Keelokan Pantai Tablanusu dan Amay di Bumi Cendrawasih

oleh -1.239 views
Foto ilustrasi: Pantai Tablanusu, Jayapura. (ist)

Oleh.  Kirana Kejora

“INI salah satu bagian elok bumi timur Indonesia yang sering membuatku sejenak mengendap karena gunungan rindu untuk kembali bisa mendatangi…Papua…sang mutiara hitam yang begitu magis memilin ikatan romantis lalu memikat perasaan!”

Malam itu, tepat jam pukul 23.00 WIB, dari Bandara Soekarno Hatta, si elang besi membawaku terbang ke bagian timur bumi Indonesia yang menjadi energy utama semua karyaku selama ini, Papua!

Setiap menyebut namanya, ada getaran rasa yang tak bisa kutahan gelombangnya membuncah dahsyat, begitu magis kuat menyihir segala cerca pikir. Rasanya aku datang sebagai Padma Kejora, tokoh wanita yang pernah melukai tanpa sengaja dua lelaki kembar non identik, Elang Laut, si penyair nomaden dan Elang Timur, si ilmuwan sejati. Mereka tiga sosok kuat dalam novelku Elang yang ber-setting di Bumi Rinjani (Lombok) dan Bumi Cendrawasih (Papua).

Foto: latar belakang samudera . (koleksi kirana kejora)
Foto: latar belakang samudera . (koleksi kirana kejora)

Perjalanan yang melenakan selama 6 jam lebih 10 menit itu membuatku terbangun saat si elang besi mendaratkan cakar-cakarnya di landasan Bandara Sentani Papua. Jarum di jam tanganku menunjukkan angka 5.10, sementara jam di bandara, jarumnya mantap berhenti di angka 7.10. Ya, beda waktu 2 jam antara Indonesia bagian barat dan timur.

Papua dengan sekian banyak gunung dan pantai, laut yang beriringan mengapit perjalananku menjelajah Jayapura dan sekitarnya selama lima hari. Terasa berada di sebuah bumi yang sangat luas penuh hamparan laut dan rindangnya hutan tropis mengapit laju mobil Land Rover hitamyang membawa kami menuju Pantai Tablanusu yang akan ditempuh sekitar 2-3 jam dari Jayapura.

Tablanusu terletak sekitar 87 Km sebelah barat kota Jayapura, pantai ini memiliki pesona lain yang tidak dimiliki pantai-pantai lain di Jayapura. Pantai Tablanusu masuk dalam wilayah Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, terletak di dalam kawasan Kampung Wisata Tablanusu dengan luas 230,5 hektar dan dihuni sekitar 500 kepala keluarga (KK). Meskipun kampung ini kecil, namun terdapat 10 suku yang menempatinya, yaitu Suku Sumile, Danya, Suwae, Apaserai, Serantow, Wambena, Semisu, Selli, Yufuwai, dan Yakurimlen.

Laju mobil yang kencang, kadang harus pelan melewati jalanan aspal, jalan berbatu, genangan air yang katanya banyak ularnya, serta menunggu dengan sabar keluarga besar babi yang sedang menyeberang jalan. Hati-hati jika ada babi lewat, menabrak satu ekor ganti rugi besar. Biasanya dihitung berdasar jumlah puting babi itu, bayangkan jika yang mati babi betina dengan jumlah puting 12 dikalikan dendanya, 1-3 juta per puting, tergantung nego! Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung!

Pemandangan hutan hijau dan lebat dan gunung Cyloopsyang membentang serta sungai-sungai yang masih asri dan sejuk merupakan hal yang menyenangkan, membuat perjalanan semakin menantang, tidak membosankan.

Di sepanjang jalan banyak daerah pemukiman, termasuk pemukiman penduduk transmigrasi yang sudah lama tinggal di Papua. Nampak di sepanjang jalan kami temui beberapa orang penjual buah-buahan dari hasil kebun sendiri. Ada mangga, nangka, papaya, pisang, matoa, dan nanas.
Dan akhirnya, saat roda mobil sudah memasuki Desa Tablanusu kagumku teramat sangat. Meski nun jauh di pelosok timur Indonesia, Tablanusu adalah desa pantai eksotik terelok yang pernah aku temui dan kunjungi. Tanpa terasa, mobil telah diparkir dekat gapura desa. Butuh jalan kaki 100 meter lagi sebelum kami mendarat di bibir pantai kerikil itu.

