Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba 2017 Diundur

  • Whatsapp
Foto: Poster Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba. (ist)

Oleh: Thompson Hs

Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba, disingkat dengan KPDT, 2017 diundur dari pelaksanaannya 26 Agustus menjadi 10 September. Surat pengunduran jadwal karnaval itu sudah dilayangkan ke Kementerian Pariwisata Republik Indonesia oleh Pemkab Toba Samosir dengan alasan waktu Festival Parahyangan yang dilaksanakan 26 Agustus 2017 juga.

Muat Lebih

Alasan itu bisa jadi sangat logis hingga memang KPDT 2017 harus diundur. Padahal saya sendiri sudah siap-siap ke Balige menyaksikan KPDT ke-2 itu setelah dianjurkan oleh Presiden Jokowi pada pelaksanaan KPDT yang pertama tahun 2016 lalu. Anjuran itu dianggap bersifat lisan. Namun kesaktiannya dapat ditangkap oleh Pemkab Toba Samosir hingga dapat menganggarkannya kemudian dalam APBD, di samping sokongan anggaran dari Kementerian Pariwisata.

KPDT 2016 lalu berlangsung dua hari, tepatnya 20-21 Agustus. Satu hari fokusnya di kota Parapat, sebagai target awal pelaksanaan karnaval. Beberapa hari sebelum survey ke Parapat tahun lalu saya dihubungi Jay Wijayanto, salah seorang dari Tim Kreatif Presiden, dengan mengatakan: Yuk bikin Karnaval di Parapat! Harianto Sinaga, kontak person di Parapat juga ternyata sudah dihubungi karena merupakan mitra Kementerian Pariwisata.
Dari Balige juga saya ingatkan satu nama, Patrick Lumbanraja, yang ikut beberapa minggu sebelumnya dalam lokakarya standarisasi festival oleh Kementerian Pariwisata. Tutorial lokakarya juga melibatkan Jay Wijayanto dan pada saat lokakarya itulah diketahui soal adanya satu acara yang akan mendatangkan kepala negara –belum jelas namanya sebagai karnaval atau apa.

Survey ke Parapat berlangsung bersama beberapa staf Kementerian Pariwisata. Saya dijemput di Siantar dan beberapa saat minum kopi di Kok Tong, warung favorit sejak zaman kolonial di bekas ibukota kabupaten Simalungun itu. Di Parapat kami langsung turun di depan pantai bebas. Camat dan sejumlah petugas kebersihan sudah membenahi ruas jalan utama, termasuk pembabatan beberapa pohon di pinggir jalan itu. Pembabatan itu mengesalkan Jay Wijayanto dan foto serta videonya ada tersimpan pada salah satu teman. Meskipun kesal sudah ada, namun satu per satu kami diperkenalkan kepada Camat Parapat, yang kebetulan sudah saya kenal. Namun oleh Jay Wijayanto seakan mau menaikkan kuping dengan mengatakan kami orang Istana. Humor dan kelucuan menjadi ciri dan cara Jay Wijayanto untuk mengoreksi sesuatu yang salah, seperti pembabatan hutan itu, meskipun itu berkali-kali dilontarkan untuk memancing korban dari salah satu kami. Namun saya merasa tak pernah akan dijadikan korban, karena kepentingan besar masih harus dilakukan untuk sebuah karnaval.

Kami mengukur jalan setelah dipastikan menginap di salah satu hotel berbintang empat di Parapat. Tentu saja akomodasi kali ini ada kaitan dengan Surat Perintah Jalan (SPJ), terutama dengan bukti adanya staf kementerian dengan tim survey. Namun kegelisahan waktu survey di Parapat adalah panjang laluan dan luas jalan untuk sebuah karnaval. Dari gerbang Terminal Sosor Saba Parapat panjang laluan itu dicoba diukur dan direka, sekaligus dengan ancang-ancang tempat panggung utama untuk presiden dan rombongan menteri serta pejabat penting. Lalu kalau ruas jalan itu digunakan selama durasi karnaval, jalan alternatif untuk kenderaan yang biasa lalu lalang untuk singgah dan ke luar Parapat, harus dialihkan dari ruas jalan proyek Toba Pulp Lestari (TPL) dekat Pondok Bulu dan tembusannya di Girsang Sipangan Bolon.

