KKP Gelar Pelatihan Penanganan Ikan di Atas Kapal dan Pelatihan Pembuatan Tuna Roll

oleh -81 views
Latih Masyarakat Jaga Mutu Dan Olah Hasil Perikanan

JAKARTA – Sebagai upaya meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar pelatihan penanganan ikan di atas kapal dan pelatihan pembuatan tuna roll. Kedua pelatihan yang digelar Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP) melalui Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Bitung ini diinisiasi oleh Anggota Komisi IV DPR RI, Andi Akmal Pasluddin.

Pelatihan penanganan ikan di atas kapal diselenggarakan dua hari hingga, Jumat-Sabtu (16-17/10/2020) dan diikuti oleh 75 nelayan Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Mengusung konsep semi blended, nelayan diberikan materi secara online dan mempraktikkan di lapangan dengan pendampingan penyuluh. Sementara pelatihan tuna roll digelar secara daring pada Jumat (16/10/2020) dan diikuti oleh 2. 617 peserta dari 34 provisi di Indonesia.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja mengatakan, sumber daya laut yang melimpah dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan sekaligus sumber pencaharian masyarakat. Salah satu yang paling dominan adalah ikan. Namun, ikan sebagai produk hasil tangkapan sangat rentan mengalami penurunan mutu. Untuk itu, diperlukan pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk mempertahankan kualitas ikan hasil tangkapan.

Sjarief menyebut, baik buruknya penanganan ikan di kapal akan berpengaruh langsung terhadap mutu ikan yang akan dijadikan bahan makanan atau bahan mentah untuk diolah lebih lanjut.

BACA JUGA BOS:   Sembilan PTN Peroleh Anugerah Keterbukaan Informasi Publik 2020 Kategori Informatif

Selain itu, menurut Sjarief pengolahan ikan hasil tangkapan ini dapat berpotensi menjadi pendapatan tambahan bagi keluarga. Ikan ini dapat diolah menjadi camilan atau aneka penganan sehat.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Puslatluh KP, Lilly Aprilya Pregiwati mengatakan, pelatihan penanganan ikan di atas kapal ini dibutuhkan nelayan untuk mempertahankan kesegaran ikan. Pasalnya, ikan yang masih segar memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi. “Kalau penanganan di atas kapal sampai salah atau terlambat, kualitas ikan akan menurun dan otomatis harganya juga akan turun. Bahkan bisa juga tidak berharga sama sekali dan akhirnya dibuang. Bapak seharian di laut bahkan sampai berminggu-minggu akhirnya sia-sia atau malah merugi,” jelas Lilly.

Tingginya nilai jual ikan segar juga terlihat dari tren tingginya harga makanan bebahan ikan segar mentah. Lilly mengatakan, tak sedikit orang rela merogoh kocek lebih dalam demi bisa menikmati ikan tuna segar mentah dalam olahan sashimi.

Tuna sendiri merupakan makanan dengan indeks glikemik rendah dan sumber selenium yang sangat baik. Ikan ini juga mengandung sejumlah vitamin seperti B3, niasin, B12, B6, protein, fosfor, vitamin D, dan kalium. Selain itu, tuna juga mengandung magnesium, kolin, vitamin B1 (thiamin), vitamin B2 (ribofavin), dan yodium.

BACA JUGA BOS:   TNI AL Kerahkan Kapal Perang dan Pesawat Udara Untuk Latihan di Laut Natuna Selatan

Tak hanya tuna, ikan lain seperti salmon, makerel, kakatua, dan lainnya juga memiliki nilai gizi yang tinggi sehingga dijadikan pilihan bahan olahan sashimi.

Lilly menambahkan, di samping diberikan pelatihan mempertahankan mutu dan kualitas ikan, tentunya masyarakat juga membutuhkan pelatihan pengolahan ikan hasil tangkapan. Untuk itu ia menilai pelatihan penanganan ikan di atas kapal dan pelatihan pembuatan tuna roll ini merupakan kombinasi yang sangat baik.

“Di tengah wabah Covid-19, produk olahan dari ikan bisa dikonsumsi atau bahkan dijual untuk membantu perekonomian keluarga,” ucapnya.

Lilly menjelaskan, saat ini Indonesia masih menghadapi persoalan tingginya angka stunting (hambatan pertumbuhan fisik) akibat kekurangan gizi yang sebenarnya dapat diperoleh dari ikan. Badan Kesehatan Dunia atau WHO. “WHO memberikan standar batas toleransi untuk stunting itu 10-20 persen. Ternyata angka stunting Indonesia 30 persen atau di atas rata-rata batas toleransi tersebut,” tutur Lilly.

Mengolah ikan menjadi aneka jenis penganan merupakan cara untuk meningkatkan minat masyarakat mengonsumsi ikan terutama anak-anak. “Mudah-mudahan kalau sudah diolah anak-anak jadi gemar mengonsumsi ikan dan akhirnya dapat mencegah stunting,” lanjut Lilly.

BACA JUGA BOS:   Bamsoet Ajak Mahasiswa KOSGORO Terapkan Semangat Pengabdian, Kerakyatan dan Solidaritas

Terakhir, Lilly meminta semua peserta untuk mengikuti pelatihan dengan baik dan menggali sebanyak-banyaknya informasi yang mereka butuhkan. Bahkan, Lilly mengimbau masyarakat untuk menyampaikan saran atau usulan jenis pelatihan apa lagi yang perlu digelar selanjutnya.

Sementara itu, Kepala BPPP Bitung, Ahmad Ridloudin mengatakan, pelatihan penanganan ikan di atas kapal akan dilaksanakan secara lengkap. Masyarakat akan dilatih mulai dari tahap persiapan penangkapan ikan, penanganan ikan di atas kapal, penyimpanan ikan hasil tangkapan, termasuk pemahaman mengenai keselamatan dan kesehatan kerja di atas kapal.

Adapun pelatihan pembuatan tuna roll diharapkan dapat memberikan ide diversifikasi olahan ikan baru bagi masyarakat sehingga dapat menumbuhkan para pelaku usaha tuna roll baru.

Pelatihan ini memperoleh apresiasi dari masyarakat. Nasir, nelayan Kelurahan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, menyampaikan terima kasih atas penyelenggaraan pelatihan ini. “Pelatihan ini telah menambah wawasan dan pengetahuan kami yang dapat kami terapkan dalam menjalankan usaha kami agar semakin maju ke depannya,” kata Nasir.

Begitu pula Ahmad, perwakilan masyarakat nelayan Kelurahan Lonrae, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone. Ia juga menyampaikan hal serupa dan berharap pelatihan akan digelar kembali dengan materi-materi baru yang tak kalah bermanfaat. (def)