Desa Tablanusu bersih, asri, sejuk, nyaman, hening, dan bening sekali aura udaranya. Desa yang sangat elok dengan rumah-rumah dari kayu berjejer di samping kiri dan kanan, berpagar kayu warna alam dengan halaman penuh bunga anggrek yang langka, warnanya putih, kelopak mungil dengan warna ungu muda di tengahnya. Tak ada sedikitpun sampah, semua terlihat begitu rapi dan bersih, menandakan alamnya benar-benar gadis perawan. Timur melepas sepatunya, memintaku mencoba sentuhan lembut batu-batu itu. Akupun segera mengikutinya, dan akhirnya kami berjalan ke arah pantai yang rindang dengan sepoi angin yang dibawa laut serta sapaan kemayu hutan nyiur di tepinya.

“Konon batu-batu tersebut sudah ada sejak nenek moyang mereka memutuskan pindah tinggal di sini. Hamparan batu koral di seluruh Tablanusu sangat menguntungkan! Kan membuat semua orang bisa menikmati pijat refleksi alami telapak kaki secara gratis di sini. Hmm, ada sebuah julukan bagi kampung Tablanusu yaitu kampung batu menangis karena bunyi gesekan batu kerikil yang terinjak oleh orang yang berjalan akan terdengar menyerupai isak tangis. Coba dengar.”

Unik, aneh tapi nyata, Tablanusu mulai dari permukaan jalanan sampai tepi pantai semuanya tertutupi oleh batuan alam berukuran kecil dan permukaannya sangat halus , biasa kita sebut batu kerikil. Tentu hal ini sangat berbeda dengan kebanyakan pantai yang umumnya berpasir.
Di Kampung Wisata Tablanusu terdapat berbagai fasilitas, seperti pemandu wisata, persewaan perahu, banana boat, restaurant dan pondok-pondok (honai) yang disewakan penduduk setempat . Di sini juga ada penginapan “Suwae Resort” dengan beberapa type kamar, mulai dari yang standart Rp. 450.000, superior Rp. 650.000, dan deluxe Rp. 650.000, atau jika ingin lebih menyatu dengan alam sekitar, kita dapat menyewa tenda dengan tarif Rp. 100.000 permalamnya.

Jejak kaki akhirnya sampai ke bibir pantai setelah sebelumnya kami sempat menikmati air kelapa muda hijau lengkap dengan buahnya seharga Rp. 10.000 per satuannya yang dijajakan seorang mace (ibu) di antara pohon kelapa yang berderet memberikan rasa teduh dan rindang saat berjalan di bawahnya. Setelah puas berfoto ria di bibir pantai kerikil dan di perahu kayu, kami duduk di sebuah honai dengan harga sewa Rp. 100.000. Mahal sih, tapi sebanding dengan yang kami dapat.

Lalu kami melanjutkan perjalanan berkeliling di bagian belakang desa hingga sampai di danau air payau di bagian belakang desa dengan nuansa hijau karena rerimbunan hutan di tepinya.

Foto: Pantai Amay (koleksi Kirana Kejora)
Foto: Pantai Amay (koleksi Kirana Kejora)

Pagi yang menyenangkan, kami disambut suara kicauan burung di tepi telaga dengan beragam jenis ikan yang dipelihara seperti mujair dan bandeng. Selesai menikmati Tablanusu, dengan menghemat waktu, akhirnya Timur mengajakku jalan ke pantai Amay, tak jauh dari Tablanusu.

Letak Pantai Amay berlawanan dengan arah menuju Pantai Tablanusu. Pantai Amay tidak dikenai biaya retribusi, hanya perlu membayar biaya parkir kendaraan, untuk roda dua dikenai tarif Rp. 10.000, sedangkan kendaraan roda empat Rp. 20.000. Dari area parkir, kami melewati jalan setapak menuju hutan kurang lebih 200 meter, dan setelah itu bertemu sebuah aliran sungai bening. Pantai benar-benar lembut pasirnya, terasa halus menyentuh telapak kaki.Sungai air tawar yang ada di sini merupakan keunikan di Pantai Amay. Nampak beberapa orang yang selesai mandi di laut bisa lanjut mandi di sungai. Jadi pulang berenang di pantai, badan sudah bersih.

Air laut yang jernih putih kebiruan, pantai berpasir putih lembut, dengan pohon-pohon rindang di sepanjang pantai, hutan kecil mengelilinginya, menentramkan jiwa-jiwa yang ingin merdeka!

Makan siang kami singgah di sebuah rumah makan orang batak, saya lupa namanya.Yang jelas ikan bakar dan ayam bakar yang kami pesan sangat lezat sekali rasanya. Ada sajian sambal terasi mentah dan lalapan mentimun, kemangi, slada, terong, begitu segar. Es Jeruk yang sangat kental rasa asam manisnya menjadi pelengkap makan siang kami.

Ternyata tak seperti yang kubayangkan, perjalanan wisata ke Papua sangatlah menyamankan dari semua sisi, tak perlu takut untuk mengunjungi. (key/gr)