Kabut Tanah Tembakau (74)

oleh -868 views

MARLINA masih tidak mengerti bagimana dirinya dari negeri asing yang berbeda alam bisa menyelamatkan kakek bunyutnya. Apakah Harum Cempaka, Bunga dan Jelita tidak bisa menyelamatkan kakek bunyut yang sama-sama satu alam. Marlina menjadi lemas. Meski tidak gemetar namun tangannya mulai dingin.

Ia merasa tidak akan mampu menerima beban yang begitu berat. Bayangan Marlina dirinya harus bertempur di medan perang agar bisa menyelamatkan kakek buyutnya. Jadi jagoan seperti cerita dalam film klasik. Marlina kian takut. Tidak ingin mati di negeri orang bunian mansusia di alam nyata banyak yang tidak percaya.

Harum Cempaka memperhatikan wajah Marlina yang pucat pasi. Muncul rasa kasihan melihat wajah Marlina yang begitu cemas. Harum Cempaka mendekati Marlina dan duduk di sebelahnya sambil memegang tagan halusnya. Harum Cempaka bisa membaca pikiran Marlina, sehingga ia perlu menenangkan hatinya.

“Marlina jangan khawatir, kamu tidak perlu bertempur di medan laga untuk menyelamatkan kakek buyutmu. Tapi cukup…” kata Harum Cempaka dengan ragu untuk meneruskan ucapannya. Marlina semakin kian penasaran.
“Cukup…? Bagimana maksudnya, saya tidak paham!” sambar Marlina.
“Cukup, Marlina menerima pangeran Ruwondo menjadi suamimu,” ucap Harum Cempaka pelan.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (95)

Seketika mata Marlina terbelalak. Jantungnya berdebar gencang. Keringat dingin keluar dari pelipisnnya. Tangan Marlina jadi kaku dan tidak bisa digerakkan. Marlina mencoba mengguatkan hatinya.

“Saya tidak bisa…! tegas Marlina.

Kini Harum Cempaka, Bunga dan Jelita yang menjadi panik.

“Kalau tidak, kakek bunyut akan membusuk di penjara,” kata Bunga.
“Terimalah Marlina. Kelak, kamu akan jadi permaisuri di negeri ini,” tegas Jelita.
“Coba kamu pertimbangkan, Marlina! Untuk memutuskannya, tidak perlu buru-buru,” kata Harum Cempaka dengan lembut.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (94)

Marlina ingin menangis, namun ia harus tegar dan kuat. Tidak cengeng, harus bisa mengendalikan diri. Bukankah ini masih rencana, yang penting kakek buyutku selamat, pikir Marlina. (***)

Pondok Melati,

Regardo Sipiroko

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com