Kabut Tanah Tembakau (78)

oleh -712 views

DEWI Mutiara kian penasaran dengan cerita Mardali Herry tentang Sarni. Bagi Dewi Mutiara mengapa harus lari sampai ke Suriname, bukankah sembunyi di Tanjung Balai sulit ditemukan opsir Belanda.

Sarni sempat masuk koran. Inilah pangkal permasalahannya. Sarni dimuat beberapa kali media De Deli Courant. Surat kabar bahasa Belanda pertama di Kota Medan yang didirikan oleh warga negara Belanda, bernama Jacques Deen, pada tanggal 18 Maret 1885.

Berita tewasnya Mandor Belanda ditangan nenek Sarni menjadi berita terpanas sepanjang tahun itu. Banyak masyarakat ingin bertemu Sarni. Para pribumi kagum dan bangga. Tapi, berita itu membuat nenek Sarni ketakutan. Kalau Sarni ditangkap dan dieksekusi Belanda siapa yang akan membesarkan Lukman Herry yang ketika itu usianya masih enam bulan.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (93)

“Itulah alasan mengapa nenek Sarni meninggalkan Tanjung Bali, Asahan?” kata Mardali Herry sambil menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.
“Marlina menghilang sudah tiga bulan. Saya takut Marlina hilang seperti kakek Handoyo!” kata Dewi Mutiara cemas sambil memperhatikan foto Sarni yang sudah lusuh.
“Saya yakin Marlina selamat,” kata Mardali Herry.
“Roy dan Anton belum mendapatkan hasil apa-apa!” ucap Dewi Mutiara.
“Tapi, mengapa Marlina ke Medan? Marlina tidak mungkin tahu kisah tentang nenek Sarni. ” ucap Mardali Herry.
“Kisah nenek Sarni kan pernah papa ceritakan kepada Marlina,” sambar Dewi Mutiara.
“Iya kah? Papa lupa!”
“Saya ingin ke Medan, pa!
“Jangan Ma! Nanti bisa tercium wartawan!” bujuk Mardali Herry.
“Sampai kapan kita harus menunggu?”
“Sebentar, papa mau telpon Anton!” jawab Mardali Herry.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (94)

Lalu Mardali Harry mengambil selulurnya dan menghubungi Anton. Tak berapa lama telpon diangkat.

“Bagimana Ton?”
“Sudah ada titik terang pak!” Jawab Anton.
“Maksudmu?”
“Dari CCTV di Bandara Kuala Namu, terekam seorang pria yang menjemput Marlina. Belum jelas siapa pria itu. Saya terus melacaknya pak,” kata Anton.

Mardali Herry menarik nafas lega. Dewi Mutiara mendengarkan percakapan suaminya denga setuja ingin tahu, harapan dan kecemasana bercampur aduk.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (95)

“Oke! Lacak terus! Roy masih di Medan?”
“Masih pak! Cuma hari Minggu saja Mas Roy ke Medan!
“Oke baik! Baik,” kata Mardali Herry sambil menutup seluluernya.

Mardali Herry tersenyum tipis, Dewi Mutiara semakin penasaran.

“Sudah ada titik terang. Rekaman CCTV orang yang menjemput Marlina di Bandara Kuala Namu sudah didapatkan,” kata Mardali Herry.

Dewi Mutiara tersenyum. Air mukanya lebih segar. Semangatnya kembali menyala-nyala, seakan besok Marlina bisa ditemukan. (***)

Pondok Melati,

Regardo Sipiroko

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com