Kabut Tanah Tembakau (61)

oleh -127 views

DEWI Mutiara geram dengan sikap Marlina. Putrinya sudah tiga hari tidak memberikan kabar. Selulernya tidak bisa dihubungi. Tak biasanya Marlina seperti ini. Ibu mana yang tak panik dan gelisah jika putri tak tahu rimbanya. Ketika Marlina ke Rusia, Italia, Jepang atau Spanyol, Dewi Mutiara tidak segelisah saat ini. Sebab, ada kepastian di kota mana Marlina berada dan bisa video call kapan pun.

Tapi saat ini, meski di tanah air, dan diduga di kota Medan, Dewi Mutiara begitu khawatir dengan Marlina. Kehilangan Marlina membuat Dewi Mutiara tak konsentrasi dalam bekerja. Nafsunya makannya pun menjadi hilang. Bagi Dewi Mutiara putri semata wayangnya itu adalah inspirasi baginya.

Mardali Herry merasakan perubahan pada dirinya Dewi Mutiara. Sebagai seorang suami ia juga pusing tujuh keliling dengan hilangnya Marlina. Sebagai seorang pria, Mardali Herry kelihatan lebih tenang, meski batinnya gunda-gulana.

Dewi Mutiara lebih banyak diam ketika berada di restoran Le Quartier dengan menyajikan makanan khas Perancis. Ia lebih banyak memperhatikan desain interior khas Eropa yang ada di restoran. Sesekali Dewi Mutiara melirik chandelier mini yang menggantung di atas setiap meja makan di restoran.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (94)

Hanya beberapa kali Dewi Mutiara memperhatikan hidangan yang telah tersaji yakni Striploin, Lamb Chop, dan Chocolate Souffle.

“Mari kita makan,” kata Mardali Herry.

Dewi Mutiara tidak bergeming.

“Saya ingin Marlin pulang,” katanya.
“Saya sudah minta tolong ke teman yang ada di Polda sana. Mereka terus melacak. Roy dan Anton kan juga sudah ke Medan. Kita tunggu saja kabar. Saya yakin Marlin akan pulang,” kata Mardali Herry.
“Marlin itu keterlaluan. Takut terjadi apa-apa dengannya!” kata Dewi Mutiara.
“Ah, Marlin itu pintar. Ia mampu menjaga diri. Keliling Eropa saja dia aman,” kata Mardali Herry meyakinkan.
“Tapi, saya yang cemas!” sambar Dewi Mutiara.
“Kita tunggu saja. Ayo kita makan,” ajak Mardali Herry.

BACA JUGA BOS:   Kabut Tanah Tembakau (95)

Perlahan Dewi Mutiara memotong daging steak dengan pisau lalu mengunyahnya dengan perlahan. Mardali Herry melirik istrinya, dia senang selera makan Dewi Mutiara timbul kembali. (***)

*DILARANG mengutip keseluruhan atau sebagian dari Novel Mini ini dalam cuplikan atau utuh untuk film, video, audio, tulisan atau bentuk apapun tanpa izin dari www.gapuranews.com