Karnaval Dengan Warna Lokal

Foto ilusttrasi: Karnaval Kemerdekaan di Danau Toba. (ist)

Oleh: Thompson Hs

UNTUK  kedua kalinya saya terlibat dalam perhelatan bersifat nasional atau internasional di Kawasan Danau Toba. Pertama pada tahun 2013 dengan mata acara dan konsep baru Festival Danau Toba. Saya diajak Rizaldi Siagian mulai dari persiapan sampai acara itu selesai. Dalam Festival Danau Toba 2013 lalu ada juga acara karnaval pada hari kedua setelah dibuka di open stage Tuktuk Samosir oleh pejabat pusat, tepatnya salah satu menteri. Para pejabat dari pusat dan propinsi menjadi tamu vvip yang disambut secara khusus dari Parapat menjelang pembukaan. Saya juga diberi tanggungjawab mengawal mereka sejak menaiki dan turun kapal. Sehari sebelum persiapan kerja saya menyerupai intel; ke sana ke mari tanya informasi, termasuk pada kepolisian dan humas pemerintah. Mengawal pejabat pusat dan propinsi tidak seperti mengawal tamu asing yang ikut juga di kapal vvip. Tanpa kita kawal juga mereka sudah punya pengawal dari partai masing-masing. Tapi protokoler pemerintahan tetap harus jalan sebagai sesuatu yang normatif. Di luar itu ada urusan masing-masing terhadap sosok yang sedang dikawal dan ditunggu untuk sebuah acara.

Bacaan Lainnya
Foto ilusttrasi: Karnaval Kemerdekaan di Danau Toba. (ist)
Foto ilusttrasi: Karnaval Kemerdekaan di Danau Toba. (ist)

Karnaval di Festival Danau Toba 2013 mengusung tema sigalegale. Sebagai tema dan warna lokal tentu saja peserta karnaval dari luar samosir dan propinsi lain membawa ciri khas daerahnya. Sigalegale merupakan artefak lokal yang masih muda ditemukan di Samosir, terutama di Kecamatan Simanindo. Ikon Festival Danau Toba 2013 lalu juga dengan patung sigalegale tertinggi (12 meter) dan dibuat dan diletakkan secara terapung di atas danau Toba. Para pembuat patung sigalegale tertinggi itu didatangkan secara khusus karena ide setinggi itu belum dapat dipahami para tukang lokal. Sehari sebelum pembukaan, patung di atas danau itu dilaunching dengan acara warna lokal. Panuturi (sang bijak dalam setiap upacara) memercikkan air suci ke sekitar tanpa melakukan ke patung sigalegale yang sudah selesai itu.

Lantas saya bertanya dengan berani kenapa sigalegale itu tidak diperciki air suci. Jawaban panuturi tidak bisa karena kita tidak menyembah patung. Namun saya tetap meminta, setidaknya arti dan makna percikan ke patung sigalegale dan sekitarnya dimaksudkan sebagai percikan kepada para pekerja atau pembuatnya. Kemudian sang bijak langsung melakukannya tanpa rasa keberatan.

Waktu karnaval sigalegale patung besar itu sudah ikut bergeser area danau yang bisa dipandang dari titik finish karnaval sigalegale. Setiap pagi dimulai acara patung sigalegale itu tidak luput dari tatapan untuk dipotret. Bahkan sampai beberapa hari seusai Festival Danau Toba 2013 patung itu seperti masih meramaikan ruas jalan di sekitar Tuktuk, karena penduduk dan pengunjung masih membicarakannya. Patung-patung sigalegale yang dibuat di Medan dengan modifikasinya diserahkan kepada Samosir, entah itu untuk pemerintah, komunitas, atau pribadi. Orang Medan tidak mungkin membawa itu pulang karena selain gampang rusak semuanya sudah dibayar panitia pusat. Kementerian Pariwisata, Ekonomi, dan Kreatif (Kemenparekraf) mencoba menyupport dana selain konsep baru perhelatan terkait Danau Toba. Tentu saja tuan rumah dengan anggaran untuk perhelatan ini digunakan untuk perbaikan sana-sini, selain bikin kegiatan di pusat kabupaten. Konsep festival, yang ingin mengubah citra yang sebelum-sebelumnya dengan istilah pesta, boleh dikatakan sangat berhasil — meskipun hampir setiap sore selama acara selalu diguyur hujan.

Keberhasilan Festival Danau Toba 2013 secara konsep dan pelaksanaan tidak berlanjut tahun berikutnya di kabupaten lain seperti adanya. Ego sektoral per kabupaten malahan muncul. Sampai festival itu dilaksanakan di Kabupaten Karo, kesan menjauhi branding Danau Toba semakin ketara. Banyak pihak mengira pesta atau festival Danau Toba menjadi ajang para pejabat dan artis-artis terkenal. Namun saya melihat pada tahun 2013 semua materi acara menonjolkan kekayaan tradisi lokal dan berbagai daerah serta negara lain. World Music Drum seperti puncak dari kekayaan tradisi itu, selain dihadirkan di sesi workshop, tampil dengan instrumen dan pemusik lokal.

Musik pop keok atau memang seharusnya jangan lagi merajai perhelatan yang terkait Danau Toba. Itu yang saya tangkap ketika terlibat pada tahun 2013 lalu.
Tahun 2016 saya diajak Jay Wijayanto terlibat untuk Karnaval Kemerdekaan Pesona Toba. Saya juga setuju karena warna lokal dan tradisi akan diangkat sebagai materi-materi karnaval. Dari awal ke Parapat dan Balige kami fokus untuk menawarkan sejumlah keunikan lokal melalui berbagai nama tradisi.

Saya tidak mengerti kalau ada artis-artis yang bukan lokal dan bukan tradisi dihadirkan dalam acara karnaval tahun ini. Yang jelas nama besar Karnaval Kemerdekaan Pesona Toba intinya adalah karnaval dengan mengusung keunikan lokal/tradisi dan kekayaan tradisi dari propinsi lain. Mempertimbangkan tradisi dalam karnaval tahun ini membutuhkan cara yang kreatif, tidak monoton, atau hanya laku di museum. Seusai karnaval itu mungkin banyak orang membutuhkan hiburan dari para artis. Dari manapun mereka datang, semua merasa akan meramaikan Danau Toba. Namun jangan lupa, kalau tak ada aral melintang tontonlah Opera Batak di panggung terapung Parapat seusai karnaval di balige. (gr)

Medan, 10 Agustus 2016

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *