Kabut Tanah Tembakau (69)

oleh -1.131 views

MARLINA masih tidak paham siapa yang memeluknya. Mengapa sosok wanita berambut perak ini begitu rindu dengan dirinya. Marlina ingin berbicara, namun mulutnya sulit untuk bisa mengeluarkan kata. Marlina ingin berontak, tapi ia tak punya tenaga untuk itu. Marlina berharap segera bisa bertemu jalan kembali ke bangsal tembakau.

“Aku adalah nenek buyutmu…,” kata Harum Cempaka.

Marlina terbelalak. Dia semakin tidak mengerti. “Tidak mungkin! Nenek buyutku sudah wafat! Siapa mereka ini sebenarnya,” kata Marlina membatin.

Harum Cempaka tertawa kecil, ia paham atas kebingungan Marlina. Perlahan Harum Cempaka memegang tangan Marlina dan menggiringnya naik ke atas rumah. Tangan Harum Cempaka terasa dingin.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (94)

“Lebih baik kita bicara di dalam,” kata Harum Cempaka.

Marlina tidak menolak apa lagi berontak. Yang membuat hati Marlina lega, orang-orang di negeri asing ini semua baik dan manaruh rasa hormat kepada dirinya. Bunga dan Jelita mengikuti dari belakang. Sebelum masuk ke dalam rumah, Harum Cempaka melirik ke kiri dan kanan memastikan tidak ada yang memata-mati mereka.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (95)

Gerak-gerik perempuan berambut perak ini ketika masuk ke dalam membikin Marlina kecut. Sebab, takut jika dirinya jadi masalah bagi orang-orang yang baru dikenalnya. “Mengapa orang-orang ini begitu was-was ketika masuk ke rumah,” kata Marlina membatin.

Marlina memperhatikan seluruh penjuru ruangan. Ia sudah biasa masuk ke rumah mewah atau super mewah sekali pun, baik di dalam negeri maupun luar negeri, namun belum pernah melihat rumah seartistik rumah Harum Cempaka. Tidak ada kesan modern, namun tertata degan baik. Seakan pemilik rumah memiliki ilmu tentang menata rumah.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (93)

Semua perabotanya indah dan berkualitas namun sangat berbeda dengan alam nyata.

“Ini rumahmu Marlina. Tinggal lah bersama kami di sini,” ucap Harum Cempaka dengan ramah.

“Maaf! Rumah saya di Jakarta,” kata Marlina pelan.

Ketiga perempuan itu tersenyum dan memahami kepanikan yang dialami Marlina. (***)

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com