Kabut Tanah Tembakau (68)

oleh -1.012 views

DARI atas bukit terlihat sebuah desa di lembah. Udara dingin dan lembab. Bangunan rumah penduduknya terlihat berbedah dengan bangunan alam nyata. Atap rumah terbuat dari daun pepohonan. Berdinding papan. Mirip rumah Melayu. Meski sama-sama rumah panggung, namun ornamen dan waranya yang berbeda. Warna rumah penduduk lebih didominasi warna kehitaman.

Perkampungan sepi ketika Marlina, Bunga dan Jelita sampai. Tidak jauh dari jalan besar, terdapat sebuha rumah yang cukup artistik dan memiliki pekarangan yang cukup luas dan dihiasai berbagai kembang berbagai warna.

Dua pria yang sedang merapikan kembang dan membersihkan pekarangan langsung berhenti bekerja. Menundukkan kepalanya ketika Marlina, Jelita dan Bunga tiba di depan rumah yang cukup artistik itu. Marlina semakin terheran-heran diperlakukan seperti tamu agung. Sebab, Marlina paling anti dengan feodalisme. Tapi, dirinya belum berani untuk berkata-kata. Marlina tidak paham di negeri mana ia kini berada.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (93)

Dari balik semak-semak, di samping rumah, dengan bersembunyi dan mengendap-ngedap sepasang mata memperhatikan gerak-gerik Marlina. Pria pengintai itu adalah Rakat. Dia mata-mata pangeran negeri orang bunian dimana kini ia berada. Tak sedikit pun mata Rakat berkedip. Saat inilah Rakat baru jelas melihat sosok Marlina. Wanita jelita dengan busana dari alam nyata, berkaos oblong, bercelana jins dan sepatu kets. Rakat harus cepat melaporkan kepada sang pangeran sebelum keberadaanya diketahui.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (94)

Ketika Rakat bergerak, ekor mata Jelita dan Bunga sempat melihatnya sekelebat. Ketika Bunga hedak bertindak, Jelita menari tangannya. Dengan menggelangkan kepala, memberikan isyarat kepada Bunga agar membiar Rakat pergi.

Tidak berapa lama seorang wanita setengah baya keluar dari rumah. Rambutnya sudah beruban, namun masih cantik dan angun. Busana yang dikenakannya mirip dengan busana Bunga dan Jelita. Tapi lebih mewah ditanda dengan aksesoris di bajunya.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (93)

Tanpa basa-basi wanita berambut perak itu, mendekati Marlina dan memeluknya erta-erat. Marlina nyaris susah bernafas. Wanita berambut perak itu lama memeluk Marlina. Menumpahkan rasa rindunya yang sudah ratusan tahun tidak bertemu. Marlina hanya pasrah dalam kebingungannya. (***)

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com