Masak Sehat Selama Berpuasa 18 Jam di Skandinavia

oleh -117 views

STOCKOLM – Pada akhir pekan ini, KBRI Stockholm telah memfasilitasi kegiatan yang diinisiasi oleh WNI di Swedia, yaitu Tim “2AnakRantau”, Connie Paloma dan Stanley Setiawan. 

Kegiatan live cooking demo dan diskusi virtual dengan judul, “Masak Sehat Selama Berpuasa 18 Jam di Skandinavia” tersebut dibuka dengan sambutan dari Dubes RI untuk Swedia merangkap Latvia, Bagas Hapsoro.

Bertindak selaku narasumber adalah Yoocy Teintang, chef; Resthie Rachmanta, dokter dan ahli nutrisi; dan William Wongso, pakar kuliner.

Kegiatan ini diinisiasi oleh WNI yang tinggal di Swedia dan ditujukan utamanya untuk dapat memberikan inspirasi memasak sederhana namun bernutrisi tinggi dalam masa puasa bagi para WNI yang tinggal di Swedia dan negara Skandinavia lainnya.

Pada sambutan pembukaannya, Dubes Bagas menyatakan bahwa kegiatan berpuasa merupakan Ibadah yang wajib dilakukan, yaitu bagi umat Muslim. Dan kini di Swedia sudah masuk dalam waktu puasa selama 18 jam. Apalagi keadaan sekarang ini yang ditambah dengan adanya pandemi, tentunya semakin memberatkan Ibadah puasa.

“Oleh karena itu, asupan nutrisi dari makanan, khususnya makanan sahur dan berbuka, harus sangat baik. Namun demikian, saya juga mengetahui keterbatasan kita untuk memasak sesuatu yang kompleks. Masakan itu harus sederhana, namun memiliki nutrisi yang baik, agar kita kuat menjalani Ibadah puasa hingga 18 jam atau bahkan lebih” ujar Dubes Bagas.

Pada kegiatan memasak, Chef Yoocy memilih menu berbuka, yaitu sup ayam dan nasi ayam hainan. Sedangkan untuk menu sahur dipilih fritata dengan daun kale dan ikan asap.

“Ini menu yang cukup mudah ditemukan bahan-bahannya karena dapat ditemui di banyak toko asia di negara-negara Eropa. Selain itu, menu tersebut bisa dihidangkan bersama nasi putih dan salad, cocok dengan lidah kita orang Indonesia” ujar Yoocy.

Resthie menambahkan bahwa daging ayam, seperti dalam menu nasi ayam hainan ini memiliki kandungan protein yang baik dan cukup memberikan nutrisi dalam hari-hari berpuasa.

“Rule of thumb-nya, ayam sebagai lauk harus mencapai 1/4 dari ukuran piring makan yang digunakan, tapi jangan makan kulitnya. Kalau makannya seperti itu, akan mendapatkan manfaat dan nutrisi daging ayam tersebut” ujar Resthie.

“Kalau untuk nurunin berat badan, cara gampangnya adalah dalam 1 piring makan, sayur harus mendominasi, kedua terbanyak harus protein, dan karbohidrat seperti nasi harus paling sedikit” tambah Resthie.

Dalam kegiatan live cooking ini, sembari Yoocy memasak, William memberikan penjelasan terkait asal usul dan latar masakan tersebut.

Pakar kuliner senior ini juga memberikan arahan dan masukan dalam memasak dan juga usulan-usulan penggunaan bumbu dan cara memasak.

“Di masa sekarang ini, ketika masa puasa, bahkan sekarang di tengah-tengah masa pandemi, saya selalu sampaikan kepada ibu-ibu agar jangan fokus dengan resep. Fokuslah dengan membuat stok bumbu, seperti bumbu kuning, merah, dan lain-lain. Kalau sudah ada bumbunya, mau masak apa tinggal dicocokan dengan pilihan lauk yang tersedia, baik itu ayam, daging, maupun ikan” ujar William.

Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah WNI yang tinggal di Swedia, negara-negara Skandinavia dan Eropa lainnya, bahkan yang tinggal di Indonesia. Kegiatan semacam ini dipandang baik untuk terus dilakukan untuk menjalin silaturahmi dan komunikasi dengan WNI di Swedia dan Latvia dalam masa pandemi Covid-19. (red)