Saat survey di Parapat dari sore sampai tengah malam belum terbayangkan banyaknya orang dan kemacetan yang akan terjadi dengan sebuah karnaval. Biasanya ruas jalan utama di Kota Parapat sudah selalu macet kalau ada acara yang seperti Pesta Danau Toba terdahulu, liburan natal, dan tahun baru. Pada libur lebaran Parapat menjadi pintu kemacetan juga ke Samosir sepuluh tahun terakhir. Namun tanpa alasan kemacetan itu, lewat tengah malam Jay Wijayanto menyampaikan pelaksanaan karnaval tidak cocok di Parapat. Esok harinya kami ke Balige.

Balige Mendapat Berkah Karnaval

Akhirnya esok hari kami ke Balige. Catatan-catatan pada rapat kecil di Parapat dipertahankan hanya terkait dengan potensi kebudayaan dari beberapa sub-etnis di kawasan Danau Toba. Sejumlah nama yang akan dilibatkan juga mulai dicatat waktu survey dan rapat kecil di Parapat. Kemudian pengembangan besarnya dilakukan setelah kepastian karnaval akan berlangsung di Balige.

Di sekitar simpang itu masih tampak dengan luasan persawahan sampai ke jembatan. Dari jembatan terus lagi disusur ukuran yang mungkin menjadi patokan panjang sampai ke Soposurung. Dari Soposurung sebagai start karnaval sampai ke simpang Sibulele mencapai 3,5 KM. Menurut Jay Wijayanto itu sudah cukup untuk sebuah karnaval hingga mencapai 5 KM. Hal-hal lain berkembang dalam pembicaraan dan diskusi, termasuk kekagumannya ke balerong di Balige. Balerong yang dibangun tahun 1938 itu menjadi perhentian penting karena visualnya. Maestro ukiran balerong itu adalah Pande Mauli Siagian, sejak lama sudah dikenal dalam kalangan akademik luar seperti Claire Holt yang mencatatkan nama itu dalam buku Seni Pertunjukan Indonesia. Di kalangan orang Balige mungkin nama itu hanya masa lalu karena balerong itu secara praktis hanya pusat transaksi pada hari pekan dan ruang gelap pada malam.

Proses memastikan laluan penting dibayangkan kemudian dengan membangun panggung 6 etnik. Di titik start ditentukan panggung Batak Toba yang kebetulan secara etni dapat diwakili empat kabupaten (Tobasa, Taput, Humbahas, Samosir). 5 Panggung lainnya ditentukan sebagai titik Angkola/ Mandailing, Karo, Nias, Dairi/Pakpak, dan Simalungun. Rapat-rapat terkait pasca survey dilakukan di sebuah hotel dekat Rumah Sakit Balige sebelum mendapat rung sekretariat di Mess Pempropsu di Jalan Pelabuhan.

KPDT 2016 sudah mengarah pada suatu kepastian dengan adanya sekretariat. Materi-materi karnaval secara lokal akan menyerap setiap kabupaten dan kota di Sumatera Utara. Sedangkan materi-materi secara nasional mengundang kehadiran berbagai propinsi hingga ke Papua. Untuk melaksanakan semua progres kepanitiaan disahkan oleh kementerian. Namun untuk semua pelaksanaan teknis tidak tergantung kepada surat keputusan dari kementerian. Berbagai rancangan anggaran biaya bergulir sebagai dinamika di level pelaksanaan teknis. Dari Jakarta, Medan, Siantar, Parapat, Samosir, dan Doloksanggul diajak untuk meramai-ramaikan pelaksanaan teknis karnaval. Namun orang-orang dari Balige lebih dimungkinkan jumlahnya karena mengetahui lapangan, sisi-sisi penginapan, lubang-lubang konsumsi yang bisa dihutang, pejabat-pejabat yang sigap untuk perhelatan nasional ini. KPDT 2016 awalnya dikira seperti Pesta Danau Toba terdahulu.

