Kabut Tanah Tembakau (84)

oleh -499 views

SELEPAS diperiksa di kantor polisi, Hamzah dan Ayub Badrin meluncur ke Restoran Garuda yang menyajikan masakan khas Melayu-Minang di Glugur. Setelah semua menu terhidang, Hamzah hanya memelototi saja. Selara makannya hilang. Sementara Ayub Badrin begitu lahapnya makan. Melihat Hamzah tidak makan, Ayub berhenti menyuap nasi.

“Kenapa tak makan kau?” tanya Ayub?
“Tak berselera awak makan bang,” kata Hamzah.

Ayub Badrin tertawa terbahak-bahak sampai rambutnya yang keriting yang sudah ubanan itu jadi bergoyang-goyang. Ia merasa lucu melihat Hamzah yang tak lapar, biasanya ia makan paling lahap. Hamzah jadi binggung melihat Ayub tertawa.

“Aku tahu kenapa selera makan kau hilang?” ledek Ayub Badrin.
“Tahu apa bang?” tanya Hamzah.
“Bukan diperiksa polisi membuat kau hilang selera kan?” tebak Ayub Badrin.
“Maksud bang Ayub apa?” tanya penuh selidik.
“Teman wanitamu yang hilang ini membuat kau hilang selera makan,” tebak Ayub Badrin.
“Ah, tidak kok bang!”
“Jangan lah kau bohongin dirimu sendiri,” ucap Ayub Badrin sambil tertawa kecil.
“Orang yang jatuh cinta memang kadang tak bisa mengendalikan perasaanya. Sudalah jangan banyak cakap lagi. Akui sajalah!” goda Ayub Badrin.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (95)

Wajah Hamzah merah padam. Hamzah pun menjadi bertanya kepada dirinya, benarkah ia sudah jatuh cinta dengan Marlina. Hamzah bertanya pada dirinya sendiri. Hamzah tersenyum tipis, ia meyakini bahwa dirinya belum ada apa-apa dengan Marlina.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (93)

“Ai mak! Ketawa pula kau! Betul yang kubilang itu kan?!” kata Ayub Badrin sambil meraih gulai kepala ikan kakap.

Hamzah mulai meraih lauk ayam pop dan menyirami nasinya dengan kuah cicang daging.

“Teringat abang. Cewek kau itu. Dia mempunyai sesuatu di dalam dirinya. Abang tidak tahu apa, tapi kayak-kayaknya, seperti ada yang makhluk yang mengikutinya,” kata Ayub Badrin.

Hamzah langsung berhenti menyuap nasinya. Bulu kuduk Hamzah langsung bergidik. Ternyata tidak hanya Hamzah merasakan kekuatan magis di dalam diri Marlina. Ayub Bandrin meski selintas melihat Marlina ketika acara Pak Pung Medan, di Taman Budaya Sumatera Utara, namun dapat marasakan kekuatan magis itu.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (94)

“Ah! Jangan banyak kali kau termenong! Apapun ceritanya, kau harus bisa mendapatkan keberadaanya,” kata Ayub Badrin meyakini.

Hamzah mengangguk. Perlahan tangannya mulai menyuap nasi ke dalam mulutnya. Meski tidak terlalu lahap, namun habis juga nasi satu piring. (***)

Pondok Melati,

Regardo Sipiroko

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com