Konser Turbulensi Siap Digelar di TIM

  • Whatsapp
Foto: Poster Konser Turbulensi. (ist)

JAKARTA – Wagtendonk, seorang ahli dirgantara, menyebutkan turbulensi sebagai perubahan kecepatan aliran udara yang sering terjadi dalam skala kecil, pada jangka waktu pendek sebagai pergerakan udara yang tidak beraturan, turbulensi adalah gangguan bahkan ancaman.

Turbulensi tak hanya berangsung di udara, tapi juga berlangsung dalam realitas hidup dan kehidupan manusia. Bahkan turbulensi tak hanya berlangsung dalam raga, tapi juga dalam jiwa dan hati manusia.

Muat Lebih

Jiwa berfungsi sebagai alat untuk menyiapkan perubahan atau pertukaran sifat kemanusiaan untuk menjadi sifat kemalaikatan. Dengan demikian, walaupun sesaat, melalui jiwa, manusia bisa menjadi makhluk malaikat. Proses dan keadaan menjadi malaikat ini, oleh Ibnu Khaldun dinamakan “pengalaman transendental manusia”.

Dalam proses itu, yang mengalami adalah jiwa manusia yang memiliki persiapan untuk lepas dari kemanusiaannya ke alam malaikat agar benar-benar menjadi bagian dari malaikat, dan pada saat yang sama kemanusiaannya pun kembali. Namun, saat fluktuasi perubahan sifat dasar manusia itu, tak jarang tekanan hidup menghempas manusia ke matra pertama, sifat kebinatangan. Sifat yang mengarah pada homo homini lupus, manusia adalah srigala bagi manusia lain, yang kuat memakan yang lemah. Pada posisi inilah manusia mengalami “turbulensi” kehidupan.

Turbulensi merupakan kumpulan sajak Away Enawar. Dari kumpulan sajak itu, sepuluh sajaknya akan diolah kreatif menjadi musikalisasi puisi dan script (lakon) dramatik yang disusun-rangkai secara kronologi tematik sehingga menjadi alur pertunjukan. Karena itu, Konser Turbulesi yang akan kami persembahkan tak semata menghadirkan puisi dengan musikalisasi puisi-nya yang digelar secara orkestratif tapi menjadi Drama Musical karena memiliki rangkaian adegan/peristiwa dramatik yang dimainkan oleh duapuluhan aktor.

Pada pola pendekatan orkestra yang kami tampilkan juga akan bernuansa etnik karena memadukan alat musik modern dengan gamelan dan unsur bunyi etnis lainnya dari khasanah seni budaya Indonesia.

Pemanggungan Konser Turbulensi yang bergenre Drama Musical selain menampilkan bentuk kolaboratif sastra, musik, tari, dan akting teatrikal, juga akan berkolaborasi dengan multimedia sebagai ilustrasi dari tema-tema puisi dan atau adegan peristiwa dramatik serta diperkuat oleh teknik pencahayaan dan tata artistik panggung. Konser Turbulensi persembahan Teater Cahaya UMT Indonesia dan Sitihinggil Community Yang akan dilaksanakan pada tanggal 6,7 oktober 2017 di Graha Bhakti budaya Taman Ismail Marjuki Jl. Cikini Raya No. 73 Menteng Jakarta Pusat.

CATATAN SUTRADARA

Bermula dari diskusi kecil di bawah pohon mangga buritan Sanggar Sitihinggil; saya, Kampleng, Madin dan Dewo, menggelontorkan dua jenis uneg-uneg tentang Teater Cahaya, anggotanya, UMT, kampus tempat kawah candradimuka itu bersinggah, Sitihinggil wadah para senior dan jebolan Teater Cahaya, juga Indonesia Raya tempat kita semua berharap dan bertumbuh. Ngalor ngidul-ngetan ngulon itu obrolan belum juga usai sampai adzan magrib berkumandang. Selepas magrib, dengan wajah-wajah basah sisa air wudhu, ngobrol berlanjut. Karena banyak tema obrolan jadi tidak jelas dan kurang fokus, seperti tidak fokusnya pengelola bangsa dalam banyak hal.

Ketidakfokusan ini terus bergulir diantara celoteh, olok-olok, tawa lepas, dan mungkin juga ujaran hoax yang meluncur deras. Belum lagi produk hoax baru kami rangkai, tiba-tiba muncul terus nimbrung Edian dan Magor. Tambah ramai, tambah melebar, dan tebaran hoax tak terhindarkan. Sungguhpun tidak sempat diobrolkan, nampaknya kami sepakat bahwa, “Hoax itu perang antar oknum dan kemenangan hoax adalah ketika kita semua menjadi oknum, dan yang tidak oknum menjadi asing”.

“Kami bukan oknum, oleh karenanya kami tidak mungkin berada dalam lingkaran hoax, apa lagi dikalahkannya”. Kesepakatan itulah yang melatarbelakangi mengapa kumpulan puisi TURBULENSI harus dipentaskan dalam bentuk konser, yang memungkinankan syair-syair puisi disuguhkan dengan bentuk “DRAMATIC MUSICAL POETRY”. Entah benar atau tidak istilah itu, yang pasti kami ingin menyampaikan pesan dalam puisi melalui media musikal, tari, bahkan multimedia dengan tujuan agar pesan bisa sampai dan berkesan tuk ditularkan kembali, sehingga oknum menjadi semakin berkurang.

Menyadari berbagai kelemahan yang melekat pada tubuh Teater Cahaya yang merupakan teater latihan, maka kami mulai bersilaturahmi konsep. Putu Wijaya, Ken Zuraida, Jose Rizal Manua, dan Amoroso Katamsi adalah tokoh yang kami kunjungi tuk dimintakan pandangan dan pertimbangan yang kami butuhkan sebagai tambahan keberanian dan energi. Sebelum memberi tanda setuju lewat senyum khas masing masing, dialog dan perdebatan bernas “setidaknya menurut saya” pun terjadi.

Melantunkan, menyanyikan, atau menembangkan syair-syair puisi merupakan persoalan yang tidak sederhana buat teater kampus. Tidak hanya penghayatan, namun kemampuan vokal dan nada-nada dasar pada warna suara tertentu, sebagai sandaran alur dan klimaks dalam konser ini, juga sempat membuat kami nyaris turbulens. Adalah Doddy katamsi, yang tidak saja bersedia membantu melengkingkan satu puisi klimaks, beliau juga telah ikhlas menyentuh ruang ruang dengung anggota teater cahaya, hingga bisa bersuara bagus.

Kesediaan Chepy OI, Samsaka yang juga OI, Carmelita Babyta, Ghina Sheila, serta Andri Lousy dan temen temen ISI Yogya, yang membantu meretas alur hingga konser TURBULENSI bukan sekedar mendendangkan tembang tembang medley, tapi menggelar sebuah konsep utuh yang memiliki rambatan emosi hingga klimaks, merupakan kelengkapan penting bagi keberanian kami tuk memulai produksi ini. (rl/gr)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *