanggil Romo mengatakan bahwa inilah menariknya membahas sebuah karya sastra. “Jadi setiap karya bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda beda, dan ini sesungguhnya yang membuat karya itu bagus.”

Lebih lanjut Retno mengatakan, “Tidak ada kegagalan sebuah karya, hanya saja yang perlu dicatat adalah setiap karya memuat satu tema dan itu dapat ditelanjangi dengan teori apapun.”

“Antologi Betinanya Perempuan Nunung Noor El Niel membuka sebuah taman bianglala perempuan dari perspektif seorang perempuan yang mengalami sendiri menjadi perempuan. Ia tidak tiba ditaman itu sebagai perempuan tapi hadir menuju perempuan.”, demikian Conie mengakhiri pembahasannya.

Penyair senior Remmy Novaris DM mengamini apa yang disampaikan oleh Conie Sema. Menurut Remmy, “Puisi-puisi Nunung sudah cukup kuat memiliki metafor untuk mengusung feminisme. Ketika membahas topik feminisme, memang ruang pembahasannya sangat luas, sehingga memang tidak semua aspek feminisme bisa dibahas dalam satu kumpulan karya.”

Penyair Nunung Noor El Niel menetap di Denpasar, Bali dan zampai saat ini sudah menerbitkan lima buku antologi puisi tunggal, yaitu “Solitude” (2012), “Perempuan Gerhana” (2013), “Kisas” (2014), “Perempuan dari Tujuh Musim” (2016), serta “Betinanya Perempuan” (2019), semuanya diterbitkan oleh Teras Budaya Jakarta. Karya puisi Nunung juga diterbitkan dalam beberapa antologi puisi bersama, antara lain “Pinangan”, “Metamorfosis”, “Habis Gelap Terbitlah Sajak”, “Kidung Rindu Pelangi Sukma”, “Memo Anti Kekerasan Terhadap Anak”, “Memo Anti Terorisme”, “Puisi Menolak Korupsi 5”, “Puisi Penyair Kopi Dunia”, serta “Antologi Puisi Festival Literasi di Banjarbaru” tahun 2017 dan 2018.

Nunung pernah diundang sebagai salah satu sastrawan Indonesia untuk mengikuti Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia II tanggal 18-20 Juli 2017 di Jakarta. Saat ini Nunung aktif mengurus Yayasan Dapur Sastra Jakarta sebagai Sekretaris Umum.

Acara peluncuran buku “Betinanya Perempuan” ini diselenggarakan oleh komunitas Jatijagat Kampung Puisi, bekerja sama dengan Dapur Sastra Jakarta, dengan moderator diskusi penyair Wayan Jengki Sunarta, dihadiri oleh tokoh puisi senior Umbu Landu Paranggi, serta dimeriahkan oleh pembacaan puisi karya Nunung. (red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *