Kabut Tanah Tembakau (64)

oleh -113 views

SOSOK Bunga dalam pandangan Marlina antara ada dan tiada. Meski keduanya duduk berdekatan sekali pun. Kadang Bunga terlihat, kadang tidak. Aroma yang begitu sejuk membuat Marlina tenang. Magis.

Marlina masih memperhatikan selulurnya. Foto dirinya bersama Hamzah beberapa waktu masih terlihat jelas dan tetap tidak bisa digesar touchscreen selulurnya.

“Kita harus kesana. Sekarang…” kata Bunga dengan lembut.

Tangan Marlina tiba-tiba bisa menggeser touchscreen selulur. Kini di layar selulernya nampak aplikasi ojek onlie. Lalu tangannya menggeser touchscreen mencari sepeda motor dan menentukan tempat dituju yakni Saentis, Percut Sei Tuan, dengan titik koordinat persis dekat bangsal tembakau.

Marlina tidak mengerti mengapa dirinya tergerak memesan ojek online. Untuk berontak dirinya tidak bisa. Ada yang menggerakan batinnya untuk melakukan sesuatu tanpa ia pikirkan sebelumnya. Inikah kekuatan Bunga yang kini duduk di sebelahnya? Marlina tidak kuasa untuk mengendalikan dirinya. Kecuali pasrah.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (94)

Tak terlalu lama muncul ojek online di halaman rumah Melayu. Setelah membuka helmnya, driver ojek online mengenalkan dirinya.

“Marlina?” tanya driver ojek online. Marlina mengangguk. “Saya Nirmansyah Daulay. Siap mengantar sampai tempat tujuan,” kata driver ojek online dengan ramah sedikit genit. Giginya yang terlihat agak maju ke depan, membuat dirinya terlihat selalu tersenyum. Driver ojek online tidak menemukan siapapun kecuali Marlina. Ini kesempatan untuk menggoda pikirnya.

Saat Marlina berjalan mendekatinya, Nirmansyah Daulay langsung mengeluarkan sisir kecil dan menyisir rambutnya yang nyaris botak itu. Mata Nirmansyah Daulay melotot dan tak berkedip menyaksikan kecantikan Marlina yang mengenakan baju kaos celana jins dan sepatu kets.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (93)

Nirmansyah Daulay menghirup aroma yang semerbak yang belum pernah dirasakannya seumur hidupnya. Setelah mengenakan helm, Marlina langsung nemplok di jok belakang. Nirmansyah langsung menggeser spion ke arah wajah Marlina. Maksudnya supaya bisa menikmati wajah Marlina saat membawa sepeda motor. Sempat Nirmansyah Daulay melihat bayangan berkelebat di spion sepeda motor.

Selama menjadi driver ojek online, belum pernah Nirmansyah Daulay membawa penumpang secantik Marlina. Selain jelita, Marlina mempunyai aroma tubuh yang sangat menggoda. Baginya, Marlina bak bidadari.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (95)

Nirmansyah Daulay agak kaget ketika hendak menjalankan sepeda motor, sebab Marlina yang tidak gemuk bahkan semampai itu seketika menjadi berat. Driver ojek online merasakan seperti membonceng dua orang.

Meski berat, namun Nirmansyah Daulay menjalan sepeda motor lancar. Ketika sudah berjalan sepeda motor begitu ringan seperti tidak ada orang yang diboncengnya. Sepanjang perjalanan berkali-kali Nirmansyah Daulay melirik ke arah spion. Dia pun tak terlalu cepat membawa sepeda motor dengan harapan bisa lama menikmati wajah Marlina. (***)

Pondok Melati

Regardo Sipiroko

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com