Kabut Tanah Tembakau (70)

oleh -91 views

MARLINA belum mengetahui siapa sebenarnya ketiga wanita yang kini dihadapainya. Mau apa mereka dengan dirinya. Marlina mencoba menyelidiki siapa ketiga perempuan ini. Apakah mereka akan melampiaskan balas dendam kepada dirinya atas kesalahan leluhurnya? Kalau memang demikian, itu tidak adil ada namanya. Berkonflik dengan leluhur mengapa buyutnya menjadi korban.

“Marlina, mau minum apa?” kata Harum Cempaka.

Marlina diam saja. Sebab, dia tidak tahu minuman model apa yang ada di alam orang bunian ini. Bagiamana rasanya dia juga belum tahu. Melihat Marlina tidak nyaman, Harum Cempaka mengajaknya duduk di sofa. Biar lebih rileks. Lalu meminta pelayan untuk memberikannya minuman.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (95)

Tidak berapa lama pelayan muncul dengan segelas minuman segar. Marlina mengambilnya minuman, namun belum berani meminumnya. Jelita memeprhatikannya.

“Ayo diminum, Marlina,” kata Jelita.

Marlina masih terdiam. Dia mencoba mencium minuman seperti jus mangga tersebut. Lalu secara perlahan Marlina meminum minuman yang disuguhkan pelayan tadi.

“Kedua wanita ini anak saya. Ya mereka nenekmu!” kata Harum Cempaka memperkenalkan dirinya.

Marlina kaget bukan mian. Jadi selama ini, Bunga dan Jelita yang selalu hadir dalam mimpi dan membayanginya punya tujuan tertentu. Marlina mencoba tegar. Sebab, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya dalam waktu dekat ini. Mau berbalik ke alam nyata, tidak mungkin, ia belum menemukan jalan untuk pulang.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (94)

“Saya tidak paham dengan nenek katakan,” Marlina tegas.

Harum Cempaka berjalan ke arah jendela dan memandang ke luar. Jelita dan Bunga masih duduk dekat Marlina.

“Wajahmu, mirip sekali dengan buyutmu!” kata Harum Cempaka.
“Saya tidak mengerti dengan kejadian semua ini?” ucap Marlina.
“Kakek buyutmu, kini dalam tahanan!” sambar Harum Cempaka.
“Saya tidak mengerti dengan semua ini,” tegas Marlina.
“Hanya kamu yang bisa membebaskannya,” ujar perempuan berambut perak sambil membalikkan tubuhnya ke arah Marlina.
“Maksudnya? Saya tidak mengerti Nek!” tanya Marlina.
“Kamu sudah lama ditunggu Pangeran di ngeri ini,” kata Harum Cempaka.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (93)

Marlina semakin bingung dengan perkataan Harum Cempaka. Mengapa dirinya sendiri yang bisa membebaskan kakek buyutnya. (***)

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com