Kabut Tanah Tembakau (85)

oleh -45 views

TAMAN yang begitu indah di malam hari. Bunga-bunga berseri. Susana begitu asri. Siapapun yang datang ke taman ini pasti merasa tenteram. Sebab, taman ini cukup indah dan artistik. Lampu-lampu taman sudah menyala. Meski susana malam dan dingin, namun tidak angin yang berhembus. Taman di alam orang bunian berdeda dengan alam nyata.

Ruwondo berdiri berdiri menghadap ke lembah. Lama ia berdiri disana. Memandang kejauhan dengan sejuta harapan. Menunggu seseorang yang paling dicintai dan dinantinya.
Malam ini Ruwondo mengenakan busana santai, namun penampilan Ruwondo tetap berperkasa dan gagah. Ruwando menatap jauh ke bawah lembah sana.

Dari bawah anak tangga Rakat berjalan dengan seorang gadis berbusana indah dan angun. Keduanya berjalan beriringan. Dari atas bukit Ruwondo bisa menyaksikan siapa sosok bersama Rakat itu. Semakin dekat Rakat dengan membuat Ruwondo kian gelisah.

Tidak berapa lama muncul Rakat. Di belakangnya nampak seorang gadis berbusana indah dan terlihat angun. Dengan make-up sederhana namun terlihat cantik dengan busana bangsawan. Marlina seperti bidadari yang akan pergi ke peseta.

Di belakang Marlina berjalan kedua bibinya, yakni Bunga dan Jelita. Keduanya mengawal Marlina untuk menemui Ruwondo di puncak bukit. Perlahan mereka berjalan menaiki tangga yang tidak terlalu tinggi itu. Meski susana terbuka dan pemadangan lepas, namun rambut Marlina panjang tergerai tidak berkibar sama sekali.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (93)

Tiba di puncak, Rakat, Marlina, Bunga dan Jelita melihat Ruwondo membelakangi mereka dan menatap lembah. Mendengar langkah mendekatinya, Ruwondo langsung berbalik badan ke arah tangga naik ke pucak taman.

Mata elang Ruwondo langsung menatap Marlina. Darah Ruwondo langsung terkesiap melihat kecantikan Marlina. Saat itu juga Rakat, Jelita dan Bunga mendundukan kepalanya di hadapan Ruwondo. Jantung Ruwondo berdegup gencang. Baru sekarang Ruwondo dapat melihat langsung pujaan hatinya. Perlahan mendekat beberapa langkah. Marlina hanya menundukan kepalanya. Bukan karena takut, namun tidak ingin melihat tatapan mata Ruwondo yang dikenal kejam itu. (***)

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (95)

Pondok Melati,

Regardo Sipiroko

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com