Mengaduk Kopi Jadi Puisi, “Tak Ada Kopi Jangan Banyak Cerita!”

  • Whatsapp

Oleh. Tatan Daniel

SEKETIKA Graha Bakti Budaya – Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Sabtu (19/8/2019) malam dipenuhi ’aroma’ kopi.

Kopi di panggung, kopi mengapung, kopi menggelegak. Kopi tarek, kopi sareng, kopi tubruk.. Bagai pawang kopi, seperti seorang ‘cutbang’, yang melayang turun dari pegunungan Gayo, Fikar W. Eda merapalkan ‘mantera kopi’, dengan suara menderu bak bunyi jerangan kopi yang uapnya mengepul-ngepul deras.

Sementara itu, tabuhan dalam ritme yang bisa bikin ‘trance’, menggemuruh di tangan para seniman didong dari Sanggar Pegayon. Tiga orang banan, Devie dan dua perempuan, menumbuk, menampi, dan menggongseng biji-biji surgawi itu, dengan cermat dan penuh hormat.

Pengucapan puisi diakhiri Fikar dengan nyanyian: “Ada kopi ada cerita/Lain kopi lain cerita/Tak ada kopi tak usah banyak cerita/Ayo ‘ngopi, kita bercerita!”

Begitulah. Kopi dan puisi bisa terasa sangat kental, menghangatkan acara Parade Puisi tadi malam, sempena perayaan Hari Puisi 2019, di Taman Ismail Marzuki.

“Uet nome turah kona kupi gayo. Kegere ngupi gere muke emikiren te!”, kata orang Gayo.

Sebaik Fikar dkk. meninggalkan panggung, tak ayal saya pun segera mencari secangkir kopi. Tak tahan saya! (**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *