Kabut Tanah Tembakau (62)

oleh -1.275 views

SELEPAS makan malam dua utusan partai politik menemui Mardali Herry restoran Le Quartier. Kedua utusan partai politik membawa kabar Mardali Herry telah mendapat dukungan dari 6 partai politik. Mardali Herry bisa sebagai salah satu bakal calon dalam Pilkada DKI Jakarta. Mardali Herry telah memenuhi syarat pengajuan bakal calon dari partai yang harus memperoleh 20 persen suara pileg atau minimal didukung 22 kursi di DPRD DKI Jakarta.

“Di atas kertas, Pak Mardali Herry sudah aman untuk mencalokan,” kata utusan Partai politik yang berbaju necis.
“Tinggal mengatur maharnya saja pak,” lanjut utusan partai politik yang berjaket hitam.

Kedua utusan Partai Politik itu begitu bersemangat menyampaikan masalah dukungan. Mardali Herry senang mendengar informasi tentang pencalonannya sebagai bakal calon kandidat dalam Pilkada DKI Jakarta. Wajah Mardali Herry tenang. Dingin. Sebab, ia tahu berhadapan dengan siapa. Berusaha tidak menampakkan kegembirannya. Mardali sadar betul, tidak ada kawan dan musuh sejati, yang ada adalah kepentingan sejati. Itu permainan dalam dunia politik.

Dewi Mutiara yang duduk di samping Mardali Herry lebih banyak diam. Tidak ada reaksi apa-apa. Pikirannya hanya kepada putri semata wayangnya, Marlina. Ia lebih penting baginya Marlina segera pulang dari memikirkan Pilkada. Otak Dewi Mutiara lagi mumet. Meski begitu, Dewi Mutiara memasang wajah manis kepada utusan partai politik itu.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (94)

Setelah kedua utusan partai politik pergi. Dewi Mutiara langsung menghubungi Anton yang sedang berada di Medan. Ia semakin kesal Anton lama manjawab.

“Gimana, Ton! Sudah ketemu dengan Marlina? Gimana sih, ngurus begituan saja nggak bencus! Cek semua hotel. Kerahkan semua yang kamu bisa,” kata Dewi Mutiara kesal.
“Sudah semua dilaksanakan,” kata Anton.
“Maksimalkan semua untuk mencari Marlina,” tegas Dewi Mutiara.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (95)

Dengan isyarat Mardali Herry minta dia yang biacara. Dewi Mutiara menyerahkan selulernya kepada suaminya.

“Sudah mau empat hari, menggapa Marlina belum ditemukan jejaknya. Pokoknya, jangan sampai wartawan tahu soal hilangnya Marlina,” kata Mardali Herry menekankan.
“Ya, Pak!” kata Anton.
“Kalau genting, saya akan ke Medan,” kata Mardali Herry lalu mematikan seluler. (***)

Pondok Melati

Regardo Sipiroko

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com