Kabut Tanah Tembakau (73)

oleh -58 views

MARLINA memandang jauh keluar dari jendela rumah. Pikiranya untuk segera pulang ke alam nyata sudah tak mengganggunya lagi. Sejak bertemu dengan Harum Cempaka Marlina merasa nyaman tinggal di alam orang bunian. Padahal beberapa menit yang lalu, keinginan Marlina untuk kembali ke alam nyata begitu kuat.

Harum Cempakah begitu memanjakan Marlina. Begitu juga Bunga dan Jelita. Marlina begitu cepat beradaptasi dengan dunia barunya. Selain itu, Marilina sangat di terima dalam keluarga Harum Cempaka seperti seorang putri. Marlina juga tidak berharap segera kembali ke alam nyata.

Marlina masih penasaran, mengapa Harum Cemapaka mengaku sebagai buyutnya dan Bunga dan Jelita sebaga neneknya. Padahal jarak usia Marlina dengan Bunga dan Jelita tidaklah terpaut jauh. Kalau dilihat secara pisik, Bunda dan Jelita sebaya Marlina.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (95)

“Mengapa saya di bawa ke rumah ini?” kata Marlina kepada Harum Cempaka sambil berbalik badan dan duduk di kursi tamu yang empuk.

Harum Cempaka membuka laci lemari yang ada di pojok ruangan. Mengeluarkan sebuah lukisan yang tidak terlalu besar, namun dilukis secara realis, apik dan artistik. Ketika Marlina menyeruput teh panas, Harum Cempaka memberikan lukisan yang tidak terlalu besar itu.

“Bagus banget! Ini yang lukis siapa? Kalau di tempat kami, lukisannya ini mirip karya pelukis Basuki Abdullah. Cuma dalam lukisan ini seorang pria,” kata Marlina.
“Coba kau simak bener-bener lukisan itu,” saran Bunga.
“Ya. Perhatikan lebih serius,” sambung Jelita.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (94)

Marlina memperhatikan potret sosok seorang pria berdiri, terlihat hampir seluruhnya, menatap lurus ke depannya. Tangan kirinya ada di jubah hitamnya, yang menyelimuti sosok itu. Dia memakai kerah besar, halus, pas dengan dengan badannya. Pria dilukisan memiliki sedikit kumis, sebagian dicukur, dan memiliki mata gelap. Alis matanya tebal. Cahaya jatuh dari kiri di sisi kanan wajah dan kerah. Latar belakang lukisan diterangi ke kiri.

“Itu kakak buyutmu, Handoyo” kata Harum Cempaka.
“Sudah meninggalkah?” tanya Marlina penasaran.
“Marlina karena dia kamu ke sini,” ucap Bunga.
“Saya tidak paham,” ucap Marlina.
“Kakek buyutmu kini di penjara,” sambar Jelita.
“Hanya kau, yang bisa membebaskannya dari penjara,” kata Harum Cempaka.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (94)

Marlina bingung dan memandang Harum Cempaka kemudian ke wajah Bunga dan terakhir Jelita. Marlina berharap ketiganya bercerita mengapa kakek buyutnya dipenjara. Mengapa pula Marlina yang bisa menyelamatkannya. (***)

Pondok Melati

Regardo Sipiroko

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com