Spanduk-spanduk yang memamerkan tokoh-tokoh tertentu akan semarak. Kampanye lembaga tertentu dengan mengaitkan isi dengan pembakaran hutan bisa saja dinaikkan. Namun semua itu benar-benar tidak diperbolehkan oleh Jay Wijayanto. Menjelang Karnaval 2016 tidak ada pejabat di daerah yang merasa kebal dan hebat untuk mengintervensi pelaksanaan teknis. Malahan harus lebih mendukung dan memperhatikan kebutuhan di sekretariat kalau tidak selalu ditegur. Karnaval 2016 benar-benar terkait dengan kordinasi beberapa menteri dan dinas-dinas penting di bawahnya, termasuk kepolisian dan Paspampres.

Rapat-rapat di kantor pemerintahan juga dilaksanakan untuk kordinasi intern pemerintahan, termasuk di Medan. Pada rapat kordinasi pelaksanaan teknis di Balige anggota DPRD Sumut juga turun dalam kaitan dukungan anggaran pada pengisi karnaval. Berbagai dinamika selama persiapan Karnaval mulai membuat dinamika baru di Kota Balige. Hotel-hotel dan penginapan mengetatkan harga. Rumah-rumah disiapkan kepada peserta yang tidak mendapatkan hotel atau penginapan lain. Di sisi lain desa dekat Soposurung seniman dan para pekerja dari luar Sumatera membuat model besar ornamen lokal untuk mobil hias presiden dan menteri. Setiap kabupaten juga berpikir dengan mobil hiasnya sambil ada yang berpikir penampilan kecil di atasnya. Empat hari menjelang karnaval para pegawai yang merasa belum berpartisipasi dan ingin terlibat sebagai karnaval, datang ke sekretariat dan bertanya apa yang harus mereka lakukan. Musim panen padi baru selesai di Tobasa. Seandainya pawai seruling tidak ada dari ratusan siswa Tobasa, maka ide meniup batang padi sebagai alat musik sangat cocok untuk para pegawai itu. Peluangnya sudah tepat karena anak-anak kecil sudah lebih tertarik dengan pawai berbaju polisi.

Satu hari sebelum karnaval, Presiden Jokowi sudah tiba di parapat. Di Parapat ada panggung terapung berbiaya 1 Milyar karena bahan-bahan utamanya diusung dari Pulau Jawa. Panggung terapung itu menjadi malam karnaval dengan berbagai penampilan berstandar, termasuk dengan kehadiran grup yang disukai presiden. Penampilan dari warna-warni lokal juga diberikan ruang dan biaya produksi sewaktu panggung terapung, selain waktu pembukaan pameran di venue lain yang melibatkan pemerintahan Propinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Simalungun. Parapat masih dalam wilayah administratif Simalungun. Sehingga pertarungan citra Karnaval 2016 seperti diperebutkan juga di sini. Kerambah-kerambah di sekitar parapat juga diproses seketika agar jangan mengganggu visual keindahan Danau Toba yang akan diliput banyak media dan fotografi para pengunjung. Gumpalan awan gelap seperti tertahan di langit Parapat pada malam karnaval. Semoga awan gelap itu mengandung hujan dan bisa membasahi tanah kering Samosir. Begitu harapan sambil inggin mengindahkan kelangsungan malam karnaval di Parapat tanpa gangguan hujan. Itu berlangsung dengan baik, meskipun nyata-nyata di Samosir di seberang Parapat benar-benar tidak dibasahi hujan sampai akhir tahun. Di tempat-tempat lain di sekitar Danau Toba dimohonkan kedatangan hujan. Namun angin bertiup mengalihkan berkah hujan di Siantar. Malam karnaval di Parapat kurang-lebih membuat kunjungan ke Parapat menjadi sangat ramai.

Karnaval 2016 Menjadi Ikon

Masyarakat Tobasa sudah yakin dengan kedatangan Presiden Jokowi pada Karnaval 2016. Peserta dari berbagai propinsi juga sudah di sekitar Balige dua hari sebelum karnaval. Mereka dipandu sejumlah mahasiswa dari Siantar dan Laguboti. Bahkan dari berbagai sudut Kawasan Danau Toba partisipasi semakin meningkat. Para pandu kebersihan dari kalangan anak-anak juga menjadi bagian dari karnaval. Dapat diperkirakan, Karnaval 2016 menghasilkan banyak sampah, terutama sampah plastik dari stok minuman plastik yang digunakan setiap peserta, penonton, dan pengunjung. Para pandu itulah dibayangkan dapat memungut sampah-sampah yang dibuang tidak sengaja atau mengingatkan para pembuang sampahnya secara sembarang.

