Kabut Tanah Tembakau (65)

oleh -1.264 views

KOTA Medan Mendung. Angin kencang. Jalanan Menuju ke Saentis tidak macet. Driver ojek online pelan menjalankan sepeda motornya. Dia terus memandangi wajah Marlina dari spion. Risih juga Marlina melihat sikap driver ojek online yang genit. Marlina hanya diam saja melihat kelakukan driver ojek online yang mata keranjang itu.

“Dari cakapnya, adik bukan orang Medan ya,” tanya dirver ojek online.
“Iya bang,” jawab Marlina singkat.
“Dari Jakarta ya?”
“ya,” ketus Marlina.

Mendapat jawaban ketus, tidak membuat driver ojek online sadar. Sebaliknya, ia terus berusaha mencari celah untuk ngobrol dengan Marlina. Baginya, kesempatan emas ini tak boleh disia-siakan. Untuk itu driver ojek online sengaja melintasi jalan yang berlubang. Kontan saja Marlina pegangan. Driver ojek online tersenyum. Ia merasa strateginya berhasil. Terlihat giginya nyembul.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (94)

“Gojek di Medan, aneh ya! Kalau ada lubang dimasukin ya?” kata Marlina menyidir kesal.
“Nggak! Tadi tak sengaja masuk lubang,” kata driver ojek online mulai grogi.

Driver ojek online mati kutu menghadapi Marina yang tenang, sabar namun tak merendahkan. Driver ojek online jadi malu hati. Mukanya memerah, namun masih berani menatap wajah Marlina.

Sepeda motor memasuki jalan tak beraspal menuju bekas bangsal tembakau. Meski menjelang sore, jalanan sepi. Tak ada yang melintas di jalan yang kiri-kananya telah ditanamai pohonan tebu pengganti tembakau. Sejak masa orde baru lahan tembakau tak lagi primadona. Tembakau telah digantikan oleh tanaman tebu.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (93)

Tepat di koordinat yang telah ditentukan, driver ojek online memberhentikan sepeda motornya persis di samping bangsal tembakau tua yang sudah mulai lapuk. Driver melihat sekeliling tidak menemukan perumahan penduduk. Seluas mata memandang yang terlihat hanya tanaman tebu.

Marlina memberikan ojek online uang seratus ribu rupiah. Driver ojek online menerimanya dengan wajah kecut. Wajahnya yang tadi garang kini loyo. Aroma wangi kian semerbak. Seketika matanya melotot ketika di belakang Marlina, sosok gadis jelita tersenyum padanya. Bunga tersenyum manis kepada driver ojek. Sekujur rubuhnya merinding.

Tak terasa celana ojek online basah. Langsung secepatnya memutar balik sepeda motornya dan tancap gas. Ketika melihat ke arah Marlina pppdriver ojek tak melihat siapa pun. Lalu jatuh ke rumbut di tepi jalan karena roda sepeda motornya menggilas batu koral. Mesin motor tak mati meski telah terjatuh. Dengan cepat driver ojek online bangkit lagi dan mendirikan motornya. Langsung tancap gas.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (93)

Melihat driver ojek online ketakutan seperti dikejar setan, Marina terheran-heran. Lalu ia pun tersenyum sendiri melihat tingkah driver ojek online yang sudah menghikang di tikungan jalan. (***)

Pondok Melati

Regardo Sipiroko

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com