Kabut Tanah Tembakau (67)

oleh -129 views

KETIKA Marlina berpaling ke belakang, bekas bangsal tembakau tua dan hamparan perkebunan tebu di Saentis, Percut Sei Tuan, sudah lenyap dari pandangan. Yang tersisa hanya putaran cahaya berwarna biru, kemudian mengecil sampai akhirnya menjadi sebuah titik dan lenyap.

Marlina bagikan meluncur lewat lorong waktu. Perjalanan sekali pergi dan tak bisa kembali lagi. Kondisi ini membuat Marlina gugup. Kecut dan gemetar. Bagaimana dirinya bisa bertahan di alam yang dia tak kenali. Tangan dan kakinya dingin. Jaringan syarafnya jadi lumpuh. Darahnya seperti beku dan tak mengalir ke otaknya.

Wanita cantik yang bersama Bunga adalah Jelita. Sosok wanita jelita yang pernah menyambut Marlina ketika masih di pesawat sebelum turun dari Bandara Kuala Namu.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (93)

“Marlina…! kemarilah…” kata Jelita dengan ramah serta diiringi senyuman.
“Jangan takut! Kau aman di sini. Kami sudah lama menunggu…” ucap Bunga.

Wajah Marlina kecut. Sudah mati kah aku, tanya Marlina membatin. Marlina merasa ruhnya sudah terbang dari jasadnya. Terbang dan tak pernah kembali lagi. Marlina ingin menangis. Lalu mencubit lengannya sendiri. Ternyata terasa sakit.

Melihat sikap Marlina yang mencubit lengannya membuat Bunga dan Jelita tertawa. Lalu Jelita dan Marlina mencubit lengan kanan dan lengan kirinya. Marlina merasakan sakit.

“Aduh..!” jerit Marlina kesakitan. Jelita dan Bunga semakin tertawa lepas. Lalu keduanya mengawal Marlina dengan berjalan di sisi kanan-kirinya. Marlina bukan tawanan bagi Jelita dan Bunga. Dikawal agar Marlina tenang dan tidak panik. Siapa yang tidak panik memasuki alam paralel yang begitu berbeda dengan alam nyata.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (95)

“Kamu tidak bermimpi Marlina!” kata Jelita.
“Jangan takut kepada kami Marlina… Kami akan membawamu kepada orang sudah lama merindukanmu,” sambar Bunga.

Bagi Marlina alam paralel begitu indah. Sukar baginya memandingkannya alam nyata. Saat berjalan Marlina hamparan pematang sawah yang kebiru-biruan dan megah. Dinginnya kabut dan segarnya embun membuat pemandangan begitu mempesona. Susana terasa damai. Awan jingga memayungi hutan lebat di pebukitan yang kemerahan.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (94)

Meski alam terbuka, tak selembar pun rambut Marlina berkibar. Berbeda sekali ketika tadi di bekas bangsal tembakau, rambutnya ditiup angin berkibar-kibar. Marlina merasa aneh. Tubuhnya terasa ringan. Tanpa gravitasi. Tak ada daya tarik bumi. Ia tak perlu tenaga untuk berjalan secepat apapun. Ia barat gabus yang mengapung di air. Terombang ambing.

“Mau dibawa kemana aku,” kata Marlina sambil berjalan mengikuti Jelita dan Bunga yang sudah mulai mempercepat langkahnya. (***)

Pondok Melati

Regardo Sipiroko

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com