Di panggung start Paspamres sudah mendominasi lapangan. Beberapa pelaksana teknis juga leluasa di area panggung dan radius yang diawasi untuk keamanan presiden. Sterilisasi bersifat antisipatif, karena presiden yang satu ini terkadang tidak terduga protokoler kalau sudah berinteraksi dengan publik. Para peserta yang mendapat kesempatan tampil di hadapan presiden juga mempunyai alasan mudah kalau hilir mudik di area steril itu. Warna ulos mendominasi penglihatan pada Karnaval 2016. Berbagai media visual dan audio juga sibuk dengan siaran langsung, terutama pada detik-detik kedatangan presiden, dengan mewawancarai narasumber yang mengetahui situasi dan materi karnaval. Lagu Indonesia Raya mengawali formalitas karnaval setelah penyambutan dan iringan sejumlah pesilat dan pejabat daerah mengawal presiden dan rombongan ke tribun khusus dekat panggung utama. Horas, Mejuah-juah, Njuah-juah!

Presiden sudah datang untuk Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba. Kami mengira kehadiran presiden dalam karnaval merupakan bukti Danau Toba akan dikembangkan secara serius sebagai salah satu dari sepuluh destinasi utama di Indonesia. Namun lebih dari itu seperti membayar hutang atas kemenangan beliau dalam Pilpres dengan dukungan besar dari orang-orang Batak. Sebelum malam karnaval di Parapat, Presiden Jokowi juga sempat berkunjung ke Samosir dan didaulat di Huta Bolon Sidabutar Tomok setelah disambut dengan kelengkapan ulos dan salah satu tongkat tradisi. Kelengkapan ulos yang digunakan Presiden Jokowi waktu kunjungan ke Samosir kelihatan sederhana dibandingkan dengan kostum yang mengundang cibiran sewaktu di Balige. Sebelumnya model kostum untuk presiden sudah direkomendasikan dari Tapanuli Utara kepada desainer yang menangani hal itu dari Jakarta. Ternyata kostum itu setelah diusut seusai karnaval ternyata dikerjakan pihak Propinsi Sumut. Ulos yang menutup bagian kepala presiden kesannya bagi sejumlah netizen membuat presiden seperti barbie. Untung presiden pada akhir karnaval mengingat salah satu bulang Tapsel yang disukainya. Bulang itu dengan segera ditemukan dan diantar ke penginapan beliau di Hotel Serenauli Balige.

Banyak hal-hal yang bisa diingat dan diceritakan dari Karnaval 2016. Ternyata malam karnaval di Parapat menyerap lebih banyak dana dibandingkan dengan pelaksanaan pawai karnaval di Balige. Berkah untuk Balige dan Tobasa juga karena kehadiran putra daerah, Jenderal Luhut B. Panjaitan mendampingi kedatangan presiden. Kami mengira selain jalan utama di Parapat kurang begitu luas untuk menampung 6.000-an manusia, putra-putra daerah dari Balige dan Tobasa memberikan pengaruh luas untuk pelaksanaan Karnaval 2016. Presiden Jokowi juga menganjurkan pelaksanaan karnaval dapat dilanjutkan ke depan sewaktu berpidato di panggung utama. Sambutan baik dengan gemuruh membuat kota Balige semakin bergema. Karnaval itu menjadi trending topic banyak media selama seminggu. Kunjugan ke Balige saat itu berduyun-duyun. Orang-orang dari kota lain berdatangan sambil membawakan ulos. Orang-orang dari berbagai dusun pun ada yang lupa membawa ulos karena ingin melihat langsung Presiden Jokowi. Produksi ulos juga meningkat dan dibagi-bagikan sebagai bukti kedatangan presiden. Kenangan terhadap Karnaval 2016 kembali menjadi dominan ketika Karnaval 2017 dinanti-nanti; diundurkan atau memang tidak akan terjadi lagi. Bagaimana ini, Mas Jay?

Medan, 22 Agustus 2017

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *