Kiat Menulis Ala Kang Maman: Ayahanda, Saraswati, Hingga Aristoteles

oleh -193 views
Maman Suherman

JAKARTA – Selama bekerja di rumah, menulis bisa menjadi salah satu alternatif untuk tetap produktif. Namun, masih banyak yang merasa bingung ketika akan merangkai kata untuk menuangkan ide. Dalam web seminar (webinar) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), seorang pegiat literasi sekaligus penulis senior Maman Suherman menceritakan bagaimana ia terjun sebagai penulis hingga menghasilkan karya-karya hebat.

Namanya tak asing di telinga kita. Tak terhitung berapa banyak buku ditulis oleh pria yang akrab disapa Kang Maman ini. Ia hanya mengingat buku yang ditulisnya sebanyak 22 buku sejak 2014.

Kang Maman mengungkapkan salah satu motivasi terkuatnya untuk menulis adalah berkat sang ayah yang sudah mengajari membaca sejak kecil. Maman kecil sudah bisa membaca dengan lancar pada usia 3,5 tahun. Mendiang ayahnya berkata, “Kalau kamu bisa membaca, kamu pasti akan menulis. Dan setelah itu, kamu bisa hidup di mana saja, dipekerjaan apa aja.”

Untuk itu, ia memegang prinsip 5R dalam menulis. Kelima R tersebut adalah read, riset, reliable, reflection, dan (w)rite.

Menurutnya, seorang penulis wajib membaca. “Penulis itu pembaca yang baik. Tidak bisa menulis kalau tidak suka baca,” ucapnya seraya mengingat pesan mendiang ayahnya, dalam Bincang Inspirasi ASN Edisi 2, Selasa (28/4/2020).

Tulisan wajib berdasarkan data dan fakta. Demi mencari data dan fakta, tiap menulis buku, dirinya menargetkan untuk membaca 40-50 buku baru. Begitu pun dengan prinsip reliable, hasil riset membantu sebuah tulisan menjadi presisi dan dapat diandalkan.

Setelah melewati tiga prinsip sebelumnya, maka tulisan dapat menjadi reflection. Suatu tulisan, lanjutnya, harus dapat dilihat dari berbagai perspektif, sehingga dapat memperkaya pembaca. Yang kemudian tak kalah penting adalah prinsip kelima, yakni (w)rite. “Menulislah yang right, yang benar. Yang benar menurut siapa? Tanyakan hati nurani kamu,” jelas salah satu dewan juri Anugerah ASN ini.

Selain memenuhi prinsip 5R, sebelum menuangkan ide ke dalam tulisan, penulis dapat menggunakan teknik peta pikiran dengan membuat kerangka 5W1H, yakni apa, siapa, kapan, dimana, mengapa, dan bagaimana. Setelah peta pikiran tersebut selesai, maka langkah selanjutnya dapat dilakukan pemetaan dari bagian-bagian dari tubuh tulisan tersebut yang terdiri dari prolog, dialog, konflik, serta epilog.

“Saya kalau menulis, pasti seperti itu. Bikin peta pikiran pakai untuk menggambarkan ide dan mencari efek aha moment. Tidak boleh tidak ada strukturnya,” lanjutnya lagi.

Ia mengatakan, dirinya menulis jika hati suka dan mengizinkan. Dengan demikian, untaian kata dapat terproses menjadi sebuah cerita yang utuh tanpa paksaan.

“Mainkan kata-kata sampai kamu senang untuk mengolah kata-kata tersebut. Setelah masuk ke dalam hati, maka tuangkan dalam tulisan. Sesuatu yang datang dari hati, akan diterima oleh hati juga,” ujarnya.

Maman menambahkan bahwa dalam menulis, jangan terlalu berpikir besar. Ambil yang paling dekat, yang paling dikuasai, dan yang paling menyentuh hati untuk kemudian dirangkai menjadi sebuah tulisan. Sehingga, dirinya memilih untuk menulis apa yang paling diketahui, apa yang pernah dibaca, apa yang disaksikan oleh dirinya, serta dirasakan oleh inderanya sendiri.

Mengenai orisinalitas dalam tulisan, Kang Maman memiliki pandangannya tersendiri. Menurutnya, sudah tidak ada yang benar-benar asli di muka bumi ini, semua sudah pengulangan. Oleh karenanya, peran prinsip 5R memiliki peranan yang besar.

“Tinggal bagaimana kita mengemas ulang dan mempertemukan beragam pemikiran untuk menyampaikan pesan yang sebenarnya semua orang sudah tahu. Tapi karena dengan kalimat sendiri, maka orang menanggap bahwa kalimat tersebut adalah milik seseorang tersebut,” selorohnya.

Terkait dengan hal tersebut, salah satu yang membantu adalah dengan menambah perbendaharaan kata. Ia percaya bahwa semakin banyak membaca, maka perbendaharaan kata akan semakin kaya. Ia juga sangat bersyukur bahwa ada suatu buku yang dapat memperkaya perbendaharaan kata. Buku tersebut adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Kang Maman mengakui, dirinya pernah dihinggapi penyakit yang acapkali menghantui para penulis, yakni writer’s block. Salah satu novelnya yang diangkat dari skripsi semasa berkuliah Kriminologi di Universitas Indonesia baru selesai setelah mengalami perjalanan panjang selama 22 tahun.

Hal yang biasa dilakukan oleh Maman jika mengalami writer’s block adalah dengan berpindah ke tema yang lain untuk mencari suasana baru, bahkan bisa jadi tema yang sangat berbanding terbalik. Selain menantang diri sendiri dengan ‘kabur’ ke tema lain, salah satu penggagas acara Indonesia Lawak Klub ini sering meminta kepada teman-temannya untuk dapat menantang dirinya. “Kadang-kadang dari orang lain, muncul ide segar yang tidak saya pikirkan sebelumnya,” ujarnya.

Pria kelahiran Makassar 54 tahun silam ini mengatakan bahwa tugas suci dari penulis itu digambarkan oleh empat benda yang dibawa oleh Dewi Saraswati, yang merupakan dewi pengetahuan. Keempat barang tersebut adalah kitab suci, tasbih, pot air, serta alat musik wina.

Kitab suci menggambarkan bahwa tulisan harus selalu membawa kebenaran dan pengetahuan, sedangkan tasbih mencirikan bahwa tulisan harus mengandung nilai spiritualitas. Tulisan dengan kejernihan berpikir digambarkan oleh pot air dan alat musik wina menyiratkan bahwa tulisan harus memiliki nilai estetika.

Jika keempat hal itu sudah dilakukan dalam tulisan, maka gunakan Ujian Saringan Tiga Kali dari Aristoteles untuk menguji tulisan tersebut. “Apakah tulisan tersebut benar? Apakah tulisan tersebut baik? Apakah tulisan tersebut bermanfaat? Jika ya, maka sebarkan tulisan itu,” ujarnya. (humas menpanrb)